Cerita Seks ML Wali Kelas Guru SD | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Seks ML Wali Kelas Guru SD

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Sex | Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – ML Wali Kelas Guru SD. Sungguh menyedihkan kisahku saat ditinggal istri meninggal dunia karena penyakit kanker yang mengedapnya, kami dikarunia anak laki laki yang bernama Hafiz dan sudah kelas 1 SD, jujur saja setelah ditinggal istri semua kebutuhan atau keperluan rumah dan anakku aku urus sendiri, aku harus pintar membagi waktu untuk bekerja dan anakku.

Cerita Dewasa Terbaru Ngentot Guru SD

Cerita Seks ML Wali Kelas Guru SD
Cerita Seks ML Wali Kelas Guru SD

Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.

Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Hafiz, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong.

Suatu hari Hafiz memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku. Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Arina dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu.

Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Arina.

Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Hafiz yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Hafiz, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.

Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Arina akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu.

Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya.

Setelah guru Hafiz datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.

Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Hafiz. Kulihat bahwa Ibu Arina ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.

Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku.

Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh Hafiz untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Hafiz menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.

Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Arina untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu.

Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Hafiz setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Arina serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.

Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Arina lupa tidak memakai “Seatbelt”, dia langsung jatuh kedalam pelukanku.

Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh.

Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan ‘bisnis’nya. Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi.

Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Arina dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Arina yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.

“Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Arina yang sangat indah itu. Tapi tiba-tiba Arina menarikku dan langsung mencium bibirku.

Sepertinya aku mau meledak! Ibu Arina yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Arina menuntun tanganku ke dadanya.

Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali.

Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya. Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi.

Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya.

Lalu Arina kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku,

“Kamu akan merasakan seperti di surga.” Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu.

“Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?”

“Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.” Gile sudah direncanakan!

Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Arina menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku.

“Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras.

Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.”

Arina mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya).

“Aaarghh.. argh..” aku baru sekali senikmat itu.

“Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu dia memanggilku sayang.

Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu.

“Nnngghh.. ngghh.. aahh.. ahh” Arina mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink.

“Aahh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat.

Arina hanya bisa mengerang, mendesah-desah. “Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Arina udah nggak tahan.. ahh.

Tapi pelan-pelan, Arina masih perawan.” Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali.

Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku.

Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua.

“Aaakkhh..” lagi-lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya.

“Ngghh.. Rickk.. gede banget.. aangghh.. indah sekali rasanya.”

Kemudian kami mengganti posisi nungging.

“Plok.. plok.. plok..” suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang.

Dadanya berayun-ayun. Arina kadang meremasnya sendiri. “Aahh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahh.. Arina udah keluar.

Kamu keluarin di luar, ya!” Tidak lama kemudian akupun keluar juga. Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Arina yang lemas tak berdaya.

Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Arina memakai pakaiannya kembali.

“Kamu hebat sekali Rick. Arina puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.”

Kemudian sebelum keluar kamar Arina kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.

Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama.

Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku.

Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, “Arina, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Hafiz..”

Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Arina langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi. Cerita Dewasa / Cerita Sex / Cerita ABG / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa