Cerita Sex Terbenam dalam Gua | Berani Bugil
aresizedimage.php VIMAX Bandar Q
agen bola terpercaya  judi online

Cerita Sex Terbenam dalam Gua

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Terbenam dalam Gua. Cerita tentang ibu muda yang bernama Anis yang sudah berkeluarga mempunyai anak berumur 1 tahun, tepatnya di daerah Sumatra barat, karena suaminya bekerja di kota lain terpaksa setiap minggunya Anis sering bolak balik Padang – Lubuk Sikaping.

Cerita Dewasa Terbenam dalam Gua

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan

Awal Anis mengenal Johan sejak Anis kost di rumah milik kakak perempuannya. Anis tidak begitu kenal dekat, Anis hanya menganggukkan kepala saja saat bertemu dengannya. Diapun begitu juga pada Anis. Jadi mereka belum pernah berkomunikasi langsung.

Yah, sebagai adik pemilik rumah tempat kostnya, Anis harus bisa menempatkan diri seakrab mungkin. Apalagi sifatnya yang suka menyapa dan memberi senyum pada orang yang Anis kenal. Anis tahu diri sebab Anis adalah pendatang di daerah yang cukup jauh dari kota tempat Anis bermukim.

Begitu juga dengan latar belakang Johan Anis tidak begitu tahu. Mulai dari statusnya, usianya juga pekerjaannya. Perkenalan mereka terjadi di saat Anis akan pulang ke Padang.

Saat itu hari jumat sore sekitar jam 17.30. Anis tengah menunggu bis yang akan membawanya ke Padang, maklum di depan rumah kost nya itu adalah jalan raya Lintas Sumatera, jadi bis umum yang dari Medan sering melewatinya.

Tak seperti biasanya meskipun jam telah menunjukan pukul 17.50, bis tak kunjung juga lewat. Anis jadi gelisah karena biasanya bis ke Padang amatlah banyak. Jika tidak mendapat yang langsung ke Padang, Anis transit dulu di Bukittinggi, dan naik travel dari Bukittinggi.

Kegelisahannya saat menunggu itu di lihat oleh ibu pemilik kost Anis. Ia lalu memanggil Anis dan mengatakan bahwa adiknya Johan juga mau ke Padang untuk membawa muatan yang akan di bongkar di Padang.

Dengan sedikit basa basi Anis berusaha menolak tawarannya itu, namun mengingat Anis harus pulang dan bertemu suami dan anaknya, maka tawaran itu Anis terima. Yah, lalu Anis naik truknya itu menuju Padang.

Selama perjalanan Anis berusaha untuk bersikap sopan dan akrab dengan lelaki adik pemilik kostnya itu yang akhirnya Anis ketahui bernama Johan. Usianya saat itu sekitar 45 tahun. Lalu mereka terlibat obrolan yang mulai akrab, saling bercerita mulai dari pekerjaan Anis juga pekerjaan Johan sebagai seorang sopir truk antar daerah.

Iapun bercerita tentang pengalamannya mengunjungi berbagai daerah di pulau Sumatera dan Jawa. Anis mendengarkannya dengan baik. Dia bercerita tentang suka duka sebagai sopir, juga tentang stigma orang-orang tentang sifat sopir yang sering beristri di setiap daerah.

Anispun memberikan tanggapan seadanya, dapat dimaklumi karena Anis yang di besarkan dalam keluarga pegawai negeri tidak begitu tahu kehidupan sopir.

Anispun bercerita juga tentang pekerjaannya di bidang perbankan dan suka dukanya. Iapun sempat memuji Anis yang mau di tempatkan di luar daerah, dan rela meninggalkan keluarga di kota Padang. Ya Anis tentunya memberikan alasan yang bisa diterima dan masuk akal.

Anis juga memujinya tentang ketekunannya berkerja mencari sesuap nasi dan tidak mau menggantungkan hidup kepada keluarga kakaknya yang juga termasuk berada. Iapun berkata bahwa truk yang ia sopiri itu milik kakaknya itu, setelah ia dan suaminya pensiun dari guru.

Sedangkan anak-anak kakaknya itu sudah bekeluarga semua, juga bekerja di beberapa kota di Sumatera juga Jakarta.

Selama perjalanan itu mereka semakin akrab. Anis sempat bertanya tentang keluarga Johan. Ia tampak sedih, menurutnya sang istri minta cerai dengan membawa serta 2 orang anaknya .Istrinya meminta cerai karena ada hasutan dari keluarganya bahwa seorang sopir suka menelantarkan keluarga. dan Johan memberi tahu dirinya sebab musabab ia bercerai dengan lengkap.

Padahal bagi Anis saat itu, hal itu tidaklah begitu penting, namun sebagai lawan bicara yang baik selama di perjalanan lebih baik mendengarkan saja. Hingga akhirnya Anis sampai di dekat rumahnya di Padang.

Anis di jemput suaminya di perempatan jalan by pass itu, Anis sempat mengenalkan Johan pada suami dan suaminya, dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Tak lupa Anis menawarkan singgah untuk makan kerumahnya, namun Johan dengan sopan menolaknya dengan alasan barang muatan truknya harus di bongkar secepatnya. Dan mereka pun berpisah di perempatan by pass itu.

Semenjak Anis mengenal Johan, Anis akhirnya sering menumpang truknya ke Padang. Anis jadi tidak kuatir lagi jika tidak ada bis umum yang akan ke membawanya ke Padang. Sejauh itu, keakraban Anis dan Johan, mereka masih dalam batas – batas yang di tentukan norma masyarakat Minang.

Ya kadang dalam perjalanan jika perut lapar, mereka singgah untuk makan dan Anis selalu berusaha untuk membayar, sebab sebagai seorang wanita selalu ada perasaan tidak enak, jika semuanya menjadi tanggungannya.

Anis tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada orang. Itulah prinsip yang dianutnya dari kecil. Masa selama ke Padang udah gratis ,makan gratis pula??

Kejadian pulang ke Padang seolah telah biasa bagi Anis bersama Johan. Kadang dia tidak ke Padang, hanya ke Bukittinggi, Anis juga ikut menumpang, lalu dari Bukittinggi Anis naik travel atau bis. Anis pun akhirnya telah menganggap Johan seperti kakaknya sendiri. Itu karena ia sering memberinya petuah tentang hidup, misalnya harus banyak sabar jika jadi istri, juga sikapku yang baik dimata ibu kost kakaknya itu.

Terkadang Anis sering membawakan oleh-oleh untukt ibu kostnya jika pulang, terkadang Anis menyisihkan buat Johan, ya meski harganya tidak seberapa namun ia amat senang.

Selama 2 bulan itu Anis selalu bersama Johan jika ke Padang. Mulailah Johan bersikap aneh. Kini dia jadi sering bicara jorok dan tabu. Juga ia mulai berani bertanya tentang gimana Anis berhubungan dengan suami, berapa lama suaminya bisa bertahan dan berapa kali Anis berhubungan selama seminggu.

Pertanyaan-pertanyaannya ini tentu saja membuatnya merasa risih dan tidak enak hati. Anis kadang berusaha untuk pura-tidur tidur jika ia mulai berbicara tentang hal-hal yang tidak pantas itu. Meskipun ia mulai aneh dan bicara tentang hal-hal yang cabul itu.

Anis bersyukur hingga saat ini Johan tidak macam macam kepadanya. Anis menyadari mungkin Johan sedang stress akibat hidupnya yang sendiri itu, namun Anis tidak menanggapinya, dan seperti angin lalu saja.

Hingga sampailah saat Anis pulang dengannya untuk kesekian kali, ia berusaha memegang jemari tangannya. Anis tentu saja kaget dan cemas, sekaligus takut. Anis langsung menarik tangannya dari genggaman Johan.

“Da jaan da, Anis alah balaki dan punyo anak ketek, apo uda ndak ibo membuek Anis kecewa (bang jangan bang…. Anis punya suami dan anak yang masih kecil,,apa abang tega membuat Anis kecewa)?” ucap Anis. Anis juga mengancam akan mengadukan perlakuannya itu kepada kakaknya.

Johanpun lantas melepaskan tangannya yang akan kembali meraih jemarinya. Anis juga berkatag padanya.

“Cukuik sampai disiko sajo da, Anis indak ka manumpang oto uda lai ( Anis tidak akan menumpang truk abang lagi)”. Hingga Anis sampai di Padang Anis hanya berucap terima kasih lalu diam. Anis masih kesal.Diapun sepertinya agak takut. Namun Anis tidak tahu apa yang membuatnya jadi seperti tadi.

Hampir selama sebulan ini Anis tidak melihat Johan di rumah kakaknya, namun truknya masih nongkrong di halaman samping rumah induk itu. Selama itu Anis pulang naik bis yang kadang transit di Bukittinggi.

Anis tidak tahu kemana ia pergi, namun Anis menanyakan pada ibu kosnya, dan Anis di beri tahu bahwa Johan sedang mengunjungi mantan istrinya untuk menjenguk anaknya. Anispun larut dengan rutinitasnya seperti biasa.

Namun hatinya yang tadinya kesal, dongkol dan marah kepada Johan tanpa sadari Anis perasaannya mulai berubah. Tiba – tiba saja Anis malah sangat ingin bertemu dan ingin numpang pulang dengan truknya. Ya, Anis seakan rindu berat.

Hari jumat sore itu dengan masih mengenakan pakaian kerja dan penutup kepala, Anispun mau saja diajak pulang bareng dengan Johan yang mengantarkan muatan truknya ke Padang. Mereka berangkat jam setengah lima.

Lalu dalam perjalanan lelaki berbadan tegap tersebut kembali bicara itu, tentangg hubungan laki-laki dan perempuan serta sifat perempuan yang memiliki libido tersembunyi. Juga kekuatannya berhubungan badan dengan lawan jenis.

Anis malah mendengar dengan seksama dan sesekali memberi komentar. Mungkin saja karena lama tidak tersalur atau laki – laki itu punya kemampuan lebih dalam hubungan badan, juga mungkin bantuan obat pemanbah perkasaant pria, komentar Anis. Sepertinya wanita muda tersebut tidak peduli lagi akan omongan joroknya Johan.

Hingga senja. Sekitar jam 7 lewat mereka turun mampir di rumah makan di pinggiran jalan di Bukittinggi untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Anehnya saat itu Anis membiarkan saja saat tangannya di gandeng oleh Johan. Mereka makan dengan lahapnya. Dan setelah makan mereka berkemas dan berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Padang

Mobil mulai jalan meninggalkan rumah makan. Pas melalui daerah Bukit Ambacang daerah yang dulunya tempat pacuan kuda itu mungkin karena perut udah kenyang, dan dinginnya udara malam yang berembus dari celah kaca mobil, Anis jadi mengantuk. Anis menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil, tetapi karena jalan yang tidak rata, kepala Anis sering terantuk. Lalu Johan menawarkan, supaya Anis tidak terantuk kaca agar Anis mendekat kearahnya, dan bersandar di bahunya.

“Win…daripado adiek ndak bisa lalok, labiah elok cubo sanda an kapalo di bahu uda (Anis daripada ga bisa tidur , lebih baik rebahkan kepalamu di bahu abang)” kata Johan.

“Ndak usahlah da, kan uda sadang manyopir, beko malah mambuek uda ndak bisa manyopir elok-elok, apolagi iko kan lah malam (nggak usahlah bang,,kan abang sedang nyetir, nanti malah bikin abang tidak bisa nyetir dengan baik.apalagi ini malam bang)” kata Anis menolak dengan halus dan tidak mau mendekat padahal saat itu Anis telah ngantuk berat.

Dengan sebelah tangannya Johan meraih tangan wanita muda itu dan menariknya agar mendekat, dan makin mendekat hingga duduk mereka menjadi menempel bersisian dan hanya di batasi handel persneling mobil.

Anis akhirnya menurut dan merebahkan kepalanya di bahunya lelaki tersebut. Anis terlelap sesaat. Padahal hati kecil Anis saat itu berbisik bahwa itu salah besar, dan Anis mengetahui itu amat sangat tidak boleh. Namun Anis juga merasakan dorongan yang jauh lebih besar untuk membiarkan itu terjadi.

Saat terpejam dan dalam keadaan setengah tertidur itu tanpa Anis menyadari, tiba-tiba sebuah kecupan menerpa pipi dan bibirnyanya. Wanita muda itu kaget dan langsung bereaksi. Langsung ia menolakkan muka Johan dengan tangannya.

Johan pun menghentikan kecupannya meskipun tangan kirinya masih merangkul bahu Anis agar tetap rapat menempel pada dirinya. Anis berusaha melepaskan tangan Johan pada bahu kirinya dan mengingatkan agar ia konsentrasi ke jalan.

“Da sadarlah da, iko kan di jalan raya bisa cilako beko, caliak tu mobil lain kancang-kancang (Bang sadar bang ini jalan raya bisa kecelakaan, mobil lain pada ngebut tuh)” kata Anis mengingatkan. Johan pun menurut dan kembali berkosentrasi mengemudikan truknya..

Tak lama kemudian saat truknya berjalan perlahan karena macet di daerah Padangpanjang, saat Anis yang masih merebahkan kepalanya pada bahu Johan, terkejut karena tiba-tiba saja karena bibir berkumis Johan menghampiri bibir tipisnya dan mengecupnya sekilas.

Anis langsung terbangun dan duduk kembali menjauh dari bahunya. Perasaannya sangat dongkol tidak bisa berkata-kata apalagi berbuat kasar

” Eh da Johan ko ndak mangarati juo, Anis mintak jaan di ulangi, badoso da, apo kato urang beko kalau mancaliak tadi (Eh bang Johan ini tidak juga ngerti, Anis mohon jgn di ulang lagi ini, dosa bang apa nanti kata org jika lihat kita saat itu tadi)?”. Namun, Johan sang sopir dia tetap santai-santai saja, seakan-akan Anis mengizinkan Johan berlaku demikian

” Abihnyo Anis mambuek uda galigaman (habis Anis bikin abang gemas)” jawabnya sambil meminta maaf.

Kembali wanita muda tersebut diam membisu selama perjalanan, tidak menggubris apapun yang Johan katakanKembali tangan kiri Johan meraih bahu Anis untuk mrengkuhnya agar kembali rebah pada bahunya.

Selama perjalanan itu Johan tidak lagi menciumi Anis, hanya meremas remas jari lentiknya dan mengecupi kepalanya yang masih mengenakan penutup kepala. Rasa hangat dan nyaman menghampiri perasaan Anis saat itu.

Hingga… Saat truk mereka memasuki wilayah jalan by pass yang gelap itu dekat simpang bandara yang baru sekarang ini, lelaki itu melambatkan laju truknya dan kembali menciumi dan melumat bibir wanita muda itu.

Hanya saja herannya Anis malah membiarkannya saja. Jujur diakuinya ada desir-desir gairahnya yang mulai bangkit. Lalu Johan menghentikan truknya di tengah jalan dan kembali… menciumi, melumat bibir sebelah bawah milik Anis kembali dengan lebih bergairah.

Tangan kanannya mulai naik meraba menemukan bukit padat yang membusung terbungkus di dada wanita muda tersebut . Meremasnya perlahan. Anis diam, matanya terpejam dan menikmati betapa gairahnya yang telah terbit kembali meluap. Dalam keasyikan mereka tersebut.

Tiba-tiba…Ada cahaya dari lampu mobil dari arah berlawanan menyorot kepada mereka. Dan langsung Johan menghentikan aksinya, lalu kembali pada posisinya menjalankan mobil tersebut hingga rumah wanita muda tersebut. Sesampainya di rumah, Anis masih saja terbayang akan perlakuan Johan pada dirinya.

Untunglah saat itu suaminya sedang berada di Jakarta dan takkan mengetahui perubahan sikapnya tersebut. Hingga pada waktu tidur pada malam itu Anis bermimpi melakukan hal yang sama hingga ia disetubuhi oleh Johan. Dalam mimpinya ia merasa amat puas, puas yang berbeda sekali saat ia melakukan dengan suaminya.

Kembali kini Anis ke Pasaman, dan bekerja seperti biasanya. Telah 3 minggu ini ia tak bertemu Johan. Kata kakaknya Johan sedang ada muatan ke Pematang Siantar. Anis sangat berharap untuk bertemu. Dirinya dilanda rindu yang sangat merajam perasaannya. Anis seolah-olah menjadi seorang remaja putri yang amat rindu pada kekasih saat itu. Membuat pikirannya hanya tertuju pada Johan seorang.

Beberapa minggu kemudian mereka bertemu dan kembali berangkat bersama saat Anis hendak pulang ke Padang. Saat di perjalanan Johan minta Anis untuk melepas kacamata Anis. Anis heran kenapa dia meminta Anis melepaskan kacamata?

“Uda taragak mancaliak mato diek Win indak mamakai kacomato (Abang ingin melihat mata Dik Win tidak mengenakan kaca mata) .” kata Johan. Anispun menurut lantas melepas dan menyimpannya dalam kotak dan kemudian memasukan dalam tas miliknya.

Sepanjang perjalanan itu Anis tidak mengenakan kacamata. Kembali tangan kiri Johan merengkuh bahu Anis, menariknya agar duduk berdekatan. Anis yang tidak ngantuk bergeser mendekati dan karena merasa tidak enak dengan hawa kaki lelaki itu dari bawah dashbord dekat stirnya itu kemudian menegakkan kepalanya dan tidak rebah dibahu Johan.

Dan kembali dalam perjalanan menuju Padang Panjang Johan meminta Anis melepas penutup kepalanya

” Win uda taragak mancaliak rambuik Anis, salamo iko uda alun pernah mancaliaknyo, sabanta sajonyo, kan hanyo diateh oto iko, ndak ado do nan ka maliek (Win..abang ingin melihat rambut

Anis…selama ini abang belum pernah lihat.sebentar aja Win, kan hanya di atas truk ini, tidak ada yang akan lihat)” katanya. dengan alasannya ia sudah sangat lama ingin melihat rambutku.

“Jaan daa, Anis alah barumahtanggo.. punyo anak.. Anis taragak manjadi ibu jo istri nan elok.., sabab uda beko bisa barubah pangana.., Anis kuatie da (jangan lah bang,Anis sudah berkeluarga,juga punya anak, jadi Anis ingin, jadi ibu dan istri yang baik, sebab jika Win buka kerudung, nanti,abang bisa berubah pikiran, Anis kuatir bang)”. Anis merasa keberatan, sebab merasa amat telanjang jika kerudungnya lepas.

“Alaa, Diek Anis jaan takuik ka uda, uda kan indak jaek, apolagi uda sayang bana ka Anis, walaupun alah punyo laki jo anak (Ala..Dik Anis jangan takut ama abang, abang kan bukan orang jahat, apalagi abang amat sayang pada Anis,meski abang tau Anis sudah punya suami dan anak)” kata Namun Johan menyakinkan. Anis bahwa ini hanya sebentar. Lalu Anispun meluluskan permintaannya. Penutup kepalanya dilepas dan di taruh, di pangkuannya sendiri.

Tangan kiri Johan naik dan membelai rambut Anis, dari atas lalu turun ke tengkuknya yang di tumbuhi rambut halus.

“Uda suko mancaliak bulu roma di kuduak diek Win (abang suka melihat rambut halus di tengkuk dik Win) ” ujar Johan.

“Harum bana (sangat wangi)” lanjut lelaki tersebut seraya menarik leher wanita muda itu mendekat kearah wajahnya. Dan mencium tengkuk berbulu halus itu. Anis merasa geli dan merinding, sebab gairahnya mulai terpicu. Lalu ia merebahkan kepala Anis di bahunya di sepanjang jalan yang macet, pada penurunan Lembah Anai tersebut.

Sesekali ia meraba pipi wanita muda tersebut

“Pipi diek Win aluih jo barasiah (Pipi dik Win halus dan bersih)” tambah Johan. Anis diam saja.

“Biasalah laki – laki, suka menyanjung. Seperti biasa dilakukan suamiku sebelum menciumi aku” batin Anis.

Anis pun lalu berusaha memicingkan matanya. Namun saat laju mobilnya terhenti karena macet Johan mencoba menciumi pipi kirinya terus turun hingga menemukan bibir tipis yang tersaput merah dan mengecupnya sesaat.

Anis berusaha mengatupkan bibirnya namun tangan kanan Johan berusaha masuk kedalam kaos panjang lengan putih bergaris pakaian atasnya itu melalui bawah kaos. Tangan lelaki itu menyentuh pembungkus dadanya yang membusung. Anis memejamkan matanya

“Uhhh…..desah wanita muda itu perlahan. Sehingga Anis tidak dapat berbuat apa apa selain hanya menikmati dan larut karena tangan kanannya saat itu masih memegang penutup kapalanya di pangkuan. Beberapa saat kemudian Johan menarik tangannya dan kembali melajukan truknya menuju arah Sicincin saat macet telah berakhir.

Saat di jalan Sicincin itu mobil saat itu berjalan perlahan karena macet, meski tangan kirinya di stir Johan dengan tangan kanannya merengkuh wajah Anis, dan tiba-tiba saja bibir wanita muda tersebut di lumatnya.

Anis langsung saja terpana dan kaget, mukanya memerah. Namun Anis tidak bisa marah karena rasa nikmat yang mulai timbul .. Akhirnya Johan melepaskan bibir merah milik Anis. Namun tangan kiri Johan kini meremas jari lentiknya.

Sehabis jari wanita muda itu di remasnya, tangannya mulai merayap masuk ke dalam melalui belahan atas kaos kaos panjang lengan yang bergaris putih yang saat itu ia kenakan berpadu dengan celana panjang.

Anis sadar dan menahan laju tangan tersebut dengan tangan kirinya. Saat itu baru bagian perutnya yang tersentuh oleh tangan Johan. Terasa hangat dan kasar. Tangan Johan lalu keluar dan dia kembali asyik dengan stir.

Saat memasuki jalan by pass..

Jalanan gelap sekali hanya beberapa tempat saja yang di terangi lampu jalan, Johan menepi dan menghentikan truknya di pinggir jalan.

“Ko baranti da (kenapa berhenti bang)?” tanya Anis bingung.

Johan diam saja tak menjawab, dan kembali merengkuh bahu wanita muda tersebut. Menariknya mendekat kearahnya. Dan diatas mitsubishi colt berwarna kuning tersebut bibir Anis kembali dikecupnya.

Tidak saja di kecupnya, kuluman dan lumatan juga dilakukan Johan pada bibir lembut wanita cantik tersebut. Mengelitiki setiap ujung bibir tipis tersebut dengan tekun. Sedikit demi sedikit gairah dalam tubuh wanita muda tersebut bangkit.

Anis membalas setiap lumatan bibir Johan, membuka mulutnya memberikan keleluasaan pada lidah Johan untuk menikmati kebasahan di dalamnya. Lidah mereka saling berpilin, membelit di dalam. Tangan kanan Johan merayap masuk kedalam kaos panjangnya melalui bagian bawahnya, bergerak naik keatas menemukan bukit membusung padat di sebelah kanan lalun meremas dan memijit bukit padat milik Anis tersebut dari luar bahan pembungkusnya.

Wanita muda tersebut seolah tak mampu menolaknya. Anis berusaha melepaskan tangan Johan, namun keinginannya di kalahkan oleh hasratnya yang telah terpicu. Dirasakannya begitu hangat dan cekatan tangan lelaki itu mengirimkan berjuta-juta sengatan birahi disana.

Tubuh indahnya mulai menggeliat-geliat dalam dekapan Johan di dera nikmat pada sekujur pori – porinya. Selang sekitar 25 menit kemudian Johan menghentikan perbuatannya.

“Indak usahlah disiko, daerah iko agak angek, acok tajadi parampehan (Jangan disini, daerahnya rawan sering terjadi perampasan)” ujarnya kuatir kemudian.

Anis diam, membenahi pakaiannya mulai dari kaos dan penutup kepalanya, juga membenahi napasnya yang sempat memburu disertai gairahnya yang sempat meninggi. Lagi pula persimpangan arah ke rumahnya telah dekat.

Mobil Mitsubishi kuning itu pun kembali bergerak. Anis terdiam selama perjalanan menuju persimpangan rumahnya. Ada penyesalan dalam dirinya saat itu bisa terlibat sejauh itu, namun seakan terhapuskan rasa yang timbul akibat perlakuan lelaki tersebut pada dirinya.

Begitu sesampainya Anis di rumahnya sekitar pukul setengah sepuluh malam itu Anis langsung mandi. Ternyata suaminya masih berada di kampus.

Malam itu Anis sempat bersetubuh dengan suaminya Anis heran malam itu ia kurang bergairah seolah hanya terpaksa menjalankan kewajiban saja.

“Alah lamo awak indak bahubuangan diak (sudah lama kita tidak berhubungan dik)” kata suaminya. Anis merasa berhutang pada suaminya karena memang dalam minggu ini mereka belum pernah berhubungan badan.

Dengan enggan Anispun menuruti keinginan suaminya. Di ranjang mereka malam itu ditengah kesibukan suaminya mengayuh biduk asmara mereka, tiba-tiba datang sekelebat bayangan berupa sosok Johan .Langsung gairah dan nafsunya mereda.

Anis langsung kehilangan gairah di tengah pergumulan mereka, namun demi menjalankan tugasnya sebagai istri, maka Anis berpura-pura menikmati hubungan itu hingga selesai.

Aktifitas Anis kembali seperti biasa hingga ia kembali ke Pasaman, daerah tempat bekerjanya. Dan bekerja seperti biasanya.

Hari itu hari Selasa. Saat ia pulang ke kost-anya. Didapatinya rumah dalam keadaan kosong. Rupanya sang ibu kost beserta suaminya berangkat ke Palembang mengunjungi salah seorang anaknya di sana. Dan praktis hanya Anis yang berada di rumah itu. Johan dan juga tak kelihatan. Besoknya pada hari rabu Johan muncul namun tidak dengan truknya.

“Oto sadang di pelo-an di bengke (truk sedang diperbaiki di bengkel) ” ujarnya Johan menerangkan pada Anis saat menanyakan truknya. Malam itu Johan mengajak Anis.

“Win ..alah makan Win (Win udah makan Win)?”tanya Johan.

“Alun lai da (Belum bang)” sahut Anis.

“Kalua awak makan lah, ado tampek nan rancak untuk makan daerahnyo dingin jo tanang (Ayo kita makan keluar, ada tempat makan yang bagus, daerahnya dingin dan sepi) terang Johan mengajak wanita muda tersebut.

“Ndak baa do da (Boleh bang)” sahut Anis.

“Tapi jan lamo – lamo yo da (Tapi ga lama kan bang)?” sambung Anis kembali.

Lalu Anispun masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Mengenakan kaos panjang lengan berwarna merah muda dan jaket serta bawahan celana panjang berbahan katun hitam kemudian berangkat bersamanya. Kebetulan ada mobil kakaknya yang ditinggal.

Sebuah toyota starlet berwarna merah. Mereka berangkat sekitar jam 7 malam itu. Tempat yang mereka tuju terletak agak jauh arah ke Medan tetapi masih di wilayah Lubuk Sikaping sekitar 1 jam perjalanan dari ibukota kabupaten tempat tinggalnya. Saat itu Johan mengenakan kaos oblongnya dan jeans biru

Mereka makan di sebuah warung makan yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai saung yang dinding setinggi tertutup setinggi bahu orang dewasa. Mereka makan ikan bakar dan duduk secara lesehan. Anis berada pada sisi kanannya Johan.

Memang tempatnya amat romantis, apalagi saung itu lampunya redup dan bunyi jangkrik, meningkahi suasana makan mereka. Mereka makan, berbincang, bercanda dan sesekali saling menyuapi. Setelah makan mereka duduk bersantai.

Mereka mulai saling berciuman, saling berpelukan erat. Anis terlena oleh suasana. Anis rebah di pangkuan pada paha kirinya Johan.

Anis memegang lengan Johan. Wajah mereka saling tatap dalam senyuman. Perlahan Johan membelai wajah wanita muda tersebut. Merabai kehalusan kulitnya. Wajahnya menunduk turun mendekati wajah Anis.

Anis merasakan jantungnya berdegup kencang Johan mengecup kepala Anis yang masih tertutup, turun kekeningnya terus ke pipi yang licin dan bergerak naik menjumpai sepasang bibir lembut yang memerah. Di kecupnya perlahan.

Anis memejamkan matanya saat bibir berkumis lelaki itu mulai melumat bibir tipisnya. Awalnya Anis hanya diam namun akhirnya Anis mulai menerima dan bereaksi dan ikut arus lumatannya. Ada hawa kuat yang menggiringnya untuk mengikuti alunan gairah yang diberikan Johan.

Lidah mereka telah saling belit dalam kebasahan mulut Anis. Sedangkan tangan kiri Johan telah mulai merayap. Awalnya mengelus leher bagian dalam terus turun masuknya lewat lobang krah ke arah dada dan masuk kebalik bra dan meremasputing bukit padatnya yang membulat dengan perlahan.

Rabaan tangan kanan Johan merayap di sepanjang batang paha Anis mengelusnya bergantian paha kiri dan kanan tak terlewatkan meski kedua kaki Anis tetap rapat. Menurun pada bagian dalamnya dan mengelusnya dengan lembut. Lecutan gairah segera meletup dalam diri Anis. Napasnya mulai memburu, tersengal -sengal.

Kurang lebih 1 jam kemudian baru mereka pulang ke rumah. Saat di mobil kejadian itu terjadi lagi pada perjalanan pulang sekitar 5 menit. Mobil starlet merah itu sengaja di hentikan Johan. Didalam mobil itu masih di kursi depan Johan kembali meraba dengan tangan kirinya. wajah dan terus ke dada Anis yang saat itu masih terbungkus kaos panjangnya. Johan pun melumat bibir tipisnya.

Anis hanya bisa diam meski lidah Johan dengan leluasa telah mengait-ngait lidahnya dalam mulutnya… agak lama…. sebelah tangan Johan lalu berusaha masuk kedalam celana panjang katun yang Anis kenakan, tangan kiri itu menyelinap masuk dan mulai menyentuh bagian kewanitaannya diluar pakaian dalamnya Anis seperti tersengat… geli. namun Anis menariknya kembali tangan tersebut beraksi beberapa saat.

“Jaan lah da… ,Anis alah punyo laki jo anak (jangan bang Anis udah mempunyai suami dan anak)” ujar Anis lirih.

“Anis malu…”tambah Anis mencoba menahan keinginan Johan saat itu disela –sela napsunya yang telah bangkit hampir membakar dirinya.

Johanpun menurut dan kembali menghidupkan mesin mobil berangkat menuju rumah. Dan begitu sampai mereka langsung masuk rumah. Anis masuk kerumah pavilunnya dan terus masuk ke dalam kamar. Sedangkan Johan pergi lagi, ada urusan katanya.

Padahal saat itu Anis sudah sangat terangsang, batinnya menuntut pelepasan dan kalaupun dia datang menemuinya kembali untuk menuntaskan apa yang mereka telah mulai… Anis pun takkan kuasa menolak rasanya. Tetapi tampaknya Johan memang tengah berusaha memancingnya. Paginya Anispun kembali menjalankan aktifitasnya di kantor seperti biasanya

Malamnya, malam Jumat itu mereka kembali makan malam bersama diluar namun tidak di tempat kemaren malam itu. Denag arah yang sama ke arah Medan, tapi berbelok kekanan. Suasana tempatnya seperti umumnya restoran, ada beberapa orang singgah untuk makan.

Tempatnya juga tidak begitu ramai. Anis maklum Johan mengajaknya ke luar dari kota itu agar mereka tidak di pergoki oleh temannya ataupun teman sekantornya Anis. mereka hanya makan saja, kemesraan mereka tidak seperti kemaren malam. Malam ini mereka hanya saling berpegangan tangan saja. Dan setelah itu mereka langsung pulang.

Sampai di rumah sekitar jam 21.00 WIB.

Anis masuk langsung masuk ke paviliun kamarnya, sedangkan Johan masuk ke dalam rumah kakaknya. Saat Anis telah bersalin pakaian dengan, mengenakan kemeja tidur yang panjang berwarna merah muda dan setelannya berupa celana panjang bercorak sama.

Tapi tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu pavilunnya. Terdengar suara Johan memanggilnya. Anis menutup rambutnya dengan bergok yang biasa Anis pakai jika ada tamu dan membuka pintu untuk mempersilakan lelaki itu masuk mengingat selain dia adik pemilik rumah mungkin dia mempunyai keperluan yang harus disampaikan.

Rupanya Johan habis mandi malam itu. Terlihat dari rambutnya yang basah dan anehnya ada sedikit bau – bauan yang agak menyengat menyemburat di hidung Anis. Ya, wanita muda itu masih ingat baunya seperti wangi bunga mawar… mereka duduk di ruang depan faviliun itu, bersebelahan pada sofa sudut. dengan Johan berada di sebelah kirinya. Sambil berbincang-bincang apa saja.

Tak disadarinya pembicaraan Johan mulai bergeser pada hal yang sangat pribadi dan cenderung intim. Dari pembicaraan mengenai kesepian dirinya setelah bercerai, godaan – godaan saat ia membawa truk keluar daerah, juga bercerita bahwa ia pernah berhubungan dengan wanita di kota yang ia singgahi, termasuk dengan pelayan rumah makan di Medan, juga berkata mengenai keperkasaannya saat bersetubuh katanya cukup mampu melayani wanita itu hingga beberapa kali .

Kemudian Johan pindah duduk disamping wanita muda itu, duduk disebelah kirinya.

Lalu lelaki itu meraih jemari lentiknya dan membawanya ke pahanya. Anis diam tak bereaksi. Perlahan menarik bahu Anis, memutar nya agar menghadap dan menjatuhkan kecupan ringan pada bibir tipis wanita muda tersebut. Anis merasa sedikit jengah langsung menunduk malu sebab itu berlangsung tiba tiba dan mengejutkan dirinya, meskipun hal itu telah diduganya akan terjadi.

Namun… sentuhan bibir saat itu tidak seperti biasanya, Anis merasakan sengatan listrik mengalir pada sekujur tubuhnya. Tetapi Johan terus mengulum dan melumat bibir tipis wanita muda tersebut. Perlahan Anispun mulai membalasnya… menerima bibir lelaki berkumis itu dengan membuka mulutnya, memberikan ruang bagi lidah Johan untuk menerobos masuk di sela –sela giginya yang berbaris rapi.

Menikmati betapa lidah kasap itu menggelitik di dalam rongga mulutnya, menemukan lidah Anis yang lancip untuk saling bercengkrama dan saling palun dalam kebasahan mulut Anis. Anis memejamkan matanya menikmatinya.

Lalu tangan Johan naik pada leher Anis, berusaha melepas penutup kepala Anis saat mereka berhadapan. Setelah lepas wajahnya mendekat, napasnya terasa hangat menembus kemeja tidur pada pundaknya. Johan dengan lembut mencium pundak dan di bagian belakang leher wanita muda berkulit putih tersebut.

Sambil mendorong perlahan agar wanita muda itu rebah di sandaran sofa. Anis larut dalam dekapan dan cumbuan lelaki gagah itu. Ia semakin… terlena… pasrah.. lemas… menyerah pada birahi yang timbul oleh perlakuan Johan pada dirinya kemanapun arah yang diingininya.

Tangan Anis memegang bahu Johan yang tengah menahan kepala Anis dengan kedua tangannya. Sambil terus saling lumat dan kulum itu… tangan kanan lelaki tersebut turun dari belakang kepala dengan perlahan, menyusuri bahu yang telah terbuka, melewati belikatnya dan menemukan bukit membusung padat di dada wanita muda tersebut.

Masih dari luar tangannya mulai meremas bukit padat yang terbungkus itu. Dengan sedikit kasar ia memilinnya…!!!Wajah dan tubuh wanita muda itu mulai berkeringat. Kehangatan bara birahi yang dialirkan oleh perlakuan Johan pada dirinya mulai membakar setiap titik syaraf kewanitaannya.

Tangan kanan Johan kemudian turun… merasakan hangatnya perut yang terselimuti pakaian… terus turun menemukan ujung bawah kemeja tidur wanita berkulit putih tersebut… menyelinap kebaliknya dan naik menyusuri perut terus ke atas. Menyelinap ke balik pembungkus bukit membusung di dada Anis. Meremas dengan lembut beberapa kali lalu memjit putiknya dengan intens.

“Ohh…..” Anis mendesah… matanya terpejam dikarenakan rasa malu dan rasa nikmat yang bercampur baur… Tubuhnya serasa terbang melayang lepas dari tempat berpijaknya. Kedua tangan Anis semakin erat memeluk leher Johan.

Bibir Johan merayap turun dan menciumi leher jenjang yang mulai basah… basah oleh keringat. Bibir berkumis lelaki itu menjejali lehernya dengan gigitan-gigitan kecil yang kurang pahaminya, namun membuat Anis semakin larut…

Sementara itu tangan kiri Johan telah berada pada pertemuan paha wanita muda itu… meski diluar saja dan tidak masuk kedalam celana tidurnya… Anis amat kaget dan tubuhnya terlonjak kaget… serasa tersengat listrik…

Tangannya meraba raba mengelus… dengan lincah meskipun pada posisi kaki Anis yang masih merapat. Anis meraih tangan tersebut berusaha melepaskan tangan lelaki itu pada pertemuan pahanya. belum pernah di perlakukan demikian oleh lelaki manapun termasuk suaminya. Johan menurut dan menarik tangannya dan menjauh dari Anis.

Kembali mereka duduk lagi seperti biasa.. begitu juga Anis pun kembali duduk sewajarnya. Johan bangkit melangkah keluar kembali ke rumah kakaknya. Beberapa saat kemudian kembali dengan sebotol air putih beserta 2 gelas beling.

Menuangkan air putih tersebut dan memberikannya segelas pada Anis. Dia meminum air tersebut begitu juga Anis. Tubuhnya yang telah menghangat dan berkeringat oleh percumbuan barusan membutuhkan penawar menyegarkan.

Kemudian Johan berdiri, melangkah ke pintu dan menutupkan pintu paviliun tersebut sekaligus menguncinya… dari dalam. Melangkah menghampiri Anis yang masih duduk dan menariknya agar berdiri.

Anis menurut dan seakan jadi manusia idiot yang mau saja saat di bimbing lelaki gagah itu ke dalam kamar tidurnya sendiri. Sesampainya dikamar, Johan menutupkan pintu kamar dan menghidupkan lampu tidur yang bersinar temaram.

Anis di dudukan oleh lelaki itu dipinggiran ranjang dari besi yang sudah lama dan bermodel antik … diatas spreinya yang berwarna putih. Johan lalu berdiri dan melepas kaos putih berlengannya hingga ia tinggal bercelana santai yang pendek saja….

Kembali dihampirinya wanita muda, meraih dagu lancip Anis dengan tangan kanannya dan menjatuhkan kecupan pada bibir tipis itu. itu Kecupan itu berubah menjadi lumatan dan kuluman menghisap bibir tersebut hingga membuat Anis hampir kehabisan napas sehingga terpaksa membalas karena lidah Johan telah menyelusuri bagian dalam mulutnya… Johan berhenti… memberikan waktu bagi wanita muda itu untuk mengatur napasnya yang tersengal sengal.

Tangan Johan meraih kancing kemeja tidur wanita muda berrkulit putih tersebut. Mencoba melepaskannya dengan perlahan satu demi satu. Anis menahan laju tangan lelaki itu dengan tangannya. Johan tak menggubrisnya dan tetap melakukan hal itu.

Setelah kancing tersebut lepas semuanya, disibakkannya kemeja tidur tersebut pada bahunya sehingga bahan tersebut meluncur turun… lepas dari tubuh pemakainya.. dan langsung jatuh ke lantai. Praktis tubuh mulus atas Anis telanjang…!!! hanya sebuah kalung yang biasa dipakainya dan dua cup menutupi bulatan padat yang membusung di dadanya

Johan mulai mengecupi bahu telanjang wanita berkulit putih itu.

“Ohh……” Anis mengeluh, tangannya terpaku pada pinggiran ranjangnya… ada rasa geli..dan gairah yang datang menghampirinya lewat ciuman itu. Ciuman itu merayap ke leher jenjangnya dan turun menyusuri belikatnya ke bawah menemukan lembah kedua bukit dadanya yang mulai berkeringat. Lalu tangan Johan merayap ke belakang menemukan kait pengikat benda pembungkus dada Anis.

Satu sentakan kecil membuat kait benda tersebut lepas dan membiarkannya meluncur turun meninggalkan tubuh yang sintal dan mulus itu untuk tergolek menemani kemeja tidur yang telah berada di lantai.

Anis berusaha memiringkan tubuhnya agar tidak terlalu terekspos pada lelaki itu… namun dengan kedua tangannya yang berada di balik lengkung punggung Anis. Johan mencoba menahan gerakan itu.

Wajah lelaki itu mendekat pada dada Anis. Lidahnya mulai menjilati permukaan licin dada yang membusung indah tersebut. Bergantian bukit yang kiri dan kanan tak satupun tertinggal… hingga akhirnya bibir berkumis itu mampir pada puncak bukit padat di dada Anis. Kepala Anis langsung terlontar rebah kebelakang…!!! Menggigit dan mengulumnya dengan intens… saat ia menggigit… Anis merasa geli dan segera gairahnya terlecut.

“Ahh….”rintih Anis terlepas begitu saja dari bibir tipisnya. Tubuhnya mulai hangat dan berkeringat, menggeliat-geliat dalam dekapan Johan. Tak kuat ia rasakan deraan nikmat yang melanda segenap penjuru tubuhnya.

Tubuhnya lunglai dan seiring dengan itu Johan mulai merebahkan tubuh sintal tersebut perlahan di ranjang bersprey putih. Sedangkan kedua kaki wanita itu masih menjejak lantai. Kini Anis terbaring di ranjangnya sendiri… dengan peluh yang muncul di setiap porinya, tersengal-sengal dalam gemuruh nafsu yang telah membubung…!!!

Johan rebah diatas tubuhnya, diantara kedua kakinya yang masih mengenakan celana tidur telah membuka naluriah. Terasa oleh wanita muda pada perutnya betapa sebuah batang mulai mengeras. Kembali bibir dan lidah lelaki itu mencumbui bukit padat milik Anis yang mulai mengeras dalam nafsu… tak ketinggalan wajah… bibir… leher jenjangnya mendapat kecupan… lumatan yang bertubi-tubi… kedua tangan Johan terkadang menggantikan aksi bibirnya pada dada Anis.

“Uhhh……”desah Anis mulai sering terdengar. Rasa nikmat perlakuan Johan pada tubuhnya membubungkan nafsunya pada titik yang tak bisa kembali… kedua tangan Anis hanya bisa meraih dan mencengkeram pada bahu berkeringat lelaki gagah tersebut… bisa dia rasakan betapa dirinya telah basah disana sini… juga pada kewanitaannya yang mulai berdenyut. Lalu Johan bergerak lagi.. diangkatnya tubuh mulus yang telah telanjang hingga pinggang tersebut… menggesernya lebih keatas hingga kedua kaki Anis kini tergolek di atas ranjang bersprey putih tersebut.

Kembali berbaribg di samping kiri Anis, tangan kanan Johan meraih ke bawah, menemukan karet celana tidur wanita muda itu. Mencoba menariknya. Kaget Anis berusaha mencegahnya… tetapi telah terlambat karena karet celananya telah turun hingga lututnya… dan terus turun hingga akhirnya hanya sehelai kain tipis berwarna putih yang telah basah yang masih menutupi pertemuan batang pahanya. Bulu roma Anis berdiri di dera oleh nafsu yang berkesangatan… seakan ikut merasakan apa yang kan terjadi malam itu.

Kini tangan Johan kiri meraba bagian kewanitaan Anis yang masih terbalut itu dengan jarinya… menekan lepitan belahan kewanitaannya yang basah… itu di luar. Sambil kedua tangan Anis hanya bisa mendekap kepala Johan..

Anis berusaha tetap merapatkan kedua batang pahanya. Namun Johan bergerak ke lain arah menemukan karet kain tipis pembalut pertemuan paha Anis, menariknya perlahan.. dan dengan mudah kain yang berbentuk segitiga tersebut lolos dan meninggalkan tubuh pemakainya menyusul pakaian lain yang telah terlebih dahulu lepas. Semuanya berjalan lancar seolah-olah Anis tak bisa kuasa menolak setiap perlakuan Johan.

Semuanya telah terbuka.. tidak ada lagi ditubuh Anis yang masih tertutup…, terbaring telanjang dalam napas bergemuruh dengan tubuh yang berpeluh disana-sini…!!! Bukit padat di dadanya dengan puncaknya yang berdiri tegak mengkilat di di bawah sinar temaram lampu kamar itu. Anis merasa heran saat itu.. hentakan dalam tubuhnya amat mengelora… ingin semuanya terjadi sesegera mungkin..

Lalu Johan berdiri, melepaskan celana pendek dan sekaligus pakaian dalamnya… hingga tubuh tegapnya telanjang. Ada rasa takut… dalam diri wanita muda yang tergolek di ranjang itu saat melihat sosok Johan dengan dada dan tangannya yang berbulu… lebat.

Apalagi dengan pakaian yang telah lepas dari tubuhnya saat itu… membuatnya amat kuatir… melihat batang kelelakian yang amat panjang milik lelaki gagah itu..!!! Jujur diakuinya milik suaminya tak berarti di bandingkan dengan milik Johan.

Jauh didalam hati kecilnya Anis menyesali kejadian yang tengah berlangsung itu. Ini baru pertama kalinya dalam hidupnya… telanjang di hadapan lelaki lain yang bukan suaminya. Namun gairah… nafsu… dan rasa yang Anis tak dipahaminya itu terus membutakan hati kecilnya saat itu.

Johan mulai merayap naik di atas tubuhnya tak mempunyai pilihan kedua batang paha Anis naluriah membuka memberikan ruang pada pinggul lelaki tersebut untuk menempel. Kembali Johan mengecupi bibirnya dengan bernafsu dan kini Anis tak kalah lincah menyambut bibir dan mulut lelaki itu…

Sedangkan tangannya telah bermain di bukit padat di dada Anis. Meremasnya berkali- kali.. kadang menggesek dengan gemas menggunakan kumisnya…

“Ouhh…” rintih Anis. Perasaannya serasa terbang tinggi ke angkasa dengan tubuh menggeliat-geliat bak cacaing kepanasan…Kedua tangan Johan tak henti – hentinya meremas… memilin.. bukit membusung di dada Anis hingga kedua bukit padat itu menegang dengan putik yang mengeras… seolah tegak… membuatnya memerah di setiap permukaan licinnya. Terasakan juga oleh wanita muda itu betapa hangat dan tegapnya batang pejal milik Johan… menyentuh di bawah pusarnya.

Lalu Johan turun dan berlutut bertumpu di atas kasur ranjang. Meraih kedua betis putih milik Anis yang tengah terbuka… mengangkat keduanya keatas. Kemudian lidah Johan meluncur sepanjang kedua kaki Anis, mulai dari ujung kaki hingga ke pangkal paha bagian dalamwanita muda itu tanpa sedikitpun ketinggalan…

Lidah kasapnya terasa kasar, kesat dan basah. Anis masih memejamkan matanya menikmati gelombang biraai yang menderu-deru melandanya… kemudian ia terus turun, Anis seakan telah tergolek…kalah… rasa pasrahnya… membuat tubuhnya seolah menerima perlakuan dia saat itu..

Terus Johan membungkukkan wajahnya hingga jatuh pada kewanitaan Anis. Lidahnya masuk… menjilat … lepitan basahnya.. ada rasa hangat, geli, oleh jilatannya itu. Kadang lidahnya menghisap dan mengulum tonjolan sebesar kacang tanah di sana.

Anis tidak mampu lagi berkata kata saat itu hanya bisa merintih dan mendesis… dengan tubuh menggeliat- geliat…

Telapak tangan Anis berada dikepalanya menggenggam rambutnya dengan gemas…. sebagai tempat berpegang.. kedua kakinya berusaha dirapatkan karena rasa geli yang menghujam namun… terganjal.. kepalanya… rasa basah itu mulai datang dan seakan meledak… Lidah dan bibir masih di lepitannya, tidak ada sedikitpun rasa jijik pada dirinya saat itu..

“Ohh………” dengus Anis. Beberapa saat Anis klimaks… Anis mengejang..!!!. tubuhnya serasa melayang seringan seperti kapas.. Anis basah.. dan terkulai lemas… Johan lalu berhenti, lalu bangkit dan berdiri melangkah pergi mengambil air minum diluar kamar, dan kembali masuk dengan botol minuman dan gelas tadi. ia pun minum, namun tidak… menawari Anis..

Lalu lelaki tegap itu kembali ke tempat tidur, dan berbaring di sampingnya di sisi kirinya. Anis masih terbaring lemas dan berusaha menghirup udara sebanyak banyaknya untuk meredakan gairahnya.

Merasakan kewanitaannya basah dan lengket, juga tubuhnya telah basah oleh peluh yang bercucuran di sekujur tubuh telanjangnya mulai dari ujung kaki, paha perut, dada dan wajahnya. Anis telah merasakan kembali klimaks yang lama tak di alaminya, hanya saat… baru – baru menikah hingga bulan ke lima saat mulai hamil.. setelah itu tidak pernah lagi..

“Win adiek pueh..(Win, kamu puas)? Tanya Johan memecah kebisuan diantara mereka. Anis diam dan hanya mengangguk jujur seraya memandang matanya. Melihat pada kedalaman mata tersebut percik nafsu yang membara, berniat sangat ingin menyetubuhinya malam itu.

Kembali Johan meremas dan memilin bukit padat di dada Anis yang telah memerah disana sini. Gairah wanita muda itu yang tadi telah surut kembali memuncak dengan cepat. Lincah sekali ia memperlakukan tubuh wanita muda itu.

Dikulumnya bibir tipis itu… Awalnya Anis hanya diam lalu ikut membalas, bibbirmereka saling lumat, kulum.. Tangan kanan Johan… turun ke arah kembali ke kewanitaan Anis. jarinya masuk… mengorek – korek kebasahan yang timbul di sana membuat tubuh Anis terlonjak-lonjak diatas ranjang besi itu. Kewanitaannya mulai basah seolah tau saatnya untu permainan sesungguhnya akan di mulai..

Johan mengangkat kedua paha Anis dan menahan dengankedua tangannya, berlutut memposisikan pinggulnya diantara kedua batang paha wanita muda itu.

Anis hanya bisa memejamkan mata, merapatkan kedua pahanya dan menutup kewanitaannya dengan tangannya. Anis merasa ketakutan sekali jika batang pejal Johan yang telah tegak kaku itu akan memasukinya, karena sempat dilihatnya tadi ukurannya saat belum berada pada ketegangan penuh.

“Apo nan diek Anis takuik-an (Apa yang dek Anis takutkan)?” tanya Johan.

“Itu da Anis takuik jo punyo uda tu (Itu bang Anis takut dengan milik abang)” jawab Anis.

“Diek Anis jan takuiik jo punyo uda ndak sakik do (Dek Anis jangan takut dengan kepunyaan abang, ga akan sakit ko) jelasnya berusaha memberikan pengertian.

“Kan Anis,,, alah pernah malahiakan..(kan Anis sudah pernah melahirkan)? Tambah Johan.

“Jadi punyo diek Anis pasti bisa (jadi kepunyaan Anis pasti mampu) katanya lagi menenangkan Anis.

“Anis indak malahiakan normal da, lewat badah sesar, iko ado jajaknyo (Anis tidak melahirkan secara normal bang tapi lewat bedah caesar, ini ada bekasnya) ” sahut Anis sambil menunjukkan bekas jahitan operasinya. Johan terdiam.

Anis tau sekali Johan sangat menginginkan…, begitu juga dirinya juga amat sangat menginginkan persetubuhan yang sebenarnya namun rasa takut dapat mengalahkan keinginan Anis saat itu.

“Baiko sajolah, baa kalau awak cubo dulu jo gesekan, siapo tau indak ka mambuek diek Anis kasakiek-an (begini sajalah, bagaimana kalau kita coba dengan gesekan, siapa tau tidak membuat Anis kesakitan)” pinta Johan.

“Uda bajanji indak ka mamaso diek Anis do (Abang tidak akan memaksa dek Anis ko). Tambah Johan.

“Kalau beko taraso sakik, doroang kan sajo badan uda (Kalau nati terasa sakit dorongkan saja tubuh abang) lanjutnya memohon.

Dalam bimbangnya Anis mengalah. Mengalah pada permintaan Johan.. mengalah pada nafsunya dan membunuh rasa takutnya terhadap batang tegar milik Johan yang luarbiasa itu Seperti apa dilihatnya pada film – film semasa kuliahnya bersama dengan gengnya.

Anis merasakan jantungnya berdegup keras… menunggu saat – saat pertemuan kelamin mereka. Kini Johan berada di atas tubuh Anis yang terlentang telanjang…!!! Membuka kedua batang paha milik wanita itu dan menekuknya keatas… bersiap untuk masuk… Johanpun mulai… menempelkan… mengesekan ujung membola kepala kejantanannya di belahan kewanitaan wanita muda itu. Awalnya hanya gesekan-gesekan saja, terasa geli .. gatal di pintu kewanitaannya… rasa kaget dan hangat membuat Anis tidak sadar lagi apa yang sedang terjadi….. dan perlahan Johan sambil menggesekkan juga mendorong pinggulnya sedikit demi sedikit, menyebabkan ujung membola kejantanannya menyibakkan lepitan kewanitaan Anis yang telah basah guna memperlancar lajunya, dan mendesak. terus… yang membuatnya makin lama makin masuk… Anis merasakan seperti ada kulit bergesekan ketat.

“Ouhh……” wanita muda itu mengeluh.

Dan secara bertahap masuk di perlancar oleh kebasahan yang timbul dalam kewanitaan Anis Anis menahan dengan tangan gerakan pinggul Johan. Kembali Johan mendorong masuk.. Anis tau batang pejal yang kokoh milik Johan itu telah masuk meski belum seluruhnya baru seperempatnya…… ada rasa sempit dan nyilu di kewanitaannya saat itu.. rasanya penuh sekali.

Johan terus memajukan pinggulnya dan melepaskan kedua kaki Anis, meletakkannya di kasur, tangannya kembali ke bukit padat yang membusung di dada Anis… memilin… dan meremasnya kembali. Sedangkan kedua tangan Anis menggengam pinggul lelaki itu… agar jika terasa dan sakit dan nyeri bisa menahan dan mendorong batangnya agar tetap diluar..

Lalu Johan menjangkau bantal yang terletak tidak jauh dari tubuh Anis, Dan mengangkat pinggul padat Anis untuk meletakkan bantal di bawahnya… sementara batang tegarnya masih menancap… Anis merasakan posisinya jadi agak rileks…

Johan bergerak kembali. Dengan mata yang di kernyitkan Anis melihat batang tegap milik lelaki tersebut kembali mendesak masuk perlahan. Lalu…. pas semua hampir masuk rasa nyilu mulai datang.. terasakan oleh wanita muda itu otot-otot di dalam kewanitaannya berderik – derik seperti cincin karet yang diregangkan paksa. Kembali Anis menahankan gerakan pinggul Johan dengan tangannya, Johan terus berusaha mendorong.. Anis bersikeras menahan dengan tangannya sehingga posisinya tetap tak berubah.

“Ndak lamo lai diek Win (ga akan lama lagi dik Win)..”ucap Johan sambil terus berusaha mendorong. Anis tidak peduli dan terus bertahan dengan tangannya karena merasakan nyilu dan nyeri…, Anis meringis dan mengernyitkan keningnya…!!! Johan mengalihkan serangannya, meremas-remas kembali dada membusung milik Anis dan menciumi bibirnya dengan gemas bernafsu sekali… Kini kedua tangan Anis lepas dari pinggul lelaki itu dan memeluk punggung lelaki tersebut dan kembali larut dalam deraan nikmat yang membuatnya lengah dan terlena sehingga lupa menahankan pinggul Johan.

Johan bergerak kembali mendorong dengan tiba – tiba. Dan seiring rasa sakit yang datang makin menyesakan maka amblaslah seluruh batang pejal milik Johan pada kewanitaan Anis… terbenam didalam tubuhnya.

“Aahhh…….”erang Anis. Matanya memejam menikmati sensasi luarbiasa yang dialaminya saat itu, sakit sekaligus nikmat merajam pertemuan pahanya…!!! Terasa oleh Anis kini paha mereka sudah rapat menempel dan tidak ada jarak lagi..

Johan diam sejenak. Anis merasa nafasnya serasa berat amat… rasanya batang pejal itu menyesak sampai ke ulu hati. Anis mulai membuka matanya memandang mata Johan, mengungkapkan rasa salutnya, dan amat suka caranya memperlakukan dirinya, amat pengertian… sekali

“Indak sakik kan diek Win (Tidak sakit kan dik Win)? Tanya Johan.Anis diam tak menjawab. Kemudian Anis memiringkan wajahnya ke samping, merasa malu dipandangi Johan seperti itu. Kembali Johan masih meraih wajahnya dan menciumi Anis.

Terkadang menggigit dengan gemas bukit padat yang membusung telah memerah di dada wanita muda itu. Johan kembali bergerak, menarik pinggulnya hingga akhirnya batang pejalnya yang kokoh perlahan keluar sedikit demi sedikit, perlahan sekali Terasa nyilu dan geli sekaligus…!!! lalu mendorong masuk lagi… mulanya perlahan dan amat terasa nyilu… sekaligus nikmat…

Beberapa saat kemudian… ia mulai bergerak makin cepat, naik turun pinggulnya menghujamkan batang tegarnya. Telah lancar memang keluar masuknya pada liang kewanitaan Anis sehingga… seluruh tubuh Anis berguncang

“Ouh….” Rintih Anis berulang-ulang. Iya… Anis malu bila mengingat saat itu terdengar kecipak – kecipuk suara dari benturan pangkal paha mereka… sedangkan tangan Anis sudah lepas dan memegang kain… selimut dengan mata terpejam.

Posisi Johan tetap dengan berlutut.. Kini pinggul padat Anis juga bergerak mendesak keatas….!!! menyambut setiap hujaman batang pejal kejantanan Johan pada liang kewanitaannya..Anis pun mulai merasakan ada gelombang besar yang akan meledak didalam tubuhnya..

Tiba-tiba Anis merasa semua menjadi gelap.. tubuhnya melenting keatas… Anis menggigit bibir bawahnya dengan kedua kaki yang menjepit pinggang Johan di belakang tubuh lelaki itu bak tang raksasa. Merasakan… gelombang klimaks datang menggulungnya… melemparkannya ke awang-awang dan kembali terkulai lemas. di atas ranjangnya yang telah kusut., Keringatnya sudah membasahi sprei yang sudah kusut semua…

Namun Johan masih tetap bergerak mengayunkan… pinggulnya maju mundur… beberapa menit kemudian Anis merasakan tubuh Johan mulai menegang dan… sepertinya ia akan klimaks.. Anis tau… Johan akan segera membasahi rahimnya…

“diek Win ka uda kalua-an dima, di dalam atau di lua (dik Win akan dikeluarkan di mana, dalam atau di luar)? Tanya Johan. Anis tidak sempat menggeleng atau mengiyakan. Tubuhnya masih terlonjak-lonjak dalam hunjaman Johan… saat bergerak memompa naik turun dan …

Sambil mendengus Johan menekankan pinggulnya sedalam mungkin, merasakan lecutan birahinya melambung dan akhirnya materi kental itu memancur keras membasahi seluruh permukaan dalam kewanitaan Anis.

Terasa hangat… Untunglah Anis masih ingat bahwa saat itu ia masih menggunakan kontrasepsi sehingga tidak terlalu kuatir… Johan rebah menggelosoh di atas tubuh telanjang wanita muda itu. Bobotnya amat berat sehingga Anis harus memiringkan tubuhnya menyebabkan tubuh Johan meluncur turun terbaring di sisinya.

Anis memejamkan matanya merasa bersalah dan menyesal. namun segera hilang oleh rasa puas yang datang. Tubuhnya amat capai…

Anispun meraih selimut dan menutupkan pada tubuh telanjangnya. Karena merasa malam itu sangat dingin meski hujan tak turun. Berdua mereka tidur di ranjang yang telah kusut itu hingga pagi harinya.

Pagi harinya Anis heran kenapa tak merasakan adanya penyesalan yang dalam pada dirinya malah semakin suka kepada Johan sehingga membuatnya menelpon kepada suaminya di Padang untuk tak bisa kembali dalam minggu itu karena ada urusan kantor yang harus di selesaikannya.

Lagi pula ia merasa kuatir jika pulang ke Padang dapat dipastikan suaminya saat meminta berhubungan badan akan mengetahui perbuatan mereka di karenakan di seluruhnya masih ada jejak-jejak memerah di dada dan leher akibat persetubuhan mereka yang bergelora malam itu.

Malam Jumat itu Anis telah jatuh dalam pelukan dan takluk pada keperkasaan Johan di atas ranjang. Ya.., semalaman mereka berhubungan hingga pagi.

Pagi hari Johan bangun terlebih dahulu, meninggalkan Anis masih terlelap di ranjang yang telah acak-acakan tersebut. Saat Anis bangun ada sedikit rasa sesal di hatinya, selangkangannya terasa sedikit nyilu.

Masih tertera dalam benaknya bagaimana perlakuan Johan pada setiap sudut tubuhnya, terutama saat-saat penetrasi yang dramatis. Pagi Jumat itu Anis mandi sebersih-bersihnya, berusaha agar jejak – jejak di tubuhnya hilang. Ya.., Anis kuatir jika jejak-jejak itu akan terlihat. Jejaknya mungkin bisa hilang, tapi nikmatnya tidak akan pernah hilang, juga sprei tempat tidurnya direndamnya juga..

Anis masuk kantor pagi Jumat itu seperti biasanya. Dari kantor Anis menelepon ke Padang memberi tahu suaminya bahwa ia tidak bisa pulang, ada urusan kantor yang harus di bereskan, demikian alasannya. Anis berbohong, berusaha untuk mendapatkan tengat waktu yang cukup untuk menghilangkan jejak memerah di tubuhnya dan mencari penyelamatan diri dari perselingkuhan yang tidak dihendakinya itu

Di kantor seperti biasa, Anis menyelesaikan dengan baik seluruh pekerjaannya hingga sekitar jam setengah 5 sore Jumat itu. Segera ia pulang. Sesampai di rumah wanita berkulit putih itu langsung menuju kamar mandi, mencuci pakaian dan sprei yang telah ia rendam pagi itu.

Dan setelahnya langsung mandi. Anis saat itu mengenakan kaos bertangan panjang, dan celana panjang santai berwarna hijau muda berikut penutup kepala seperti biasa, Terlihat segar dan cantik ia sore itu.

Kembali di dalam rumah paviliunnya itu Anis berkutat di dapur memasak untuk dirinya sendiri. Lalu membereskan kamarnya, merapikan semua yang dianggapnya tidak pada tempatnya.

Senja itu sekitar pukul 6 sore. Itu Johan datang. Tanpa bicara sepatahpun langsung ia menuju rumah induk dan terdengar mandi. Mengenakan kemeja panjang, sesaat kemudian Johan mendatangi wanita muda yang tengah duduk di ruang tamu pavilion kamarnya itu. Sambil berdiri di pintu ia bertanya pada Anis

“Anis , indak pulang ka Padang (Anis, pulang ke Padang gak)”?.

“Ma bisa Anis pulang… (mana bisa Anis pulang)..”, sambil berdiri di pintu paviliun Anis sewot menjawab.

“Anis alun siap ka Padang, takuik pado kasalahan malam kapatang (Anis belum siap ke Padang masih takut pada kesalahan yang terjadi malam kemaren)” tambah wanita bertubuh sintal itu…

“Di badan ko panuah jajak pa-buek-an uda.. (di tubuh ini penuh jejak perbuatan abang)”

“Apolai jikok uda Anis mintak jatah, bisa kiamat beko (apalagi jika suami Anis minta, jatah bisa kiamat)” ujar wanita muda tersebut menerangkan.

Johan hanya tersenyum dan duduk di sebelah kanan Anis. Lalu ia berkata.

“Uda ka pai ka Medan malam ‘ko (Abang mau pergi ke Medan malam itu)”.

” Untuk 3 hari se nyo (untuk 3 hari)” tambahnya. Kemudian dia meraih jemari wanita muda tersebut.

” Uda sayang bana ka Anis (abang sangat menyayangi Anis)” Anis diam saja, merasa percuma untuk menolak karena sudah tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan, sebab hubungan yang tercipta diantara mereka sudah tak ada batas lagi sejak malam Jumat yang bergelora kemaren.

Johan berjalan menghampiri Anis yang duduk dengan tangan masih berada di pangkuannya, memandang mata memandang kedepan, menerawangnya. Mengajaknya agar duduk di sebelah kirinya. Lebih dekat pada sofa di ruangan itu.

Kedua tangan Johan berada berada pada bahu kiri Anis, perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya, dan mulai mengecup. Bibir berkumisnya berlabuh pada kening wanita bertubuh sintal itu.

Anis diam membiarkan saja, bibir berkumis tersebut meluncur turun di sepanjang pipi halusnya sambil tak henti mengecup pipi sebelah kiri tersebut, dari dahinya menuju dagu yang lancip, naik keatas menemukan kedua bibir lembut wanita muda dan langsung melumat

Beberapa saat Anis membiarkan dan menerima saja perlakuan Johan pada bibirnya itu. Lelaki gagah itu kini menjulurkan lidahnya, menyelusuri permukaan lembut bibir Anis mili demi mili, mendesak kedua bibir tersebut agar memberikan jalan, meyelusuri setiap permukaan gusi dengan lembut dan perlahan.

Kedua bibir wanita muda tersebut membuka dengan perlahan, iapun terus mengulum rongga mulutnya beberapa saat hingga Anis tergerak membalasnya, mulai menghisap.. dan kedua tangannya dengan nakal menjamah dada Anis yang saat itu masih berpakaian lengkap.

Anis menengadahkan kepalanya menyambut dengan sukacita. Tubuhnya mulai bersandar ke bahu lelaki tersebut. Anis mengikuti saja… tindakannya tubuhnya mengeliat-geliat dalam geli yang memabukkan.

Lalu diapun melepaskan pagutan pada bibirnya. Johan berdiri melangkah ke arah pintu, menutupnya dan kembali kearah wanita muda tersebut. Ditariknya tangan kanan Anis untuk masuk kamarnya. Dalam cahaya lampu yang terang Anis tak sedikitpun berusaha menolak.

Merebahkan Anis di ranjang biru muda dalam kamarnya, terlentang, lalu melepaskan busana Anis termasuk pakaian dalamnya yang berwarna putih, juga pakaian yang dikenakannya termasuk pakaian dalam biru tuanya yang membungkus pertemuan pahanya. dengan cepat tergesa-gesa sekali.., melemparkan semuanya di lantai.

Anis hanya memandang dengan nafas yang mulai tak teratur. Ada ketakutan dan keinginan kuat yang bercampur Anis tau Johan ingin melakukannya lagi seperti juga keinginannya juga. Masih terpatri kuat dalam benaknya kejadian malam sebelumnya yang sangat melenakannya….

Anis terlentang pasrah, tubuh Johan mulai menindih, dan kedua kaki wanita muda itu di bukanya. Anis yang tengah memeluk bahu lelaki itu, tak sadari saat ia telah memasukkan kejantanannya pada kewanitaan Anis.

Hanya rasa nyilu terbit dari pertemuan pahanya, tubuhnya terlonjak kekiri dan kekanan. Lelaki itu bergerak perlahan, menghunjamkan pinggulnya pada pertemuan kedua paha Anis yang kedua kakinya terbuka lebar.., dengan tempo yang teratur.

Pinggul wanita muda itu menyentak keatas, menyambutnya, menjemput hunjaman batang kokoh tersebut… hingga akhirnya Johan menghunjam dengan kuat, mendesakkan kejantanannya se dalam-dalamnya, menggeram, dan mencapai klimaks.

Melepaskan semuanya didalam tubuh wanita muda itu. Lalu tubuhnya jatuh masih diatas tubuh wanita berkulit putih tersebut… Padahal Anis belum apa – apa. Setelah ia sampai klimaks iapun berdiri mengenakan pakaiannya kembali, menjauh darinya masih dalam kamar tersebut.

” Uda ka pai ka Medan, jadi tadi itu adolah raso nan ndak uda sampaikan ka Anis (Abang akan ke Medan jadi tadi itu adalah rasa yang ingin abang sampaikan pada Anis)”, ucap Johan.

” Uda minta maaf, uda tau Anis alun apo-apo, lain wakatu uda ndak mamuehkan diek Anis (abang minta maaf, abang tau Anis belum apa- apa, lain kali abang akan memuaskan dik Win)”, tambah lelaki berkulit gelap tersebut.

Anis merasa aneh, Johan malah minta maaf karena persetubuhan itu hanya memuaskan satu pihak saja. Johan minta izin berangkat malam itu kira – kira jam 9 malam. Malam itu Anis tinggal sendiri di kamarnya, ada rasa kecewa karena Anis merasa hanya jadi sarana pelampiasan nafsu Johan saja.

Dan Sabtu itu Anis tetap di rumah saja, karena Johan ke Medan selama 3 hari. Merapikan rumah, dan membereskan pakaian untuk bekerjanya Senin nanti. Jam 10 pagi suaminya telpon. bahwa dia dan anaknya akan ke Bukittinggi hari Sabtu itu sekalian singgah di tempatnya.

Suaminya datang sekitar jam 3 sore dengan mobil mereka di tempatnya bersama anaknya berikut mertua Anis. Seharian itu Anis asyik dengan anak dan suaminya… jalan – jalan di daerah itu. Tak sedikitpun ada kesempatan atau waktu bagi wanita muda tersebut dan suaminya untuk dapat sedikit bermesraan dan berhubungan layaknya suami istri. Minggu sore sekitar jam jam 5 sore suaminya pulang ke Padang. Anispun kembali larut dengan rutinitasnya..

Saat itu Anis baru pulang dari kantor sekitar jam 5 sore. Masih sendirian dia karena kakaknya Johan masih belum pulang Anis pun mandi membersihkan badannya, karena capai seharian kerja. Selasa malam itu Johan pulang.

Dia pun langsung ke rumah dan mandi. Saat itu Anis mengenakan kimono tidur berikut penutup kepala seperti biasa dan celana panjang bermotif bunga. Mengenakan pakai celana pendek dan hanya kaos kutang Johan lalu menemui Anis di kamarnya dan minta Anis menemaninya makan, di dalam rumah kakaknya sebab saat itu ia membawa oleh – oleh makanan yang ia beli di jalan. Anis yang merasakan lapar akhirnya mau menemaninya makan senja itu.

” Win, uda bali nasi jo gulai kambiang di tampek langganan, lamak mah, kawani uda makan yo (Win, abang, beli nasi dengan gulai kambing di tempat langganan, ini enak Win, kawani abang makan ya)?”,kata Johan.

Anis menurut saja dan menyajikan makanan itu untuk mereka makan malam itu. Setelah makan Anis merasakan makanan amat kentara panasnya,maklum gulai kambing.. pikirnya tubuhnya memanas peluhnya keluar .hingga keningnya basah, Johan juga begitu.

Setelah makan saat itu mereka duduk berhadapan, masih di dalam rumah itu. Anis menceritakan tentang kedatangan suaminya hari Sabtu itu kepada Johan. Johan hanya tersenyum simpul dan tidak sedikitpun merasa iri atau cemburu mendengar penuturan wanita muda berkulit putih itu. Kemudian ia berdiri dan meraih tangan kanan Anis dan menariknya kearah kamarnya. Anis agak keberatan, berusaha melepaskan tangannya karena tak terbiasa

” Ado apo kok Anis di bao ka siko da (ada apa kok Anis di bawa kesini)?, tanya Anis jengah.

” Ado sasuatu untuak Anis (ada sesuatu buat Anis)” jawabnya…

Anis dengan sedikit menahan diri melangkah ke kamar yang terletak di sebelah kiri terpisah dari rumah induk berlantai kayu itu dengan bergandengan tangan. Anis dimintanya duduk di tepian kasur spring bed dalam kamar itu, kakinya menjuntai.

Anis duduk saja mengikuti permintaannya karena Johan memohon dengan amat sangat, tak terbersit sedikitpun akan hal- hal yang dapat terjadi pada benak wanita cantik tersebut, menurut saja. Springbednya 1 lapis saja sudah lusuh dan jarang dicuci sepertinya.

Juga bau rokok dan minuman terbersit pada hidung wanita bertubuh sintal itu. Anis memaklumi kamarnya yang agak jorok dan di sana sini banyak puntung rokok dan botol – botol minuman..

Kemudian Johan memgeluarkan sesuatu dari dalam laci meja di kamarnya berbentuk kotak berwarna hitam. Rupanya ia baru saja membeli sebuah kalung berwarna seperti emas putih. Anis merasa tersanjung atas sikapnya itu dan merasa terpuji..

“Iko hadiah (ini hadiah)” katanya.

” Uda mintak Anis mamakainyo kini juo (Abang minta Anis mau memakainya sekarang juga)” pintanya. Anis berusaha menolak

“Indak usahlah da..malu…” katanya dengan tersipu-sipu. dan merasa tidak ingin memakainya namun Johan yang saat itu berdiri di depannya terus memaksa. Akhirnya dengan terpaksa, Anis membiarkan lelaki itu bergerak kebelakang untuk melepaskan kalung itu yang tengah dipakainya. Anis menurut membiarkan, malah membantunya.

Johan melepas penutup kepala Anis yang kemudian di letakkannya dia atas ranjang, serta melepas kalung yang selama itu membelit di lehernya. kemudian memberikan kalung yang selama ini Anis kenakan ketangan Anis, dan memasangkannya kalung berwarna putih itu pada leher mulusnya dari arah belakang, dan mulai saat itu Anis memakai kalung pemberian Johan.

Setelah kalung putih tersebut terpakai, Johan mulai menciumi dan mengelus tengkuk sebelah kanannya. Tangan satunya merangkul pinggang Anis dari belakang. Anis merinding, kepalanya menunduk karena geli,

Anis berusaha menolakkan kepala Johan dengan tangan kanannya namun Johan terus saja menciumi tengkuknya, Anis kegelian dan Johan tak juga berhenti, sedangkan tangan kirinya sudah tidak berada di bahunya lagi, bergerak melalui ketiak ke depan, pada bukit padat yang membusung di dada Anis.

“Uhhh…..”Anis mengeluh merasakan gairahnya kembali terbit, lalu jemari kedua tangannya, memilin bukit padat yang membusung di dada Anis yang saat itu masih terbalut kimono dan pakaian dalamnya. Anis lalu berusaha melepas tangan Johan yang berada di dadanya, namun tidak bisa karena tenaganya lelaki tersebut kuat tak tergoyahkan!

Hingga kancing kimono itu akhirnya dilepaskan Johan. Anis diam saja hingga pakaian tersebut jatuh ke lantai. Membaringkan tubuh sintal yang terbuka pada bagian depannya hingga pinggang itu di atas ranjang. Hanya dua buah cup berwarna hijau muda polos, berukuran 34b yang masih menutupi bukit padat yang membusung indah di dada pemiliknya.

Perlahan Johan menciumi belahan dada yamg memutih mulus itu, mata Anis memicing menikmati rasa geli yang timbul.

“Ahh..”rintih wanita muda tersebut tak henti-hentinya. Hingga akhirnya penutup dada Anis lepas dan membebaskan bukit padat di dada wanita muda itu bersentuhan dengan udara bebas. Johan membalikkan tubuh Anis menyamping, hingga mereka berhadapan.

Tangannya meraih kebelakang, pengait penutup dada Anis dilepaskan berikut kimononya. Tak sedikitpun wanita muda tersebut berusaha melarang atau menolak, karena dirinyapun telah tak punya lagi yang harus dipertahankan. Saat itu pakaian atasnya sudah lepas, tubuh mulus memutih tersebut telanjang hingga pinggang.

Pikirannya kosong Hanya tinggal celana panjang yang masih pada tempatnya. Kembali Johan membalikkan tubuh mulus itu menelentang, mulai berusaha menarik celana tersebut. Anis membiarkan saja menatap sendu pada wajah lelaki gagah tersebut. malah membantu mempermudah dengan mengangkat pinggul hingga pakaian dalam yang berukuran medium dan berwarna putih polos yang merupakan lembaran kain terakhirnyapun hingga meluncur turun pada kedua tungkai mulusnya dan lepas dilantai. Anis telanjang dan terkulai pasrah didera nafsunya yang mulai bergelora.

Johanpun berdiri, melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, dalam tatapan pasrah Anis yang terlentang telanjang. Lalu rebah di samping kiri nya. Anis pun mulai menginginkannya, mungkin karena pengaruh makanan tadi membuat tubuhnya seakan amat panas bergairah.

Johan bergerak ia terus membelai dari dada hingga pusat kewanitaannya. Jari tangan kanannya masuk ke dalam lepitan kewanitaan yang basah!!! dibantu oleh kedua kaki Anis yang membuka memberikan jalan… Anis hanya bisa menatap mata Johan.., menggeliat bak cacing kepanasan dan merintih

“Ohh…”. Lalu Johan berdiri dalam tatapan Anis pada punggungnya dia dan mengambil sebuah botol berwarna hitam yang terletak di atas lemarinya. dan kembali duduk di samping kiri wanita muda yang telah telanjang tersebut.

Menuangkan isinya yang berwarna merah, keatas perutnya hingga dada dan lehernya amat wangi. Lalu ia menjilat cairan itu yang sudah tumpah di atas kulit perut dan noktah pusarnya hingga leher, ada rasa geli dingin dan gairah yang Anis rasakan dalam sinar lampu kamar yang saat itu terang benderang.

Ia menjilatnya hingga tandas, lalu kepala Johan turun, meluncur kearah kewanitaannya, tubuhnya kembali berada di lantai, dengan kedua tangan tak henti-hentinya menggeluti bukit padat pada dada wanita bertubuh sintal tersebut.. Spontan kedua kaki Anis membuka, dirinya terangsang hebat..

Saat dirinya yang diam menikmati, Johanpun membuka kewanitaan Anis dengan jemari tangan kanannya, lalu menjilatnya dengan lidahnya yang terasa kasar. Wanita bertubuh mulus itu hanya bisa menggeliat dan merintih-rintih.

Anis memiringkan tubuh karena nikmat dan geli yang dirasakan bersamaan. menarik kepala lelaki itu. Dengan intens lidah Johan…. terus bermain di liang kewanitaan wanita bertubuh sintal tersebut, memggelitiki bagian lembut yang memerah muda dan telah badah itu.

Tampaknya ia amat ingin menyempurnakan dan menuntaskan gairah yang makin membulak-bulak yang melanda tubuh sintal itu.., beberapa saat kemudian Anis… orgasme…!!! Tubuhnya mengejang.., pinggulnya menelikung keatas sambil merintih dengan keras. Saat itu Anis hanya bisa memicingkan mata kejang,.. dan merintih.. , semua cairan kewanitaan miliknya dihisap Johan…!!!

Johan bangkit .lalu ia memandang wanita sintal yang terbaring bersimbah keringat. Tangannya yang berbulu kekar membuka kedua kaki Anis yang mulai merapat kembali, lalu meraih tangan kanan Anis dengan tangan kanannya, tiba-tiba saja Anis merasakan.. menyentuh dan memegang.. sebuah tonggak yang kuat.

Dirinya kaget, rupanya Johan menarik tangan wanita muda itu agar memegang batang kejantanannya yang kokoh. Anis takjub karena ukurannya yang luarbiasa.. Karena agak takut dilepaskannya kembali. Namun Johan dengan cepat menarik tangan wanita berkulit putih itu agar kembali memegangnya.

Anis menggenggamnya sambil memandang ke wajah lelaki yang terbaring di sampingnya dengan rasa kuatir takut akan menyakitinya.., beberapa saat kemudian Anis melepaskannya kembali

Lalu Johan merangkak di atas tubuhnya yang telah lemas dan telentang. Kedua kaki wanita muda di di bukanya dan ia berjongkok memposisikan kejantanannya dengan tangan kanannya tepat pada lepitan basahnya. Menggesek-gesekkannya seperti kebiasaannya, Anispun turut bergerak, menggeser pinggulnya agar ujung membola batang kokoh itu tepat pada lepitan kewanitaannya.

Anis memicingkan mata yang ada hanya perasaan geli dan ingin cepat – cepat di masuki saja Lalu batang kaku itu masuk pelan pelan dengan lancar, awalnya geli, basah dan sebentuk benda hidup masuk.., sudah tidak sakit lagi!!!

“Uhh..”rintih Anis. Tubuh Anis terlonjak saat langsung mentok..! Kedua kakinya tetap terbuka. Kembali seluruh tubuh wanita itu di eksplorasi Johan dengan tangannya hingga Anis merasa sangat amat bergairah. Sedang kedua tangan wanita muda bertubuh sintal itu di bukanya dan jari merekapun saling mengenggam .di samping bahu telanjang wanita muda itu.

Lidahnya menggigit dan menjilati bukit padat berikut puncaknya di dada wanita berkulit putih tersebut perlahan. Bergantian sebelah kiri dan kanan . Lalu… lelaki itu bergerak menarik pinggulnya perlahan, sehingga lepitan kewanitan Anis seperti tertarik keluar dan sebaliknya saat batang kokoh tersebut menusuk ke dalam.

Kepala wanita muda terlempar ke kiri dan ke kanan saking nikmatnya rasa yang menderanya. Pinggul padatnya bergerak menyambut dengan memutar di bawah karena terangsang hebat aliran strum birahi dan sesekali menyentak keatas ke bawah pada setiap hujamannya.

“Ahh…”klimaks kembali menghampiri wanita muda tersebut. Ada rasa seperti tersengat listrik…, tubuhnya melengkung keatas dan kedua kakinya menjepit pinggangnya di belakang. Seluruh tubuhnya mengeletar dengan pinggul yang bergerak liar.

Anis ingin ia berlama lama dan tak cepat klimaks. Kewanitaannya ber denyut-denyut seolah menjepit merapat dengan kuat. Membuat Johan amat bernafsu sekali dan bergerak makin cepat. Saat itu yang membuat Anis merasa takjup saat Johan memompa itu amatlah kuat, iramanya perlahan dengan batang kejantanannya yang kokoh tak henti menghunjam dan hingga beberapa kali dan kira – kira 15 menit kemudian itu Johan semakin cepat dan menumpahkan spermanya sambil menggeram Ada rasa hangat tumpah dalam kewanitaannya.., di rahimnya.

Johanpun mendiamkan kejantanannya di dalam beberapa saat Lalu menggelosoh kesamping.. Kepuasan terpancar pada wajah wanita muda tersebut. Semburat memerah terbit pada wajahnya. Berpelukan mereka terbaring dia tas ranjang yang telah basah dan acak-acakan tersebut. Anis terpejam dan merasa hangat pada kewanitaannya. Anis puas

Kemudian Johan berdiri dan melangkah masuk kekamar mandi. Anis hanya memandang, terlentang dan telanjang dengan kaki masih terbuka, yang ada dalam pikiran saat itu hanya rasa lepas, puas dan tubuh capai, kehabisan tenaga dan daya.

Rupanya ia baru saja mandi, saat Anis melihatnya keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk pada pinggangnya. Johanpun lantas meminta Anis untuk membersihkan diri di kamar mandi itu. Anispun menurut dan beranjak ke kamar mandi, telanjang

Dalam kamar mandi itu Anis mengguyur tubuhnya dengan air dingin, segar sekali rasanya. Sewaktu menyabuni tak sedikitpun terbayangkan perlakuan Johan sebelumnya pada bagian – bagian tubuh mulusnya, yang penting tubuhnya bersih dan tidak ada keringat ataupun sisa bau tubuh Johan.

Lalu Anis melongok ke luar kamar mandi Anis meminta handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya yang telah segar. Johan mendekat memberikan handuk yang ia pakai, untuk menutupi dan mengeringkan tubuh wanita muda yang basah setelah mandi. Anis melangkah keluar dari kamar mandi dengan menakai handuk yang berwarna biru muda, agak kotor dan bau, mungkin jarang di cuci, namun Anis tidak mempunyai pilihan.

Di kamar Anis pun kembali mencari cari untuk mengenakan pakaian dalamnya namun tidak ada dan Anis bertanya. Akhirnya carik segitiga itu dapat di temukan Johan tergeletak di sudut ranjang-nya. Anis tidak sadar bahwa benda kecil itu tadinya terlempar oleh perbuatan mereka berdua. Johan berdiri mendekati di depan Anis.

Anis berusaha merebut kain segitiga penutup pertemuan pahanya dari tangan Johan. Sambil bercanda Johan melemparkan benda itu ke atas ranjang. Anis bergerak cepat meraihnya, hampir dapat namun tak di duganya handuk yang melilit tubuh sintalnya terlepas dari tubuhnya.

“ ah.. ah.. uda (aw ah.. ah.. abang)”, Anis menjerit manja. Anis kembali telanjang, berusaha menutup pertemuan pahanya dengan tangannya. Johan yang telah mengenakan celana dalam itu kembali memeluknya. Anis langsung terjerembab jatuh ke atas ranjang itu diikuti tubuh lelaki dan langsung ditindih oleh tubuh besarnya yang masih lembab sehabis mandi.

Johan berusaha menciumi bibir wanita menggairahkan tersebut. Anis yang gelagapan tak menduganya menerima perlakuannya itu sehingga mereka saling kulum. Saat itu Anis pun tidak mau kalah, membalas setiap hisapan lidah Johan Sementara kedua tangan berada di samping kepala Anis, sedangkan naluriah tangan Anis mendekap bahunya. Di bawah, Anis hanya bisa membalas perlakuan bibir dan lidah Johan, meskipun kedua kakinya telah membuka, menempatkan tubuh Johan diantaranya.

Tangan kirinya lalu meraih bukit padat membulat di dada Anis dan meremasnya, bibir berkumis lelaki itupun ikut andil dengan memberi gigitan kecil pada bukit padat yang membusung pada bagian kanan sehingga Anis mulai bernafsu lagi dan mengikuti tindakan Lelaki itu serta dan membalasnya..

Tangan kiri Johan lalu menyelusuri perut turun kearah bawah pusar menemukan gundukan hangat kewanitaan Anis, dan jarinya masuk kedalam..!! Anis semakin tidak karuan, Anis sudah mulai basah, gejolak tubuhnya sudah menegang, mendesah semakin menjulang, tubuh Johan turun, membuat rasa basahnya semakin menjadi – jadi saat kepala Johan ikut turun, menjilat seluruh isi kewanitaannya.

Anis tentu saja menjepit kepalanya karena rasa geli.., gairah.., dan rasa yang seakan meledak di dalam tubuhnya sementara kedua tangannya berada pada kepala lelaki tersebut, menarik dan menjambak rambutnya..!! Anis mendengus,

“Mnnnh ah mm ughmm”, Anis mulai merasakan ada aliran basah mengalir dari dalam kewanitaannya.

Kemudian Johan bangkit dan berdiri, memposisikan tubuhnya sejajar diatas tubuh indah wanita muda tersebut. Tubuhmya telah telanjang juga . Rupanya saat melakukan rangsangan pada Anis, Johan juga melucuti pakaian dalamnya sendiri.

Dengan kedua tangannya diraihnya kedua kaki wanita muda itu dan membukanya, sementara Anis hanya bisa memegang dengan erat kain sprei… Johan mengarahkan batang kokoh kejantanannya, bersiap memasuki tubuh wanita muda yang telah terkangkang pasrah itu.

Anis tak berani memandang ke bawah dan hanya menatap ke samping karena agak malu, kuatir dan jengah… Perlahan Anis merasakan sebentuk batang yang kokoh tengah memasuki tubuhnya di bawah. Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya karena dirasakannya masih terasa seret dan nyilu. Tak dapat lagi ia hentikan karena telah mulai masuk.., rasanya panas dan kaku..! Lelaki itu bergerak memajukan pinggulnya, mendorong batang tegangnya hingga masuk semuanya..

“Ou… uhh..” erang Anis saat batang tegang yang kaku itu amblas terbenam… tubuhnya menggila matanya memicing… dengan tangan mencengkeram sprei. Anis tau keseluruhan batang tegang Johan telah terbenam amblas dalam kewanitannya saat terasa selangkangan lelaki itu saat berbenturan dengan pertemuan kedua paha Anis. Johan diam beberapa saat.

Perlahan ditariknya kembali. Terasa lepitan kewanitannya tertarik kembali. Saat Anis mulai merasakan nyaman pada kewanitaannya dengan batang tegang itu didalamnya. Anis mendesah keras,

“Ouhh….” Baru beberapa senti kira-kira seperempat bagian yang keluar Johan mendorong pinggulnya lagi, sangat perlahan..! hingga mentok, rasanya hangat, masih ada sedikit rasa tebal dan nyilu…¦!!

Johan menarik kembali lagi beberapa saat hingga berulang- ulang, Gerakan Johan semakin cepat,

“Uu…auuu… ugh.. ugh…” Anis mendesah dengan cepat. Meski tanpa ada gerakan berarti dari tubuh wanita muda bertubuh indah itu karena sudah merasa capai dan otot pinggulnya serasa kaku, ia sangat menikmati persetubuhan ini.

Anis menjadi agak malu karena saat Johan bergerak memacu pinggulnya itu terdengar ada kecipak bunyi – bunyian pada pertemuan kedua selangkangan mereka yang telah basah oleh keringat. Hingga sekarang Anis masih merasa malu pada dirinya sendiri apabila mengingat itu.

Beberapa saat kemudian Anis mengerang keras dengan serak, matanya terpejam dan meledak.. tubuhnya menegang kejang.., melentingkan punggungnya keatas bak ulat tertusuk duri, menjepit ketat pinggul Johan dengan kedua kakinya yang saling berkait di belakang Bagian dalam kewanitannya kembali berkedut-kedut. Jiwanya serasa ringan, terbang melayang… lalu terkulai.. capai..

“Ohh… ahhhhhh… addduhh…duhh”

Johan masih terus bergerak, menghujamkan batang tegangnya pada kelembutan basah kewanitaan Anis tak berhenti… malah semakin cepat..!!! Anis sudah sangat lemah saat itu, hanya terlentang, terkangkang pasrah.

Kedua tangannya tergolek tidak berdaya memegang apapun. Hanya suara kecipak pertemuan kelamin mereka saja dan nafas Johan yang memburu riuh terdengar dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian Johan dengan cepat menyusul.

Seraya menggeram ia menyentakan pinggulnya ke bawah dengan kuat membuat pinggul wanita muda itu terbenam dalam kelembutan ranjang, menyemburkan cairan kental yang hangat miliknya di dalam kewanitaan Anis. Dan iapun rebah lagi diatas tubuh wanita bertubuh sintal itu beberapa saat, lalu menggelosoh ke samping Anis..

Jam 2 malam itu juga Anis meminta di antar kembali ke kamarnya namun Johan memaksanya tidur di situ.

“Da… Anis.. ka kamar malam iko yo (bang Anis..kekamar malam ini ya..),

“Beko Uni uda pulang baa pulo? Bisa gawat da (nanti kakak abang pulang gimana? bisa gawat bang..)”.kata Anis tetap ngotot. Anis takut jika tiba-tiba kakaknya pulang sedangkan Anis berada di dalam kamar adiknya.

” Kan Anis masiah latiah, disiko sajo lah. Uni pulangnyo indak mungkin malam ko (kan Anis masih letih, disini sajalah, kakakku pulangnya gak mungkin malam ini koq)”, sahut Johan.

“Anis indak namuah lalok disiko, kalau di caliak urang lain tantang awak apo pulo katonyo beko (Anis tidak mau tidur disini, nanti jika dilihat orang lain tentang kita bagaimana)?”, kata Anis menerangkan.

Dengan berat hati dan malas-malasan Anis melangkah diantar Johan ke kamarnya, meski tidak terlalu jauh. Dan untungnya jalan menuju kamarnya lampunya tidak ada sehingga tidak akan ada orang yang tau. Saat sampai di pintu paviliunnyanya. Anis masuk tetapi dengan nakal tangan Johan masih sempat meraih dada membusung Anis yang langsung menepisnya. Saking lelahnya Anis tidak teliti sehingga penutup segitiga pakaian dalamnya masih tertinggal di kamar Johan. Anis berbisik pada Johan,

“Da, sarawa Anis lupo…, (bang pakaian dalam Anis lupa di pakai)”dengan tersenyum Johan berkata,

“Bisuak lah uda anta-an, maleh bulak baliak (besok abang antarkan, malas bolak balik). Begitu tau Anis tidak mengenakan pakaian dalamnya, tangan Johan lansung meraih ke bawah, berusaha meraba kewanitaannya yang tertutup pakaian tidur.

” Malu da, iko kan dilua (malu ini kan diluar bang..)”, kata Anis

Anis kemudian mencuci muka dan berbaring. Langsung ia tertidur karena kelelahan yang amat sangat akibat persetubuhan tadi. Dan esok nya kembali bekerja seperti biasa. Anis juga sudah lupa pakaian dalamnya yang tertinggal di kamar Johan. Setelah dia mengatakan akan menyimpannya di tempat yang aman. Anis tidak kuatir lagi..

Akibat Setelah Menikah Masih Terpisah Jarak

Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*