Cerita Sex Kenikmatan tak Terhingga Page 1 | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Dewasa Kenikmatan tak Terhingga Page 1

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Kenikmatan tak Terhingga Page 1. Aku seorang siswa SMA dan disekolah aku juga naksir dengan cewek SMA sebelah, namanya Ira dia orangnya cantik popular di sekolahan dan banyak lelaki yang naksir dengannya, aku kadang juga gak berani mengungkapkan rasa kepada Ira, mau nulis sms saja groginya minta ampun, soalnya aku pernah trauma waktu deketi wanita. Cerita Sex Terbaru

Cerita Dewasa Kenikmatan tak Terhingga Page 1

 cerita sex Pelajar, cerita sex panas Pelajar, cerita sex terbaru Pelajar, cerita sex hot Pelajar, cerita sex foto Pelajar cerita sex mesum pelajar

Cerita Dewasa Kenikmatan tak Terhingga Page 1

Lalu, aku punya sahabat namanya Rangga dan Tama, merekalah yang selalu menjadi tempatku berkeluh kesah kalau menyangkut masalah Ira.

Suatu hari, saat disekolah sedang tidak ada pelajaran, aku keluar kelas, mendengarkan lagu menggunakan headset sambil melamun tentang Ira. Aku begitu terbawa dengan lamunanku sehingga tanpa sadar, Rangga dan Tama sudah berdiri di sebelahku.

”Woy, kamu lagi ngapain heh! Kesambet ntar loh!”, Rangga memukul punggungku menggunakan buku ekonomi yang tebalnya 200 halaman. Sontak aku loncat berdiri.

”Heh setan, kamu pengen aku mati jantungan?!” semprotku.

”Apa lah Rif? Mesti lagi mikirin komandan yah? Hahahahaha” Tama ngikut percakapan kami. Aku dan Tama biasa menyebut Ira dengan call-sign “komandan”.

“Alaaaa….Ira mulu dipikirin. Kafe Blabag yuk! Laper neh coy!”, Rangga menyahut.

”Gak! Ogah! Gak ada duit!”, jawabku sinis.

”Hah? Tam, rika percaya?” ,tanya Rangga ke Tama dengan logat Jawa-nya yang kental.

”Ora..ora..bocah kaya iki koh.” ,jawab Tama dengan aksen yang tak kalah kental

Rangga dan Tama adalah anak pindahan dari daerah apa lah namanya. Mereka sering bicara dengan bahasa ibu mereka.

”Laaah…pada ngomong apa sih? Gunakanlah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar! Aku ga paham nih!” ,potongku dengan ekspresi datar.

”Hahahahaha…makanya kalo guru ngajar bahasa Jawa dengerin dong!”,tawa Rangga sinis.

”Udah lah, ikut aja yuk! Cepetan…ntar kita traktir deh! Mumpung pak Junaedi gak ngajar! Bentar lagi juga bel pulang kan?”, kata Tama sambil menarik tanganku.

Sebenarnya aku malas, tapi daripada didepan kelas kaya orang ****, lebih baik ikut mereka, maka aku masuk ke kelas dan keluar sambil membawakan tas Rangga dan Tama dan juga tasku sendiri. Kafe Blabag terletak di persimpangan dekat sekolahku,

Cuma butuh 5 menit jalan kaki. Aku menggendong ranselku dengan malas. Memang, hari ini perasaanku tidak enak.

Setelah berjalan beberapa menit, tampaklah kafe Blabag dengan motor-motor pengunjung yang berderet rapi. Aku melihat ada satu motor yang sangat kukenal, darahku berdesir. Sekilas kulirik Tama dan Rangga, mereka seperti menahan senyum. Perasaanku semakin tidak enak.

Kami pun masuk kafe, kulihat di bagian pojok kafe, ada beberapa cowok dan cewek. Semuanya masih memakai seragam SMA. Tidak ada seorangpun yang kukenal.

”Yo!”, sapa Rangga kepada salah satu temannya.

”Yo! Kabur Ngga? Hahahahaha ”,sahut temannya. Kalau nggak salah, namanya Setyo, anaknya tinggi besar, khas preman terminal.

”Hei Luna. Udah lama nunggu?”,tanya Tama kepada salah satu cewek yang (setahuku) ditaksir berat sama Tama. Kemudian mereka ngobrol berdua.

Sejenak kemudian mereka semua sudah ramai ngobrol ngalor ngidul gak karuan. Aku cuma duduk manis mendengarkan dan sesekali tertawa kalau ada hal-hal lucu (gak ada yang kenal coy!). Aku melamun, prasaanku masih tidak enak sewaktu lihat motor yang diparkir didepan tadi.

Aku yang tidak tahu apa-apa dengan polosnya memasang headset, menunduk dan sibuk memilah-milah lagu dari HP ku. Setelah kutemukan lagu yang pas, aku menyetelnya dan telingaku dipenuhi alunan musik favoritku, aku tersenyum dan menengadahkan kepala.

Aku tercekat. Seakan-akan ada seorang kuli bangunan veteran yang mencekikku. Di hadapanku Ira berdiri, kedua tangannya dimasukan saku jaket. Dia menatapku sambil tersenyum, manis sekali. Aku semakin megap-megap.

“Headsetan aja! Ntar budek loh!”,kata Ira sambil menyambar headsetku.

”Laporan dulu gih sama komandanmu!”,Tama menyikut lenganku.

Entah kenapa, mungkin karena terkesima dan kaget, aku hanya mampu berbicara dengan tidak jelas, “Haah? Koman….dan? Haaaaahh?”,ucapku tak jelas.

Semuanya tertawa keras sekali, Rangga tertawa sampai mengeluarkan air mata, dan Setyo memukul-mukul meja sambil tertawa. Entah seperti hewan apa mukaku saat itu, setolol apa, aku tidak tau, tapi yang jelas aku malu sekali. Aku tidak menyangka kalau Ira adalah salah satu dari kelompok kami ini.

Kemudian aku ikut aktif ngobrol bareng, ternyata mereka semua anak-anak yg baik & supel, ramah pula. Segera saja aku mendapatkan tempat dalam kelompok ini.

Sejak saat itu, kami sering main bersama dan aku mulai hafal anggota geng kami satu persatu. Aku jadi dekat dengan mereka, dan karena mereka juga, aku jadi bisa mendekati Ira lebih jauh.

Kami semua semakin akrab. Waktu itu kebetulan kami main bersama-sama.

Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di mall. Anak-anak cewek yaitu Angel, Ira, Luna dan Dian berencana melihat-lihat pakaian sementara aku, Tama, Setyo, dan Rangga akan melihat pameran gadget yang diadakan di lantai 5 mall tersebut.

Kami berangkat menggunakan mobil Rangga yang cukup besar.

Seperti kebanyakan cewek-cewek kota, Angel, Luna dan Dian mengenakan kaos dan hotpants, namun Ira mengenakan kaos dan celana jeans panjang. Memang Ira memakai kaos yang cukup tertutup namun ketat dan dibagian dadanya agak longgar sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi dan belahan dadanya yang menantang.

Aku duduk disebelah Rangga yang menyetir, sementara Angel, Luna, Dian dan Ira duduk berdesakan di bangku tengah dan Setyo serta Tama duduk dibangku paling belakang.

Di mobil, anak-anak cewek sibuk berkicau

”Eh Ira, kamu seksi banget deh…” celoteh Angel

”Iyaa…kesannya gimana gitu…hahahaha” kata Dian dilanjutkan dengan tawa cewek-cewek lain.

Ira kelihatan salah tingkah dan berusaha menutupi bagian dadanya yang agak terbuka.

”Ah masa sih…kaosku lagi di cuci semua…aku nggak tau kalo kaos ini kekecilan”

Kemudian mereka meributkan masalah lain, seputar kosmetik, trend fashion dan banyak hal tetek bengek lain yang tidak penting bagi para cowok. Tama dan Setyo sedang sibuk membicarakan salah satu handphone di majalah gadget yang dibawa Rangga.

Aku pura-pura memainkan handphone, walaupun aku sesekali melirik belahan dada Ira yang duduk di bangku tengah namun berseberangan dengan aku. Aku menelan ludah.

Ketika hampir sampai di mall, tiba-tiba hujan deras turun.

”Waaah…ujan nih, mana tempat parkiran basement penuh lagi. Guys, cari tempat lain yuk…” ujar Rangga

”Wuuuu….nggak mau! Kan disana ada pinjaman payung!” jawab anak-anak cewek kompak

”Oke…oke…whatever…hehehe” Rangga tertawa ringan dan mengarahkan mobilnya masuk ke parkiran mobil yang ada di tempat terbuka.

Setelah mobil kami diparkir, kami turun dan berlari ke sebuah kanopi. Kebetulan saat itu ada 3 tukang parkir yang akan kembali ke pintu masuk mall, mereka membawa 4 payung.

Maka semuanya meminjam payung dari ketiga tukang parkir tersebut. Aku dan Ira tertinggal dibelakang. Aku melihat mereka semua menembus hujan menggunakan payung sementara aku dan Ira hanya menatap mereka.

Sudah 5 menit berlalu, namun belum ada orang yang menjemput kami.

”Lari aja yuk? Nggak sampai 100 meter inih” ucapku kepada Ira

Ira hanya mengangguk. Kami berlari menembus hujan yang ternyata cukup lebat itu.

Ketika kami sampai di pintu masuk mall, kami sudah basah kuyup, tetapi aku tidak terlalu basah karena jaketku yang water-proof.

”Waduh…maaf ya…tadi tukang parkirnya malah pergi nggak tau kemana” kata Rangga

”Iya. Kita mau minjemin payung buat kalian malah mereka pergi. Mana payungnya dibawa semua lagi” Angel menggerutu

Aku mengangguk. Kulirik Ira, ia kedinginan, tubuhnya basah kuyup. Gilanya lagi, karena kaosnya basah, maka setiap lekuk tubuhnya yang indah tercetak jelas dan belahan dadanya kini lebih terekspos. Aku menelan ludah melihatnya.

Kami melangkah masuk ke mall. Kuperhatikan, setiap pasang mata disana memperhatikan belahan dada Ira yang terlihat sangat mengesankan. Teman-teman yang lain tidak tahu karena mereka berjalan di depan.

Ira mati-matian berusaha menutupi dadanya, ia terlihat malu sekali dan tidak berani menatap orang-orang di sekeliling kami, lebih parahnya lagi, ia menggigil. Aku kasihan melihatnya, maka aku segera berlari ke counter minuman terdekat dan membeli segelas teh hangat kemudian kembali kesampingnya.

”Nih…” aku menyodorkan teh itu padanya

“Makasih Rif” jawabnya pendek. Ira langsung meminum teh hangat tersebut, namun agak canggung karena ia juga harus menutupi tubuhnya yang menjadi tontonan setiap orang di mall itu.

Ketika ia mengangkat lengan untuk meminum dari gelas tadi, lekuk buah dadanya sangat jelas terlihat. Aku melotot melihatnya dan tiba-tiba ‘adik’ ku menjadi tegang, namun cepat-cepat kusingkirkan pikiran kotor itu.

Aku merasa iba, maka kulepas jaketku dan kupakaikan kepadanya lalu kurangkul tubuhnya. Terdengar seruan kecewa dari berbagai penjuru ketika tubuh Ira yang eksotis itu tertutupi jaketku. Aku menatap tajam kepada sekelompok cowok yang dari tadi tertawa-tawa sambil menunjuk Ira, ketika mereka sadar bahwa aku sedang memelototi mereka, mereka segera bubar.

Ira kaget melihat perlakuanku namun tidak menolak. Ia menatapku, tatapan yang tidak akan pernah kulupakan. Tatapannya menghujam begitu dalam, aku goyah.

Aku tidak kuasa menatap matanya lebih lama, maka aku melepaskan pelukanku dari bahunya dan memperlambat langkahku sehingga kini aku berada paling belakang. Aku malu, canggung dan merasa tidak enak dengan perlakuanku.

Awalnya aku merasa bahwa Ira akan marah besar kepadaku. Tetapi ternyata tidak, ia tetap bercanda denganku seperti biasa, namun kadang-kadang kupergoki dia sedang melirik ke arahku. Deg-degan juga, apa ini berarti ia ada perasaan kepadaku?

Suatu ketika, di kotaku ada acara besar…perayaan apa gitu, aku tidak ingat. Teman-teman satu geng ku mengajakku nonton pawai yang diadakan di alun-alun kota. Tetapi aku menolak, berhubung hari ini aku ingin cepat pulang.

Kebetulan rumahku jauh dari alun-alun dan pusat kota. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya papasan dengan beberapa orang, itu saja mereka sedang menuju ke alun-alun. Selebihnya, kota ini seperti kota mati.

Aku sangat heran, sebegitu meriahnya kah perayaan itu? Aku mengendarai motorku dengan santai, ketika sampai di perempatan, kulirik lampu lalu lintas; “Hijau, tancep cuy!”, pikirku. Di tengah-tengah persimpangan tiba-tiba ada sebuah motor (Tiger kalo nggak salah) melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi, kelihatannya pengemudinya mabuk, tanpa helm, matanya merah dan mukanya kusut, aku menginjak rem, tapi sepertinya dia sengaja membelokkan motornya mengikuti gerakan motorku. Aku tercengang. Jarak kami tinggal 1 meter.

“Anjrit! Salahku apa sih?!”,umpatku dalam hati.

BRUAAKK!!! Sempat kulihat aspal yang menjauhi pandanganku dan…..PET! Semuanya gelap.
Hal pertama yang kurasakan adalah nyeri dan dingin di lengan kanan.

”Ah…aku dimana? Perasaan tadi aku tabrakan deh…apa aku udah mati?”,tanya ku dalam hati.

Kuberanikan diri membuka mata. Aku sedang berbaring di sofa. Langit-langit yang putih, aroma parfum yang manis, samar-samar kuingat bau parfum ini. Aku menoleh ke kanan dan kiri, kulihat teman-temanku duduk didekatku satu persatu, Ade, Feby dan….Ira!! Nafasku tertahan.

”Masih idup Rif? Hahahaha…”,canda Feby kepadaku

”Mujur banget loh kamu, Cuma memar di lengan doang! Motormu jadi rongsokan tuh dihalaman. Ga ada orang yang nolongin, pas ketemu Ira. Tapi…masa cowok pingsan sih?”,Ade menimpali sambil tertawa.

”Aduh! Loh kok pada disini?”,tanyaku sambil meringis menyentuh lengan kananku.

”Tadi aku dijalan pulang liat kamu lagi tidur di jalan, motormu ancur noh…jadi aku SMS Ade sama Feby, soalnya yang lain pada kejebak macet…alun-alun macet total, pas banget si Feby sama Ade belom berangkat, jadi mereka kusuruh kesini nolongin kamu”,jelas Ira panjang lebar sambil mengompres memar di lengan kananku.

Oooh….jadi ini sensasi dingin yang tadi kurasakan? Darahku berdesir…

”An angel speak to me…”,gumamku lirih.

”Hah? Apa Rif? Kamu ngomong apa? Pasti ngomong yang nggak-nggak nih! Dia ngomongin kamu loh Ra!”,cerocos Ade dengan cepat sambil nyengir.

”Apa? Apa iya? Kamu ngomong apa hah barusan?”,tanya Ira kepadaku.

”Ah nggak kok…nggak papa…gausah dipikir…hahahahaha”,jawabku.

Feby melirik jam tangannya, kemudian berkata, “Eh..eh…aku sama Ade pergi dulu yah? Uda di tungguin gebetan neh..hehehe…malem minggu cuy…hahaha”.

”Ehem…tau lah…tau…yang masih jomblo….”,sahut Ira sambil tertawa

”Cus yah men! Rif, nyetir yang bener dong! Hahahaha…yuk Ra, duluan yah!”,ujar Ade sambil mengambil helmnya.

”Okeh men? Duluan ya!!”,kata Feby sambil tersenyum. Entah kenapa aku merasa ada maksud lain dari senyuman Feby.

Ira mengantar Feby dan Ade keluar. Kulihat HP Ira tergeletak di atas meja, aku tidak mengerti kenapa, tapi aku langsung mengambil HP itu dan membuka inbox nya. Aku kaget…ternyata sangat banyak SMS yang isinya mengajak kenalan Ira, bahkan ketika aku sedang membaca SMS itu, masih ada saja SMS yang masuk.

Lalu kulihat sent messages nya…aku tidak percaya dengan apa yang kulihat…Ira hanya membalas SMS ku dan teman-teman se geng ku…dan yang paling banyak adalah balasan SMS untukku. Memang sejak kejadian di kafe, aku dan Ira jadi sering SMS-an.

”Wawawawawawa……!!”,teriakku dalam hati karena senang.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Ira masuk.

”Eh, Rif, kamu udah makan apa bel………”,ucapan Ira tiba-tiba terpotong begitu melihatku tengah asyik memainkan HP nya.

DEG!

Aku kaget setengah mati.

”Aduuhh…..****! ****!! Ntar bisa-bisa dia marah nih! Duuh..gimana yah?”,batinku panik.
”Udah makan belum kamu? Aku mau bikin mie, kamu mau nggak?”,ucap Ira seraya merebut HP nya dari tanganku lalu duduk di lantai di sebelahku. Kulihat dia mencoba menahan emosinya.

”Eh…euh….udah…aku udah makan kok…..hehehe”,jawabku salah tingkah.

Keheningan yang tidak enak menyelimuti kami. Aku dan Ira sama-sama panik dan salah tingkah. Akhirnya kuputuskan untuk membuka percakapan.

”Eh…aku sekarang dimana nih? Dari tadi aku mau tanya lupa-lupa terus”,tanyaku sekenanya

”Ini rumahku…kamu kecelakaan dekat sini. Karena ga ada orang lain, jalan juga bener-bener sepi, makanya kamu kubawa kerumah aja.”,Ira tersenyum canggung.

”Serius nih? Aku di rumahmu? Aku ga enak woi sama keluargamu, aku kan cowok!”,ujarku dengan cepat.

”Gak apa-apa kok…semua lagi di toko, jadi ga ada orang disini”,jawabnya lirih.

“Jadi…kita…cu..cuma..ber…berdu a di sini?”,tanyaku terbata-bata.

Ira hanya mengangguk pelan, dia menunduk kemudian menatap HP nya. Sekilas kulihat rona merah di wajahnya. Aku mencoba duduk dan tidak mempedulikan lenganku yang memar.

”Eh, jangan duduk dulu!”,cegahnya sambil memegangi tanganku.

Aku kaget, otomatis aku tatap matanya. Kami berdua bertatap-tatapan lama. Matanya yang teduh menunjukkan kedewasaan dan kasih sayang. Aku benar-benar speechless.
Memar di lenganku benar-benar tidak terasa. Beberapa detik kemudian Ira yang sadar duluan, dia tersipu.

”Oh iya. Aku bikin mie dulu ya…”,katanya mengalihkan keadaan.

Aku hanya diam…

Ketika dia berdiri, kutarik tangannya dengan cepat hingga wajah kami saling berdekatan.
Tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku, mungkin sekitar 170 cm, kulitnya putih, langsing, dan buah dadanya tidak besar-besar amat namun menantang dan kelihatan sangat merangsang. Proporsional, lah. Rambutnya yang panjang lurus sebahu hitam dan terawat.

Ira menatap mataku dalam-dalam…sejenak aku ragu…”Haruskah?”,pikirku.

Kudekatkan bibirku, sepertinya Ira tidak merespon, maka aku melanjutkannya.
Kukecup bibirnya dengan penuh kasih sayang…dengan sepenuh hati. Tidak ada protes darinya, bahkan Ira malah memejamkan mata.

Kutarik dia dengan lembut dan kududukkan di sebelahku. Aku masih mencium bibirnya.

Sensasi yang kurasakan luar biasa, bibirnya hangat dan lembut. Kami berciuman kira-kira 3 menit. Dalam jangka waktu segitu, siapa sih yang gak terbakar nafsunya? Hehe…

Kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Ira sudah membuka matanya dan matanya menerawang ke langit-langit. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Kusibak rambutnya, kemudian kulihat lehernya yang jenjang dan bersih, serta tercium wangi parfumnya.

Kucium leher kirinya.

”Mmmmmhh….”,Ira agak mendesah, dia meremas kedua tanganku.

Kubalikkan badannya, sekarang dia duduk membelakangiku. Kemudian kembali ku cium lehernya. Nafasku membuatnya geli.

”Uuuuuh…”,desahnya mulai tak terkendali

Tanganku membuka kancing seragamnya satu persatu. Ira memegangi tanganku, tetapi tidak melakukan perlawanan. Yaa otomatis kupikir ini lampu hijau. Heehehehe…

Setelah setengah seragamnya terbuka, kulihat bra nya yang berwarna krem, yang langsung kuturunkan. Kini dapat kulihat payudaranya, yang ternyata cukup besar dengan puting berwarna pink. Kulitnya luar biasa mulus.

”Ehm….ehm…!!”,Ira berdehem menyindir perlakuanku.

”Apaaaa? Kenapaaa??”,jawabku sambil nyengir.

Kuraba kedua payudaranya dengan tiba-tiba. Tubuhnya mengejang sekali, kaget kali yaa?

Langsung saja kuremas kedua payudaranya dengan lembut dan kupagut bibirnya.

”Nnnggggghh……mmmhh…!”,desahnya diantara ciuman kami.

Kupilin kedua putingnya. Kumainkan jari-jariku di kedua payudaranya.

”Nngg….aaaaahh….aaaahh…!”,Ira melepaskan bibirku dan lebih berkonsentrasi mendesah.
Aku tidak keberatan, biar dia merasakan rasanya jadi cewek.

Punggungku mulai kesemutan, maka kurebahkan Ira di sofa, namun dia menolak.

”Jangan….jangan…aku nggak mau…!”,ujarnya dengan nafas yang mulai memburu.

Aku memandangnya dengan bingung. Ira mengelus pipiku, matanya sayu khas cewek terangsang.

”Maksudku….jangan…disini…pinda h ke kamarku aja yuk”,katanya sambil tersenyum.

Waduh….bisa berabeh ni kalo di kamar, ntar kebablasan bisa repot! Tapi, instingku mengabaikan logika. Hehehehe….segera saja kuangkat tubuhnya dan kugendong, kalau sudah seperti ini, tangan patah pun tetap akan kugendong, hehehehe.

”Yang mana nih?”, aku tersenyum

”Itu”, jawabnya singkat sambil menunjuk sebuah pintu.

Tanpa buang waktu, kubuka pintu kamarnya, kubaringkan Ira di kasur dan cepat-cepat kututup pintu dari dalam. Langsung saja kulanjutkan permainan yang tadi sempat berhenti. Aku berbaring di sebelah kanannya dan mulai menciumi lehernya.

”Uuuh….uuuhh….”, Ira mendesah sambil mengrenyitkan alisnya.

Tanganku perlahan-lahan masuk ke dalam roknya. Kususuri dari perut dengan penuh penghayatan. Ketika akhirnya tanganku meraba celana dalamnya, aku menahan nafas.

Kuselipkan tanganku masuk celana dalamnya. Ternyata Ira sudah mencukur habis rambut kemaluannya. Segera saja ku gesek-gesekkan jari tengahku ke vaginanya.

”Hmmmff…..uuuaaaaaaahh…..aaaah h…aaaahh…!”,naf asnya tersengal-sengal dan desahannya berirama sesuai dengan gesekan jariku.

Ira mencengkeram tanganku dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Ekspresinya begitu merangsang, penisku yang sedari tadi sudah tegang menjadi sangat tegang sampai-sampai celana dalamku terasa bagai belenggu, menyiksa ‘adik’ku.

”Gimana rasanya Ra? Enak?”,tanyaku

”Aaaahh…..e…uuuhhh…enaaakk….en aaaakk…..aaaahh…!!”, jawabnya setengah menjerit.
Melihatnya sangat mudah terangsang, aku berinisiatif mengulum putingnya. Kuremas buah dadanya dan kujilat-jilat.

”Ngggghh…..aaaaahh….aaaahh….ii yaaa….eee…eeenaaakk… .tee..teruusss..”

Ira mulai meracau, sepertinya dia sudah amat terangsang.

Kumainkan lidahku di putingnya dengan liar. Ira semakin kelojotan.

”Aaahh…aaa..ada yang…aaauuhh….mau….uuhh…keluaa aarrrhh!” ,katanya dengan nafas yang tidak beraturan.

”Eh? Oh…keluarin aja nggak apa-apa!”,jawabku sambil terus menjilati putingnya.

Sesaat kemudian tubuhnya bergetar hebat dan menegang. Ira mencengkeram tangan kananku kuat sekali, hingga kuku-kukunya menancap dan melukai tanganku. Luka-luka itu berdarah, tapi hal itu tak kupikirkan. Aku menikmati saat-saat Ira orgasme sambil tersenyum.

”A..apa yang barusan itu?”,tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.

”Loh? Kamu belom tau?”,aku balik bertanya.

”Nggak…nggak tau…emang apaan?”,ujarnya lemas, kehabisan tenaga.

”Itu yang namanya orgasme…masa sih kamu gak tau?”,tanyaku heran.

”Ooh…sori..aku ga tau masalah begituan…tapi..rasanya enak banget…gak bisa dijelasin pake kata-kata”,Ira tersenyum.

Aku heran dan berpikir, “Berarti dia polos banget sampe gak tau yang namanya orgasme. Lagian, gampang banget dirangsang…coba ah yang lebih.”

Aku meringis saat tanganku yang luka bergesekkan dengan seragam yang kukenakan. Ada sepuluh bekas kuku, semuanya meneteskan darah segar. Aku berdiri dan mengambil sekotak tissue di meja belajar Ira dan mulai mengelap darah yang bercucuran.

”Itu…maaf…sakit ya?” , tanyanya dengan wajah bersalah ketika melihat tanganku berdarah.

”Nggak…nggak apa-apa kok…hehehe…santai aja!”, jawabku sambil tertawa.

”Aku jadi nggak enak…kamu abis kecelakaan malah jadi tambah luka gara-gara aku”, desah Ira.

”Udah…gak apa-apa…sekarang kamu diem yaa?” aku berjalan ke arahnya.

Aku duduk disampingnya, tanganku menyelinap ke dalam roknya dan melepas celana dalamnya yang sudah basah. Ira tidak dapat berbuat apa-apa, kelihatannya dia masih sangat lemas karena orgasme barusan.

”Kamu mau ngapain Rif?” tanya Ira, kelihatannya dia khawatir.

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Saat sudah kulepas, celana dalamnya kulempar entah kemana, maklum, nafsu udah di puncrit, kaga bisa nahan.

Kusingkap roknya hingga dekat pangkal paha, memperlihatkan pahanya yang suangat mulus, liurku menetes melihatnya. Ku elus-elus pahanya.

”Aaaawwwhhh……”, Ira kembali mendesah karena perlakuanku.

Kudekatkan wajahku kearah vaginanya. Vagina yang begitu bersih, berwarna pink, tanpa ada bulu sedikitpun dan aromanya enak. Wangi parfum yang biasa dipakai Ira samar-samar tercium, “Apa dia nyemprotin parfum ke sini juga ya? Ah bodo amat!”

Ketika hambusan nafasku mengenai daerah sensitifnya, dia berkata;

”Rif, mau ngapain kamu? Ntar…ntar dulu…aku belum siap kalo sampai kayak
gini…stop…stoopp…aaaaahhhhh!!! ”, Ira menjerit ketika kubenamkan lidahku kedalam vaginanya.
Segera saja vaginanya kulumat, kujilat dengan liar, kucium dan kugigit-gigit kecil.

Benar saja, kakinya mengejang setiap kali kugigit klitorisnya.

”Aaaaaaaaaaaaahhhh…..aaaaahhhh h….uuuuhhh….sssshh…s sshhh…..!!”, desahannya semakin menggila, membuat ‘adik’ku ingin cepat memproklamasikan kemerdekaan dari belenggu penjajahan celana dalam.

Rasa nyeri menyerang ‘adik’ku ketika celana dalam ini rasanya sudah kelewatan menyiksa, tapi tetap kutahan. Di luar dugaan, Ira mulai menangis, air matanya mulai mengalir disela-sela desahan penuh kenikmatannya. Aku jadi bingung, kuhentikan jilatanku.

”Ra, kamu kenapa nangis?”,tanyaku berdebar-debar.

”Aku…udah capek Rif…aku udah nggak kuat kalo kamu terus-terusan ngeginiin aku…”, katanya dengan polos sambil terisak-isak.

Aku diam saja.

”Bukannya aku nggak mau, tapi aku udah capek banget…dari tadi, badanku rasanya lemes…tangan sama kakiku udah mati rasa. Aku udah gak kuat.”, jelasnya.

Demi mendengar pengakuannya, ‘my little brother’ yang sudah berkibar dengan gagahnya seperti kehilangan tenaga, sontak ‘adik’ku lemas lagi, bak nasionalis dibedil kompeni. Aku merasa bersalah.

Tanpa berkata apa-apa, aku berjalan ke lemari pakaian Ira, mengambil satu celana dalam dan memakaikannya pada Ira. Kubereskan sprei yang acak-acakan akibat pertempuran tadi, kurapikan bra-nya yang lepas dan kukancingkan seragamnya.

Kuangakat Ira dan kurebahkan kepalanya di bantal kemudian kuselimuti dengan selimut tebal. Ira menatapku dengan pandangan heran.

”Rif? Kamu marah ya? Please, ngertiin aku…aku capek banget…gak kuat”, ucapnya memelas. Namun aku masih juga tidak berkata apapun.

”Ra, aku….sebenernya udah dari dulu mendam perasaan ke kamu. Aku…aku…sayang sama kamu…”, ucapku, aku tidak menyangka bakal mengutarakan perasaanku di saat seperti ini.
Dia tertegun mendengar pernyataanku.

”Mmm…Rif…aku…”, sepertinya Ira mau mengatakan sesuatu, tapi buru-buru kucium bibirnya dan aku berlari keluar kamar.

Aku berjalan ke ruang tamu, memakai ranselku dan mengambil helm. Saat aku keluar halaman rumah Ira, kulihat motorku yang ringsek seperti gelandangan digebuki Satpol PP. Aku nyengir;

“Hahahaha…shiit…aku pulang pake apaan nih?”, kataku pada diri sendiri. Akhirnya aku pulang jalan kaki sekitar 4,5 km ditemani hujan yang sangat lebat.

Sesesampainya dirumah, ada secarik kertas ditempel di pintu yang bertuliskan :

”Mama dan Papa pergi seminar di luar kota, kira-kira satu minggu. Urus diri sendiri ya? Kalau ada apa-apa, telpon Mama atau Papa.”

“Gila…aku idup pake apaan nih 1 minggu? Makan kerikil?”, umpatku.

Malamnya badanku terasa tidak enak. Benar saja, esok paginya aku demam tinggi, maka kuputuskan untuk tidak masuk sekolah. Siang harinya aku bangun kemudian mandi, tak lama setelah itu, ada orang menggedor-gedor pintu rumah dengan kasar.

Berambung Nanti Malam….

sembari menunggu bisa lihat lihat di haussex.com
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa