Cerita Sex Pasutri Gila Sex | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Sex Pasutri Gila Sex

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Pasutri  Gila Sex.  Semua diluar benakku dan istriku, kami berdua baru 1 tahun menikah belum mempunyai anak, tapi anehnya kita miliki hobby yang sama yaitu kami saling ingi berfantasi Sex untuk bertukar pasangan dengan teman kerja kita masing, istriku disetubuhi dengan teman sekantorku, dan aku menyetubuhi teman sekantor istriku.

Cerita Dewasa Pasutri Gila Sex

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya
Cerita Sex Pasutri Gila Sex

Itulah keinginan kami yang belum terlaksana. Aku dan istriku tergolong pasangan yang hyper Sex, kami selalu terangsang saat salah satu dari kita memegang bagian sensitive tubuh kita, dan yang aku heran,

Dimanapun tempat kita merasa terangsang kita pasti langsung buru-buru mencari tempat untuk melampiaskanya, entah itu di kamar mandi mall, di dalam bioskop, diparkiran mobil, atau bahkan ditaman kota. Kita sungguh pasangan yang HOT.

Namaku Bastian dan istriku namanya Tiara. Istriku orangnya sangat manis sekali, kumisnya tubuh bulu-bulu halus, dan yang paling menambah kemanisan istriku adalah lesung pipinya, jika tersenyum bisa membuat semua laki-laki terpelongok melihatnya.

Tubuh istriku juga sangat seksi, dia sering melakukan senam kalau pagi dan sore, jadi tubuhnya kelihatan sangat ketat dan terawat. Payudara istriku juga lumayan besar sekitar 34B dan yang sangat membuat aku gila adalah vagina istriku yang sangat putih bersih sekali, terlihat merah merona di bibir kemaluannyadihiasi juga dengan bulu halus di vaginanya. Itu yang selalu membuat aku selalu ingin menggigit memek istriku.

Dalam keluargaku karena aku tak ingin merasa istriku selalu bosan dirumah, oleh karena itu istriku juga bekerja tp kami berdua berbeda perudahaan. Aku bekerja di salah satu perusahaan terbesar dijakarta sedangkan istriku bekerja disalah satu perusahaan swasta yang juga ternama dijakarta.

Aku mempunyai atasan, orangnya sangat tinggi besar, putih dan juga berewokan, terlihat sangat macho sekali, namanya Pak Bastian Wiliam, Dia berasal dari Negara swedia. Sekilas langsung pikiran untuk memberikan istriku kepada atasanku ini terlintas.

Dari yang aku ketahui, pak Bastian ini memilki istri yang juga sangat cantik (walaupun aku hanya melihat dari foto saja), namanya Jessica, orangnya tinggi semampai, kemolekan tubuhnya sama persis dengan tubuh istriku, face wajah gak usah diragukan, namanya keturunan luar negri tentunya sangat cantik.

Sempat aku berpikir suatu saat nanti aku kan mengajak atasanku pak Bastian ini untuk bertukar pasangan, kira-kira mau gak ya?? Ucapku dalam hati.

Didalam ruanganku aku memajang  foto cantik istriku dan diruangan pak Bastian juga gak kalah, dia juga memajang istri cantiknya Jessica. Smapai suatu saat ketika pak Bastian masuk di ruanganku untuk mengecek suatu berkas, aku melirik pak Bastian sedang melihat foto istriku

“Aaaahhh ini dia, apk hermaan pasti akan tertarik dengan Tiara” ucapku senang dalam hati. Sambil terus memeriksa berkas, pak Bastian terus melirik foto yang ada di mejaku dan akhirnya keluarlah perkataan dari pak Bastian ”itu foto siapa Bastian”.

“Itu foto istri syaya pak, namanya Tiara” jawabku. “Cantuk juga istri kamu, pintar juga kamu ya memilih istri” ujar pak Bastian dengan sedikit ketawa.

 “Aaaahhh bapak bisa aja, istri saya biasa aja kok pak” jawabku sambil tersenyum. Dalam hati aku bersorak gembira, sedikit pancinganku berhasil membuat pak Bastian mulai masuk.

Sampai-sampai Suatu hari Bastian mengundangku untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

“Her, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Tiara juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Tiara. Pada mulanya Tiara agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Bastian dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Tiara mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.

Kalau melihat Tiara, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

Pukul 7 malam kami sudah berada di apartemen Bastian yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Tiara memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun.

Sesampai di Apertemen no.99719, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

“Oh Bastian dan Tiara yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Jessica istrinya Bastian”.

Ternyata Jessica badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Bastian. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Tiara istriku”.

Setelah Tiara berkenalan dengan Jessica, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Bastian mengajakku ke teras balkon apartemennya.

“Gini lho Her.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar. Senyum Bastian segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Her.., gimana Jessica menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha.., ya.., jelas dong”.

“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Jessica untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Bastian melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Tiara dan Jessica pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Jessica aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film.

Tapi dilain pihak kalau membayangkan Tiara hererjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Bastian telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi.

“Ngomong-ngomong Tiara sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan “Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Bastian.

“Kalau Jessica sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Jessica itu. Kemudian lanjut Bastian meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur.

Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”. “Nanti minuman Tiara aku kasih bubuk penghangat seherit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Bastian akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina?? Wah kalau begitu tidak rela aku.

Aku setuju asal Tiara mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Bastian cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Jessica ya, Tiara di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Bastian. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar.

Melihat tanda-tanda itu, Bastian mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Tiara, “Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Tiara, Bastian segera berdiri, menarik kursi Tiara dan menggandengnya ke depan TV LCD yang terletak di ruang tengah.

Aku ingin mengikuti mereka tapi Jessica segera memegang tanganku. “Her, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Bastian mulai bergerilya di pundak dan punggung Tiara, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

Sementara Tiara kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat seherit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Bastian yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Jessica kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut.

Terlihat tindakan Bastian semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Tiara hingga kancing terakhir. BH Tiara segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya.

Kelihatan mata Tiara terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Tiara telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Bastian?, atau apakah Tiara pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Bastian?”.

Tiara tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Tiara seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Bastian herulitnya dan ciuman nafsu Bastianpun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Bastian yang sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Jessica, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil.

Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Jessica yang mungil itu, “aahh.., aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Bastian telah meningkatkan aksinya terhadap Tiara, terlihat Tiara telah dibuat polos oleh Bastian dan terbaring lunglai di sofa.

Badan Tiara yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Bastian.

Kemudian Bastian menarik Tiara berdiri, dengan Bastian tetap di belakangnya, kedua tangan Bastian menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Tiara, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka,

Menunjukan Tiara menikmati benar permainan dari Bastian terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Bastian berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Bastian meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Tiara yang bersandar lemas pada badan Bastian, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Jessica telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri.

Setelah Jessica selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang.

Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Bastian, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Jessica tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain.

Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Jessica kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya.

Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Jessica berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, ”

Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya.

Pada saat bersamaan suara Tiara terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak.

Tak tahu apa yang diperbuat Bastian pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Tiara sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Bastian sedang berjongkok diantara kedua paha Tiara yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Tiara yang mulus.

Bisa kubayangkan mulut dan lidah Bastian sedang mengaduk-aduk kemaluan Tiara yang mungil itu. Terlihat badan Tiara menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Bastian dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Jessica yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan,

“Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku.

“Aahh.., Bastian.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Jessica menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme.

Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Bastian dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Tiara kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Tiara bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Bastian.

Bastian mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Tiara yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Bastian yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 22 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 5,5 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Bastian memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Tiara yang sudah seherit terbuka, terlihat Tiara dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Bastian yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

Kedua tangan Tiara kelihatan mencoba menahan badan Bastian dan badan Tiara terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Bastian pada bibir vaginanya,

Akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Tiara dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Tiara, sambil mencium telinga kiri Tiara, terdengar Bastian berkata perlahan,

“Wiinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Tiara hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau heratakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Bastian itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Bastian, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Tiara yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Tiara tetap mencoba menahan tekanan badan Bastian.

Mungkin, entah karena tusukan penis Bastian yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Tiara berteriak kecil,

“Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan.

Kedua kaki Tiara yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Bastian yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Tiara, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Bastian,

Sehingga belahan kemaluan Tiara terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Bastian itu. Kedua bibir kemaluan Tiara tertekan masuk begitu juga clitoris Tiara turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Bastian. Bastian menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman.

“Maaf.., Win.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., wiin!”.

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”. Tiara mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Bastian.

“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Tiara masih merasa sakit”,

sahut Bastian dan tanpa menunggu jawaban Tiara, segera saja Bastian melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Tiara yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Tiara, terlihat muka Tiara meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Bastian bertanya lagi, “Wiinn.., sakit.., yaa?”, Tiara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Bastian dan Bastian segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Tiara.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Bastian telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Tiara, terlihat Tiara telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Bastian,

Akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Bastian menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Tiara meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar,

Tetapi karena Tiara tidak mengeluh maka Bastian meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Bastian menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Tiara rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Tiara, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Bastian di dalam kemaluannya.

Bastian mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Tiara sejenak, agar tidak menambah sakit Tiara sambil bertanya lagi,

“Niinn.., sakit.., yaa? Tahan herit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Tiara dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya seherit seraya mendesah panjang,

“aagghh.., kit!”, lalu Bastian mencium wajah Tiara dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Bastian bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Tiara dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Tiara bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang,

“Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Tiara bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Bastian, Tiara mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan.

Selang sesaat badan Tiara terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Bastian yang masih tetap berayun-ayun itu.

Aaah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

“Bastian.., ayo aku mau kamu”, suara Jessica penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Jessica sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya.

Duh, rasanya kemaluan Jessica masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Jessica pada saat rudalku hendak menerobos masuk. “Jess.., kok masih rapet yahh”.

Maka dengan seherit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. “Aagghh”, mata Jessica terpejam, sementara bibirnya digigit.

Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya.

Diiringi erangan dan desahan Jessica setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

“Ahh.., ahh”, Jessica makin keras teriakannya.

“Ayo Her.., terus”.

“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Jess.., boleh di dalam.., yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm..”.

Kaki Jessica kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Jessica juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya, “Nih.., Jess.., terima yaa”.

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Jessica dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Jessica.

Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Jessica, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Jessica, tiba-tiba badan Jessica bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Jessica juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami.

Aku kemudian mencabut Penisku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Jessica. Dengan isyarat agar ia menjilati Penisku hingga bersih. dia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Jessica.

Kini kami menyaksikan bagaimana Bastian sedang mempermainkan Tiara, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya hererjain Bastian, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Bastian terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan.

Mulai saat ini Bastian mengerjai Tiara dengan sangat brutal dan kasar. Tiara benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Bastian menyakiti Tiara, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Tiara ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Tiara atas apa yang dilakukan oleh Bastian terhadapnya.

Bastian mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Tiara berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Tiara ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Tiara sambil memegang belakang kepala Tiara,

Dia membantu kepala Tiara bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Tiara. Kelihatan Tiara telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Bastian, hal ini dilakukan Bastian kurang lebih 5 menit lamanya.

Bastian kemudian berdiri dan mengangkat Tiara, sambil berdiri Bastian memeluk badan Tiara erat-erat. Kelihatan tubuh Tiara terkulai lemas dalam pelukan Bastian yang ketat itu. Tubuh Tiara digendong sambil kedua kaki Tiara melingkar pada perut Bastian dan langsung Bastian memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Tiara.

Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Tiara terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Bastian menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Tiara terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Bastian.

Kaki Tiara terlihat merangkul pinggang Bastian, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Bastian. Bastian berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Tiara. Pantat Tiara terlihat merekah dan tiba-tiba Bastian memasukkan jarinya ke lubang pantat Tiara.

“Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Bastian, badan Tiara terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Bastian. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Bastian merasa capai, Tiara diturunkan dan Bastian duduk pada sofa. Tiara diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Tiara terkangkang di samping paha Bastian dan Bastian memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Tiara dari bawah.

Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Bastian memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Tiara yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Bastian menyentuh paha Tiara. Kedua tangan Bastian memegang pinggang Tiara dan membantu Tiara memompa penis Bastian secara teratur, setiap kali penis Bastian masuk,

Terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Bastian. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Bastian mendorong Tiara tertelungkup pada sofa dengan pantat Tiara agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Bastian akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Tiara.

Dari belakang pantat Tiara, Bastian menempatkan penisnya diantara belahan pantat Tiara dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Tiara dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Tiara.

Jari jempol tangan kiri Bastian dimasukkan ke dalam lubang pantat. Tiara setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Bastian yang dahsyat itu. Badan Tiara dicoba ditarik ke depan, tapi Bastian tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Tiara dan mengikuti arah badan Tiara bergerak.

Tiara benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan,

“Ooohhmm.., aaduhh!”. Bastian mencapai payudara Tiara dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Tiara bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar,

“Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Tiara mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Bastian mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Tiara, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Tiara dari belakang.

Sementara badan Tiara bergetar-getar dalam orgasmenya, Bastian sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Tiara, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Tiara ikut berputar-putar mengebor liang vagina Tiara sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Tiara agak tenang, Bastian mencabut penisnya dan menjilat vagina Tiara dari belakang. Vagina Tiara dibersihkan oleh lidah Bastian. Kemudian badan Tiara dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Bastian memasukkan penisnya dari atas,

Sekarang tangan Tiara ikut aktif membantu memasukkan penis Bastian ke vaginanya. Kaki Tiara diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Bastian. Bastian terus menerus memompa vagina Tiara. Badan Tiara yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Bastian,

Yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Bastian. Kadang-kadang terlihat tangan Tiara meraba dan meremas pantat Bastian, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Bastian.

Gerakan pantat Bastian bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Tiara, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak,

Bastian menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Tiara ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Tiara,

Pantat Bastian terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Tiara, sambil kedua tangannya mendekap badan Tiara erat-erat. Dari mulut Tiara terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Bastian kemudian merebahkan diri di atas badan Tiara yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Tiara. Tiara melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.

Aku tidak bisa melihat ekspresi Bastian karena terhalang olah tubuh Tiara. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Tiara mengalir cairan mani. Kemudian Tiarapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Bastian dengan mulutnya, itu membuat Bastian mengelinjang keenakan.

Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 5 ronde lagi dengan pasangan itu.
Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa