Cerita Sex Kenikmatan Tak Terhingga Page 2 | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Sex Kenikmatan Tak Terhingga Page 2

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Kenikmatan tak Terhingga Page 2.
Meneruskan cerita tadi siang.
Dengan sempoyongan aku membukakan pintu, dihadapanku berdiri sesosok makhluk dengan ukuran tidak manusiawi, tinggi besar dan hitam. Tetapi setelah kuperhatikan, ternyata dia adalah Setyo. Cerita Sex Terbaru

Cerita Dewasa Kenikmatan Tak Terhingga Page 2

 cerita sex Pelajar, cerita sex panas Pelajar, cerita sex terbaru Pelajar, cerita sex hot Pelajar, cerita sex foto Pelajar cerita sex mesum pelajar

Cerita Dewasa Kenikmatan tak Terhingga Page 2

”Kok gak masuk tadi coy?”, tanya Setyo ceria.

”Loh? Tau darimana? Perasaan kita beda SMA deh…”, aku kebingungan.

”Itu, Rangga tadi SMS, dia mau jenguk bareng Tama, tapi ada tugas menda
dak, jadi nggak jadi.”, ujarnya sambil meringis-meringis.

“Ni orang otaknya kenapa sih?”, tanyaku dalam hati.

”Oh, yaudah masuk dulu…aku demam coy…kepalaku sakit banget…”, kataku sambil mempersilahkan Setyo masuk.

”Nggak ah, makasih, aku mau langsungan..hehehe”, jawab Setyo cengar-cengir.

”Ini orang kenapa sih? Aku bener-bener nggak ngerti”, pikirku.

“Aku pulang dulu ya Rif, cepet sembuh coy!” kata Setyo sambil berjalan keluar gerbang

”Iyaa…makasih ya Dan!”, sahutku ceria.

Ketika Setyo telah pergi, ternyata tepat di belakang tempat Setyo berdiri tadi ada sesosok makhluk lain yang memperhatikanku, dia mengenakan pakaian putih dan menyeringai. Rasa dingin merayapiku.

”Woi! Kaya liat setan aja! Kenapa sih?”, tanya Ira membuyarkan lamunan horrorku.

”Eh? Loh?”, tanyaku kebingungan.

“Emang mukaku kaya setan yaa?”, tanyanya lagi dengan bibir manyun.

”Ah, bukan..bukan…tadi aku halusinasi…maaf.”, jawabku.

“Jadiiii…..?” ,tanya Ira, dia tersenyum.

”Jadi apaan?” ,aku semakin kebingungan.

”Aku gak disuruh masuk atau gimana gitu?” ,sindirnya sambil tertawa.

”Oh iya….maaf…ayo masuk…maaf berantakan…” ,aku mempersilahkannya masuk.

Begitu aku membalikkan badan setelah mengunci pintu, Ira tidak ada di ruang tamu. Aku kebingungan…apakah yang kulihat tadi hantu? Perasaanku jadi tidak enak, maka kuputuskan untuk tidur lagi.

Mungkin aku terlalu lelah. Ketika aku masuk kamar, tiba-tiba pintu kamarku tertutup sendiri. Aku mematung ketakutan. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang dan melihat Ira sedang nyengir melihat reaksiku dengan gayanya yang khas, kedua tangannya dimasukkan saku jaketnya yang berwarna putih.

“Eh kunyuk, udah tau aku lagi sakit, masih aja jail.” ,aku duduk di tepian tempat tidur sambil menghela nafas.

”Iya maaf…hehehe…gimana sakitnya?” ,Ira duduk disebelahku.

”Udah ada kamu, jadi aku udah gak apa-apa.” ,aku menatap matanya sambil tersenyum.

Ira tampak terkejut mendengar jawabanku. Sejenak kami saling berpandangan. Perasaan hangat membuncah dari dalam hatiku…aku cinta mati kepada cewek di hadapanku ini.

Matanya yang paling kusuka, mata yang teduh itu, mata yang memancarkan ketenangan dan kedewasaan yang begitu dalam.

”Ah iya. Aku bawa makanan nih. Tadi aku beli di kantin.” ,katanya mengalihkan pembicaraan.

”Aku kan udah bilang. Kamu ada disini aja udah cukup.” ,kataku sambil memeluknya dari belakang, kulingkarkan tanganku di pinggangnya, berharap Ira bisa merasakan kehangatan yang mengalir dari hatiku.

Dia terdiam sesaat, sepertinya ia merasa canggung. Tetapi tidak mengubah posisinya dan melanjutkan menawari aku berbagai macam makanan.

”Aku juga bawa buah loh. Mau nggak? Ada macem-macem, ada apel, jeruk, pear. Mau yang mana?”
,tanyanya dengan terburu-buru. Ira mengeluarkan sebuah apel dari dalam tasnya.

“Kamu sekolah apa kondangan sih?” aku mengejeknya

“Hehehhe…sekolah, tapi buku pelajaran udah aku taruh dirumah tadi” Ira tertawa

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Menikmati tiap detik yang kulalui, aku merasa tenang mencium wangi tubuhnya. Aku…ingin begini selamanya…

”Aku mau dong buahnya.” ,jawabku.

”Oh? Mau yang mana?” ,tangannya masih menggenggam sebuah apel.

”Aku maauuu….” ,rengekku dengan manja.

”Iyaaa….mau yang mana ? Apel? Jeruk? Pear?” ,jawabnya sambil tersenyum.

”Gaak….aku gamau semuanya….” ,bantahku.

”Loh? Katanya mau buah? Yang mana nih?” ,Ira tampak kebingungan.

”Aku mau buah yang ini…” ,tanganku dengan sigap melepas kancing seragam dan menyelinap ke balik bh yang dipakainya. Kuremas-remas buah dadanya dengan lembut.

”Aaaaaahh…..Rif jangan…!!” ,desah Ira, apel yang ada ditangannya jatuh ke lantai.

Langsung saja kulumat bibirnya.

”Mmmmmhh…..mmmhh….!” ,Ira berusaha mendesah, tetapi terhalang oleh bibirku.
Tangan kiriku menyusuri buah dadanya, kemudian turun ke perut, masuk ke rok lalu kuselipkan kedalam celana dalamnya.

“Belum basah.” ,pikirku. Kutarik tangan kiriku dan kujilat jari tengahku, kemudian kuselipkan lagi masuk celana dalamnya. Langsung saja kugesek-gesekkan jariku ke vaginanya.

”Iyaaaaaaaahh….aaaaaaahhh….aaa aahhhhh….aawwh…mmmhh …!!” ,Ira mendorong bibirku menjauh agar bisa mendesah, nafasnya sudah tidak beraturan.

Mulutku kini bebas. Langsung saja kupakai untuk menciumi leher jenjangnya yang menggairahkan. Beberapa menit aku mengerjai Ira dengan menambah intens gesekan dan remasan di tubuhnya tiap menit yang berlalu. Kamarku kini dipenuhi suara desahan dan lenguhan nikmat Ira.

”Aaakuu….aaaahhnn….aaaahh….ngg ghh….maauu….aaahh…aa ahh….keluaaarr….uaaaaahh….!” ,pekiknya tertahan.

Pahanya mengapit erat tangan kiriku, sementara kedua tangannya mencengkeram tangan kiriku juga. Kini kuku-kuku kedua tangannya kembali menancap di tanganku, kali ini tangan kiri. Tubuhnya mengejang hebat, sesaat kemudian Ira jatuh terduduk di lantai kamarku. Nafasnya tersengal-sengal, karpet lantai kamarku basah oleh cairan orgasmenya.

”Ihiiy…ciyee…ciyeee…yang habis orgasme…hahaha” ,candaku.

”Berisik! Diem lah kamu…! Haahaha” ,jawab Ira, bibirnya bergetar hebat.

”Iya..iya…nambah juga nih koleksi tattoo di tanganku. Kemarin yang kanan, sekarang yang kiri…hahaha…” ,sindirku

“Ma…maaf…aku nggak sengaja…sungguh…”

”Iya, nggak apa-apa kok…” ,jawabku singkat

Kubantu dia berdiri, sesaat kami berpelukan, kutatap matanya…mata yang indah yang selalu kudambakan…kemudian kucium bibirnya dengan lembut…

Kulepas sepatunya yang dari tadi masih dipakainya dan kutidurkan dikasur. Aku berbaring di sampingnya. Setelah nafasnya teratur, tiba-tiba dia berdiri dan melepas rok beserta celana dalamnya.

”Eh…eeh…mau ngapain kamu? Mabok yah?” ,tanyaku terkejut sekaligus heran.

”Hehehehe…” ,Ira hanya terkekeh.

Sekarang dia hanya mengenakan seragam yang sudah kusut dan kancingnya terbuka setengah, tanpa rok maupun celana dalam. Sontak ‘adik’ku menegang dengan hebatnya, jadi keras kayak mayat siap dikubur.

Dengan cepat, Ira menidurkanku, sekarang posisi kami 69, favoritku. Hehehehe…

Vaginanya tepat berada didepan wajahku.

”Ih…wooww…” ,gumamku takjub.

”Kenapa?” ,tanya Ira

”Unyuuuuuu…..hahaha” ,langsung saja kugesek-gesek vaginanya dengan jari.

”Aaaaahh….na…nakal…!” ,desahnya dengan manja

Ira mengelus-elus penisku dari luar celana yang kukenakan. Geli gimana gitu. Jadi tambah tegang.

”Eh, Ra, kamu serius nih? Udah pernah kaya ginian belum?” ,tanyaku tidak yakin

”He eh…santai aja. Belom…ini yang pertama. Hehehe” ,dia membuka celanaku

”Apa gapapa nih? Yakin kamu?” ,aku masih belum yakin.

”Iiih…gak percaya amat. Coba aku praktekin kayak tadi malem waktu aku liat bo…….kep?” ,kata-katanya sempat terhenti ketika celana dalamku sudah terlepas dan ‘adik’ku dengan gagah berdiri, dengan bentuk evolusi akhir.

Aku pun agak kaget; “Woi! Itu kamu ‘dik’? Kamu kenapa hah bisa sampe kaya gitu?” ,tanyaku kepada sang ‘adik’ dalam hati.

“Hehehe…jadi malu…” ,aku tersenyum

”Wow…ternyata gini toh…anunya cowok…” ,tatapnya penasaran sambil memegang batang penisku. Rasanya aneh, tapi enak.

”Eh, apa tadi malem kamu nonton bokep?” ,tanyaku

”Iya…yaa walopun aku sempat muntah ngeliatnya…baru pertama aku liat bokep..” ,jawab Ira tersipu.

Tanpa ba bi bu, Ira langsung memasukkan penisku ke mulutnya dengan agak canggung. Dia jilati dari ujung ke pangkal. Rasa dingin sekaligus hangat menyelimuti penisku. Tiap gesekan dengan lidahnya membawa sensasi nikmat, membuatku merinding.

”Oooohh…..” ,aku mengerang, seluruh tubuhku gemetar karena nikmat

”Coba aku praktekin kayak yang di bokep ya?”

Dia memaju-mundurkan kepalanya, penisku keluar masuk mulutnya dengan bebas.

Ketika aku menyentakkan pinggulku, penisku masuk terlalu dalam ke tenggorokannya.

”Hmph…” , Ira memejamkan matanya rapat-rapat saat penisku masuk sampai tenggorokannya

”Uups…sori…gimana rasanya?” ,kataku.

“Mmm…ga terlalu buruk kok…tapi aneh sih…” ia melepaskan penisku dari mulutnya supaya bisa berbicara.

Ku belai-belai dan kubuka sedikit bibir vaginanya. Dari sini, aku bisa melihat jelas klitorisnya yang waktu itu belum sempat dieksploitasi besar-besaran oleh lidahku. Kuhisap klitorisnya, kugigit kecil dan kubelit dengan lidahku. Responnya diluar dugaan.

”Mmmmmmuaaaahhh…..aaaaarrrghhh ….!! Disitu…aaaaagghh….aaaahh…aaahh h…” ,teriak Ira. Dia melepaskan penisku dari mulutnya, ia menjerit dan kepalanya mendongak keatas.

Kemudian kepalanya terkulai lemas disamping penisku yang masih dengan angkuh berdiri. Sesekali dia menjilat batang penisku dengan lemah. Wajahnya sayu, kelelahan. Melihatnya dalam kondisi seperti ini, nafsuku semakin meledak. Serangan lidahku semakin gencar di klitorisnya.

”Ngggghhh…..aaahhh…aaaahhh….uu uuhhh…..mmmhhh…..ter us Riff…terusin…ooohh….iyaaaahh…” ,matanya terpejam dan nafasnya pendek-pendek.

Beberapa detik kemudian, Ira menekan vaginanya ke mulutku dengan kuat, aku megap-megap. Tubuhnya bergetar hebat.

”Riiiiiiiiifff……aku….keluaaaaa aaaaaarrr….!!” ,jeritnya.

Dia mengalami orgasme yang kedua kalinya. Cairan orgasmenya membasahi mulutku. Euh…baunya aku tidak tahan. Segera setelah itu, dia terkulai lemas diatas tubuhku.

”Makasiih Ra…mulutku basah semua!” ,ujarku kepadanya dengan nada sinis.

”Mmmmhh…?” ,matanya terpejam dan kelihatan sangat lemas

Aku duduk dan mengangkat pinggulnya dari belakang. Dari posisi ini, aku dapat melihat punggungnya yang basah oleh keringat dan wajahnya yang kelelahan.

“Sekarang, gantian yaa” ,ucapku santai. Dari belakang, kulucuti semua pakaiannya hingga dia telanjang bulat.

“Jangan…Rif…aku masih virgin…” ujarnya lirih, nafasnya berat dan pendek

Ira masih tersengal-sengal ketika kutempelkan penisku di vaginanya. Aku tahu kalau dia tidak akan melawan, pasti sudah kelelahan akibat dua kali orgasme. Dengan bantuan tangan, kujejalkan penisku yang sudah basah masuk ke dalam vaginanya.

Separuh kepala penisku ditelan vaginanya.

“Aaaargh! S-sakit Rif! Sakiit!! Cabut! Jangan diterusin! Aaaarrggghh!!” ,Ira berteriak keras sekali. Matanya terbelalak, tangannya menggapai-gapai meraih penisku, mencoba mencabutnya.

Dengan kedua tanganku yang masih bebas, kutekan bagian sikunya sehingga dia tidak dapat menjangkau penisku. Dengan satu hentakan keras, kujejalkan penisku seluruhnya. Kini seluruh penisku telah masuk. Darah segar mengalir pelan dari bibir vaginanya.

”Aaaaaaaahhhh!!” ,Ira berteriak pilu dan mulai menangis.

Rasanya enak sekali, walaupun sempit, tapi vaginanya hangat dan meremas-remas penisku. Uuuh….nikmatnya. Pelan-pelan kupompa penisku keluar masuk vaginanya.

Kugenjot Ira beberapa menit sampai kemudian kudengar desahan disela isak tangisnya.

”Lama-lama enak kan?” ,tanyaku sambil tersenyum

”Sakit…” ,air matanya mengalir

Beberapa saat kemudian, ketika sudah mulai terbiasa, Ira sudah tidak lagi menangis namun mendesah tidak karuan. Aku tersenyum. Kupompa lagi vaginanya dengan kekuatan penuh.

”Auh…uuh…teruss Rif…cepetin…aaahh…iyaa…disitu… mmhh…teruss..” ,Ira meracau.

Kubalikkan badannya sehingga kini dia telentang dihadapanku. Kugenjot vaginanya dari depan.
”Uuuhh…..enak Ra…aahh…aahh…” ,aku sudah tidak mampu menahan desahan.

”Iyaa…aaahhh…aku juga….uuuhh…enaakk….teruss Riiiff…ooohhh…” ,sahutnya.

Aku tidak merubah posisiku. Aku dan Ira terus bermain pada posisi ini sampai kira-kira 20 menit, hingga mendekati klimaks.

”Kkamu…selesai dapet kapan Ra…?” ,tanyaku sambil menahan nafas

”Tiga…aaaahh…hari yang lalu…aahh…ngghhh…” ,lenguhnya

”Hmff…aku…hampir…sampai….aaahh …ahhh….” ,ujarku

”Aku….uuh…juga…aaahh…”

Penisku berdenyut-denyut.

”Kita…keluar…bareng yaa…” ,kataku

Beberapa detik kemudian, aku rebah dan memeluk tubuhnya dengan erat

”Akuu…..keluaarr…incoming……!!” ,aku mengerang

”Aaaaaaaaahhhhhh…..!” ,jawab Ira dengan jeritan

”Aaaaaarrrrrgggghhhh!!!” ,kami berdua mengerang pada saat yang bersamaan

Croott…crooottt…crooott…sperma ku mengalir dengan deras didalam vaginanya.

Pada saat bersamaan, Ira juga mengalami orgasme. Vaginanya meremas penisku dengan kuat, tubuhnya mengejang dan melengkung.

Kami berdua memejamkan mata dengan rapat dan saling berpelukan, menikmati tiap detik sensasi yang kami rasakan. Rasa hangat mengalir keseluruh tubuhku. Tubuhku dan Ira sama-sama bersimbah keringat. Aku melepas pelukan dan membaringkan diri disampingnya

Aku menoleh, kutatap wajahnya yang dipenuhi berbagai macam ekspresi, antara lelah, senang, puas, sedih, dan takut. Semua bercampur jadi satu.

“Kamu udah ngambil virginitasku Rif…jangan tinggalin aku…” Ira berkata sambil menahan tangis

”No matter what happen, even when the sky is falling down, I promise you that I will never let you go. Aku sayang banget sama kamu Ra…makasih ya..” ,ucapku sambil tersenyum, lalu kukecup keningnya.

Ira hanya tersenyum sedih dan menyandarkan kepalanya di dadaku kemudian terlelap. Kupeluk dia dengan penuh kasih sayang. Kutarik selimut hingga sebatas dadaku dan aku pun tidur.

Malam itu, Ira menelpon rumahnya untuk memberitahu bahwa dia sedang menginap dirumah teman ceweknya, padahal dia sedang tiduran denganku di kamar. Ini malam minggu, jadi aku tidak perlu khawatir.

Minggu pagi…

Aku merasa silau karena sinar matahari pagi tepat mengenai mataku. Aku bangun dengan malas. Ketika kulihat kesamping, Ira masih terlelap tanpa pakaian. Spontan ‘adik’ku kaget setengah mati dan melonjak tegang.

”Auh!” ,aku agak berteriak karena merasa ‘adik’ku senut-senut.

”Mmmh…udah pagi ya?” ,Ira terbangun mendengar suaraku.

Sejenak dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian ketika matanya sudah terbiasa, dia terbelalak mendapati dirinya tidak memakai pakaian apapun dan melihatku berbaring disampingnya tanpa mengenakan pakaian.

”Halo Ra!

PLAKK!!!!

Satu tamparan sukses mendarat di pipi kananku. Dia buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.

”Apa-apaan sih?! Pagi-pagi aku udah dianiaya!” ,kataku sebal sambil mengusap-usap bekas tamparannya dipipiku.

Ira tampak bingung. Kemudian setelah melihat sekelilingnya, dia baru sadar.

”Aduh! Maaf Rif! Aku nggak inget kalo semalem aku tidur sama kamu..!” ,ujarnya panik

”Grrrr…!!” ,aku menggeram marah

Ira tampak ketakutan melihat reaksiku. Tangannya agak gemetar.

Segera saja kuterjang dia, aku melompat dan mendarat diatas tubuhnya, kedua tangannya kutahan.
“Kamu ini!” ,geramku, kemudian kucium lehernya dengan lembut.

”Aaahh…maaf Rif…aku…mmmhh….nggak sengaja…hhh…” ,desahnya.

Kugesek-gesekkan penisku di selangkangannya sementara lehernya masih kucium.

Ketika tanganku sudah mulai turun ke buah dadanya, HP ku berbunyi dengan nyaring.

Spontan kuhentikan aktivitas dan kuraih HP ku. Sepintas kulihat raut wajah Ira yang sebal karena merasa terganggu, kemudian ia menarik selimut hingga ke atas kepala..

Cih! Ganggu aja ni orang

Ada panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera di layar HP ku : Rangga.

”Yo Ngga! Kenapa?”

”Dasar! Dari tadi malem aku telpon kamu tapi nggak diangkat!”

“Sori…sori men…kagak denger…! Ada apa?”

”Mau tanya keadaanmu gimana. Katanya sakit, kok ceria gitu?”

”Ah…udah sembuh…makasih…”

”Eh, kita-kita mau pada main nih ikut nggak?”

”Motorku ancur Ngga…mau naik apa?”

”Udaah…kumpul dirumahnya Tama, jam 12 yaa. Bawa baju ganti buat 3 hari.”

“Eeh, tunggu Ngga!”

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kata, panggilan sudah diputus oleh Rangga.

Aku mematikan HP dan berjalan ke arah Ira yang meringkuk dibalik selimut.

Aku masuk ke balik selimut, tanganku meraba-raba.

”Iraaaa…..” ,kataku ketika tanganku sudah menemukan apa yang kucari.

”Kenapa? Aaaww…masih pagi udah ngremes-remes susu…geli tau!” ,jawab Ira sambil menyingkap selimut dan mencoba menyingkirkan tanganku dari buah dadanya.

Ira tersenyum, senyum yang manis sekali dan aku merasa nge-fly mengetahui bahwa senyum itu ditujukan padaku.

”Biar deh…hehehe…peluk dong!” ,ucapku dengan manja

”Iih..manja amat sih…” ,ejeknya, tetapi dia tertawa lalu memelukku.

Kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku meletakkan kepalaku di dadanya. Terasa kenyal dan hangat. Aku merasa sangat nyaman, kunikmati setiap jengkal kulitnya yang mulus di tubuhku.

”Ssstt…liat sini deh..” ,panggilku

”Hmm?” ,ia menunduk menatap wajahku

Segera saja kucium bibirnya dengan lembut. Bibir kami bertautan cukup lama. Aku melepaskan bibirku dan kutatap matanya. Mata yang tidak berubah, mata yang selalu membuatku terpesona. Ira membuatku benar-benar jatuh cinta padanya. Kami berpelukan lagi.

Setelah membersihkan diri, aku mengantar Ira pulang naik motorku yang satunya.

Kemudian aku langsung menuju ke rumah Tama. Entah kenapa Rangga menelepon tidak jelas seperti itu.

”Hoi! Sori telat!” ,kataku kepada teman-teman se geng ku. Mereka sedang duduk diteras.

Aku membuka pagar dan masuk ke halaman rumah Tama

”Aaah ga asik ah! Pacaran mulu!” ,ejek Setyo

”Pacaran your head! Punya juga belom” ,bantahku sambil tertawa

”Udah udah…gini loh, mobil ayahku nganggur nih. Besok kita libur 1 minggu. Mau main kemana?” ,jelas Tama

”Kepantai yuuk!” ,usul Rangga dengan senyum lebar

”Pantai? Bosen cuy…yang lain coba…” ,tolak Setyo

“Gimana kalo kita ke gunung gitu?” usulku

”Yaaa! Boleh! Tapi mau kemana?” jawab Tama semangat

”Ada tempat yang bagus sii…telaga di dataran tinggi, ada camping groundnya juga.” ucapku sambil menyebutkan nama suatu daerah

“Hmm….bagus juga…kapan nih kita berangkat?” tanya Tama lagi

”Mobilmu kosong mulai kapan? Siapa yang mau nyetir?” interupsi Setyo

”Sore ini udah kosong. Nyetir? Rangga aja gimana?” jawab Tama

”Okeh!” Rangga menyahut

”Bawa anak-anak cewek ga nih?” tanyaku penuh harap

Semuanya hanya memandangku dengan menyunggingkan senyum mesum. Aku sudah tahu jawaban mereka.

Maka esok paginya kami dengan pasangan masing-masing kumpul dirumah Tama. Seakan-akan surga mengijinkan, orang tua Tama pergi keluar kota bersama teman-teman kantor mereka, jadi tidak akan ada yang menanyai kami kenapa membawa cewek-cewek.

Aku dengan Ira, Rangga dengan Angel, Setyo dengan Dian, dan Tama dengan Luna.

Sayangnya mobil penuh, sehingga Ade dan Feby memutuskan untuk tidak ikut.

”Heh! Katanya bawa cewek sendiri. Kok malah ngajak Ira sih?” semprot Rangga ketika aku dan Ira datang.

”Hayoo…kalian jadian kapan hah?” goda Setyo sambil meraih tangan Dian

Aku dan Ira hanya tersenyum. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

”Uuuuff….panas ya? Ohya, anak cewek yang lain pada dimana?” tanya Ira sambil mengibaskan tangan karena kepanasan

”Noh di dalem…lagi pada ngadem” sahut Tama tanpa memalingkan wajah. Ia sibuk mengecek mesin mobil bersama Rangga

”Aku ganti baju dulu yah Rif? Panas nih…” tanya Ira kepadaku. Aku hanya mengangguk.

Ira mengambil tas yang ada di motorku kemudian berlari kecil masuk ke rumah Tama.

Tak lama kemudian terdengar anak-anak cewek pada cekikikan. Tak tau apa yang mereka bicarakan.
Beberapa lama kemudian…

”Oii…mobil dah siap nih…girls, ayo berangkat!” Rangga berteriak dengan semangat.

”Tam, aku titip motor ya? Kumasukin garasi ya?” seruku kepada Tama diiringi anggukan kepalanya.
Setelah aku keluar garasi, kulihat semua anak-anak sudah naik mobil semua kecuali Ira. Dia berdiri di depan pintu, menungguku. Rupanya dia telah mengganti pakaian, sekarang dia mengenakan kaos santai dan … … what the hell?! Dia memakai rok mini!

Uuh…adikku menggeliat dari tidurnya merasa terganggu dengan pemandangan dihadapanku. Begitu aku berjalan disebelahnya, Ira menggamit lenganku. Dadanya yang kenyal bersentuhan dengan lengan kananku. Adikku sudah setengah sadar…

”Hoi! Cepetan!!” Setyo berseru tidak sabar

Aku dan Ira pun naik ke mobil. Kami duduk dengan pasangan masing-masing.

Angel duduk disebelah Rangga yang sedang mengemudi, Tama dan Luna duduk dibelakang bersama Setyo dan Dian. Sementara mereka membiarkanku berdua dengan Ira di kursi tengah. Mobilpun melaju dengan mulus.

Tama dan Setyo sibuk dengan cewek mereka masing-masing. Rangga menyetir sambil bercakap-cakap dengan Angel. Aku yang duduk disebelah kiri Ira, memilih membaringkan kepalaku di pahanya yang putih mulus.

”Hei…” aku memanggil Ira.

Dia menoleh kearahku. Kutatap matanya yang teduh dan akupun tersenyum. Ira membalas senyumanku, kemudian ia mengelus pipiku. Aaah…aku sangat bahagia. Sejenak, kata-kata gombal yang dilontarkan Tama kepada Luna, suara khas kuli pelabuhan Setyo, dan obrolan tak jelas Rangga dengan Angel mendadak hilang.

Kesunyian ini bertahan hingga Setyo berteriak menawarkan makanan ringan kepada kami. Aku dan Ira sama sama menggeleng.

Aku kembali tiduran dengan menghadap ke arah Ira. Kuberanikan diri mengangkat rok mininya sedikit, mencoba mengintip kedalam roknya.

”Sssstt!!” Ira menghardik dengan risih sambil menyingkirkan tanganku.

Aku tersenyum salah tingkah. Namun Ira juga tersenyum melihat tingkahku.

Sepertinya adikku benar-benar mengamuk, menggedor-gedor hingga celana jeans yang kukenakan menonjol. Sesak sekali. Spontan aku menekuk lutut dengancepat. Ira yang kaget menoleh, dan ketika melihat tonjolan di celanaku, senyumnya menjadi canggung.

Tiba-tiba….

”Aaaahh….ssshhh…..aaaahhh….” ada suara desahan dari belakang

Otomatis aku melonjak terduduk, aku dan Ira sama-sama menoleh kebelakang.

Kami berdua terhenyak, pemandangan yang kami lihat benar-benar tak dapat dipercaya.
Dian sedang dipangku oleh Setyo, sementara tangan Setyo masuk kedalam kaosnya dan meremas-remas payudaranya.

Tama sedang sibuk menciumi leher Luna, diiringi desahan-desahan dari kedua pasangan.
Aku dan Ira kembali menoleh kedepan dengan melotot, tak percaya apa yang baru saja kami lihat. Kutatap Ira, dibibirku tersungging senyum nakal. Ia mengerti maksudku.

Segera saja kuangkat kedua kakinya, kemudian aku melepas celana dalamnya. Kali ini Ira tidak melawan. Dengan gerakan tiba-tiba, kusapukan lidahku di vaginanya, kujilat dan kuhisap klitorisnya. Tubuhnya menegang.

”Aaaaahhnnn…..nggghh…..aaaaahh h….aaaasssshhh…..uuu hh..” desah Ira dengan penuh kenikmatan. Tangan kanannya menjambak rambutku sementara tangan kirinya terkulai lemas di leherku. Matanya terpejam, menandakan dia menikmati kehangatan lidahku yang keluar masuk lubang vaginanya.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Tama dan Setyo menghentikan aktivitasnya, Luna dan Dian berhenti mendesah dan memperhatikan Ira dengan rasa ingin tahu. Sepertinya mereka penasaran karena suara desahan Ira yang jelas-jelas penuh dengan kenikmatan.

Ira tersadar, kemudian dia sadar bahwa Tama, Setyo, Luna dan Dian memandangnya dengan ekspresi heran. Wajahnya langsung memerah karena malu, dia menunduk, mengambil celana dalamnya yang jatuh kemudian langsung mendorong kepalaku dan menutupi roknya dengan kedua tangan.

Mulai saat itu, semua anak diam tak bersuara sampai tujuan kecuali Angel dan Rangga yang sibuk ngobrol, sepertinya mereka tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya diam saja
Tamat
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa