Cerita Dewasa Nafsu Seks Tinggi | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Dewasa Nafsu Seks Tinggi

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – Nafsu Seks Tinggi. Kisah pribadiku ini aku tuangkan dalam bentuk tulisan dan aku coba unutk kirimkan ke team beranibugil.com, karena bisa merahasiakan nama pribadiku, pengalamanku ini terjadi kurang dari 10 tahun yang lalu dimana saat itu usiaku masih 25 tahun. Cerita Sex Dewasa

Cerita Dewasa Nafsu Seks Tinggi
Cerita Dewasa Nafsu Seks Tinggi

Panggil saja aku Ambar aku mempunyai 2 anak yang aku sayangi dan msih balita, dengan status ibu muda pada saat itu teman rekan kerja dikantor masih sempat menggodaku, banyak yang mengatakan diriku cantik dengan tinggi 165 cm dan berat badan yang ideal sperti keliahatan gadis remaja pada umumnya.

Sejak masih remaja nafsu seksku memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa pacaran dengan papiku yang sekarang, sebut saja namanya Zali, kami berdua telah sering melakukan hubungan seks.

Untungnya hubungan seks yang cukup kami berdua lakukan sebelum menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku bersyukur walau Zali mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi, ia tetap bertanggung jawab menikahiku.

Kecintaan suami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar, dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan papiku sering melakukan tugas dinas ke luar kota.

Suatu hari, sekitar bulan Mei, papiku mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia bertanya kepadaku,

“Mam, seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan nggak ngeseks?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan papiku itu,

“Nggak lah Pap..”

Namun papiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata,

“Papa nggak keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur.”

Aku menjawab, “Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku.”

Kemudian papiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Rony, usianya lebih muda satu tahun dariku).

Walaupun aku mencoba mengelak untuk menjawabnya, ternyata papiku tetap merayuku untuk berselingkuh dengan pria lain.

Pada akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh dengan Rony. Terus terang, Rony memang adik iparku yang paling ganteng bahkan lebih ganteng dari papiku. Selain itu, Rony sering membantuku dan dekat dengan kedua anakku.

Perasaanku agak berdebar mendengar tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika hal ini benar-benar terjadi.

Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan suami menawarkan adiknya, Rony, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong, papiku bercerita bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami di kota M.

Pengakuan papiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong papiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa alasannya.

Dengan memohon maaf dan memohon pengertianku, papiku memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga sebenarnya untuk menebus kekecewaannya karena tidak mendapatkan perawanku pada malam pengantin.

Aku mencoba menanggapi alasannya, “Kenapa Papa dulu mau menikahiku.

” Papiku hanya menjawab bahwa ia benar-benar mencintaiku.

Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia lakukan dengan adik kandungku.

Selanjutnya papiku berkata, “Itulah Mam mengapa Papa menawarkan Rony sebagai teman selingkuh Mama, tak lain sebagai penebus kesalahan Papa dan juga agar skor menjadi 1-1,” sambil ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.

Aku mencoba merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama, jelas aku menuruti harapan suami.

Kedua, kenapa kesempatan itu harus kusia-siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan seksku yang selalu menggebu-gebu dan sangat tinggi.

Sempat kubayangkan wajah Rony yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang ditunjang oleh fisiknya yang tegap dan gagah. Kubayangkan tentunya akan sangat membahagiakan diriku.

Bermodalkan khayalan ini kuberanikan berkata kepada papiku, “Boleh aja Pap, asal Rony mau..” Mendengar perkataanku tersebut, papiku langsung memelukku dan akhirnya kami berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.

Sehari setelah papiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari strategi bagaimana mendekati Rony. Selain memancing perhatian Rony di rumah, kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari kantor.

Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift pagi (08:00 – 14:30) dan shift siang (14:30 – 21:00). Rute pengantaran selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir, pasti sampai rumah agak terlambat.

Hal ini aku keluhkan kepada kedua mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil antaran, nanti Rony yang akan disuruh menjemputku.

Hatiku begitu gembira mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih dekat pada Rony. Sampai kedua kali Rony datang menjemputku dengan motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-erat pinggangnya dan sekali-kali sengaja kusentuh penisnya.

Suatu hari, pembantu rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Rony. Sambil menunggu giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Rony mengobrol.

Dalam obrolan itu, Rony menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama papiku dinas di luar kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya.

Tanpa sungkan aku memberanikan diri menjawab untuk memancing reaksinya.

“Yakh sudah tentu kesepian donk Ron, apalagi kalau lama tidak disiram-siram.” sambil aku tersenyum genit.

Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Rony menanggapinya, “Apanya yang disiram-siram..” Kujawab saja,

“Masa sih nggak ngerti, ibarat pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan.

” Rony hanya terdiam dan tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Rony tentunya mengerti apa yang kuisyaratkan kepadanya.

Selesai urusan pembantuku, kami semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput kendaraan kantor.

Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon dari Rony. Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali kata-kataku tentang ‘siram menyiram’. Kukatakan padanya,

“Coba aja terjemahkan sendiri..” Sambil tertawa di telepon, Rony berkata, “Iya deh nanti Rony yang siram..”

Tepat jam 21:00, Rony sudah datang menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku mencoba memancing reaksi Rony dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke penisnya.

Kurasakan penisnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman Ria Remaja Senayan, Rony membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget, dan mencoba bertanya,

“Ron, kok berhenti di sini sih..?” Rony menjawab, “Nggak apa-apa kan, sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian ngobrol lagi soal siram-siraman.” Aku mengangguk dan menjawab, “Iya boleh juga Ron..”

Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Rony menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih mendapat perlakuan ini.

Setelah berhenti sebentar membeli dua cup coca cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Rony ke tempat yang agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.

Setelah mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Rony membuka pembicaraan dengan kembali mengulangi pertanyaannya.

“Berapa lama Mas Zali tugas di luar kota.?”

Kujawab, “Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ron?

“Apa Ambar nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal Mas Zali?” kata Rony.

“Yah tentunya normal dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram.” kuulangi jawaban yang sama sambil kupandang wajah Rony dengan ekspresi menggoda.

Tiba-tiba Rony meletakkan tangannya di pundakku dan dengan beraninya menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani lumatan bibirnya dengan penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Rony bertanya,

“Oh Ambar sangat cantik, boleh nggak Rony mengisi kesepian Ambar?”

Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, “Oh.. Ri, boleh saja, Ambar memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan..”

Sambil berciuman, tangan Rony membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin puting susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya.

Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana dalamku yang sudah basah, ia memasukkan jari-jari tangannya mempermainkan klitorisku.

Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku mengerang, “Oh.. oh Ronn, aduh Rony pinter sekali.. oh.. puaskan Ambar Ronn.. Oh..” Dengan semangat Rony mempermainkan vaginaku sambil kadang-kadang ia melumat bibirku.

Tubuhku terasa terbang menikmati permainan jari-jari tangannya di vaginaku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari Rony masuk ke dalam lubang vaginaku. “Oh.. Ron.. aduh.. enaknya Ron.. oh terus Ri..” aku mengerang menahan kenikmatan. Mendengar eranganku, kedua jari tangan Rony makin mengocok lubang vaginaku dengan gerakan yang sangat merangsang.

Dan akhirnya, beberapa menit kemudian karena tak tahan, aku mencapai orgasme. “Oh Ron, aagh.. Ambar keluar Ron..” Kujilati seluruh permukaan wajah Rony dan kulumat bibirnya dengan nafsuku yang masih tinggi.

Rony masih tetap memainkan kedua jarinya di dalam vaginaku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Rony yang menyentuh daerah-daerah sensitif di dalam lubang vaginaku, membuatku orgasme sampai tiga kali.

Kelihatannya Rony begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh.

“Ambar.. boleh nggak Rony masukkan lontong Rony ke dalam apem Ambar?”

Walau aku sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, “Jangan di sini Ri, bahaya kalau ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang..”

“Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?” tanya Rony.

Kujawab saja, “Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah.”

Akhirnya Rony setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil berdiri kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah.

Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal melihatnya, kami berdua berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan pulang, kupeluk erat tubuh Rony, sambil jari-jari tangan kananku membelai dan meremas-remas lontongnya dari balik celananya.

Sesampainya di rumah, selesai mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi kebutuhan seksku. Kulihat kedua anakku sudah tidur pulas.

Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah dari tempat tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Rony masuk ke kamarku.

Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci secara perlahan dibuka orang. Kulihat Rony dengan sarung masuk. Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku.

Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Rony berkata, “Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam..” Tak berapa lama Rony mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir.

Ternyata Rony juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya lontongnya yang sudah mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Rony dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya.

Nafsuku semakin naik, begitu juga Rony karena nafasnya terdengar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Ambar.. Rony sudah nafsu.. Ambar haus kan.. Rony masukkan ya..” Aku pun sudah tidak tahan, “Oh Ron.. masukkan cepat lontongnya.. Ambar sudah nggak tahan.. Ohh Ron..”

Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Rony yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong papiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar basah itu.

Kurasakan lontongnya sampai menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. “Oh.. Ron.. aduh enaknya Ron.. oh gede Ron..” aku merintih, sambil kupeluk erat tubuh Rony. Kudengar pula rintihan Rony sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Ambar, enak sekali apem Ambar.. oh.. aagh..”

Dari cara permainannya, aku merasakan Rony belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia berbuat begini. Mungkin karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman lontong Rony, aku sudah mau mencapai orgasme.

“Oh.. agh.. aduh Ron.. cepatkan tusukannya Ron.. Ambar mau keluar.. oh…aagh..” Kurasakan Rony pun sudah mau orgasme. “Oh.. agh.. Mbak, Rony juga mau keluar.. oh.. aaaghh..” Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari penis Rony yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang vaginaku.

Kami berdua berpelukan erat merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Rony, “Terima kasih Ron, Mbak puas sekali..” Rony pun berbisik, “Aduh Ambar, baru pertama kali ini Rony rasakan enaknya apem.. Ambar puas kan..” tambahnya.

Kemudian, Rony mencabut lontongnya dari dalam lubang vaginaku. Aku berusaha menahannya karena aku ingin nambah lagi.

Rony berbisik, “Besok-besok aja lagi, sekarang Rony harus keluar.. takut ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan pipiku, Rony permisi keluar.

Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya Ron.. jangan sampai ketahuan orang lain..” Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Rony akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun mengucapkan terima kasih kepada papiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.

Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan adik papiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, karena saat itu memang tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel.

Saking puasnya menikmati permainan seks dari Rony, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Rony menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam vaginaku.

Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Rony ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan sperma Rony di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa.

Akibatnya setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Rony, saat kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Rony mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Rony tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap ingin menggugurkannya.

Keesokan paginya dengan diantar Rony, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga, dan harus menunggu tiga hari.

Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir jika ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Rony dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Rony menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Rony melanjutkan lagi hubungan seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Rony berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan keluarga di rumah.

Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali hubungan seksku dengan Rony, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan diriku.

Selain kejadian yang pertama kali, hubungan seksku dengan Rony yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami berdua melakukan di suatu siang hari dan saat malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap berhias diri mau pergi ke kantor.

Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Rony, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya.

Tanpa sepengetahuanku, saat aku memakai make-up, tiba-tiba Rony masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku dalam posisi telanjang bulat.

Diciumnya pundak belakangku, sambil tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku. Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Rony dengan penuh nafsu.

Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.

Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong tubuh Rony duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu.

Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya lontong Rony yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang itu, aku merintih dan berdesah,

“Oooh.. aaaghh..” Rony tak mau ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku.

Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat itu Rony merintih, “Oh.. oh.. Ambar, Rony mau keluar.. oh..”

Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong Rony menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku. Tubuhku terasa terbang merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu.

Kemudian kukeluarkan lontong Rony dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Rony yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua.

Tak berapa lama kemudian lontong Rony kembali keras. Kemudian kuminta Rony menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Rony memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang.

Betapa nikmatnya kurasakan lontong Rony menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Rony mempercepat tusukan lontongnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Rony yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku.

Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan tusukan-tusukan lontongnya, aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ron, tembus Ron.. aagh.. Ambar mau keluar lagi, cepatkan Ron.. oh.. aaghhh..” Ternyata Rony pun mau keluar. Ia pun merintih, “Oh.. augh.. Ambar, Rony juga mau keluar.. aduh.. Ambar.. bareng ya.. oh..” Beberapa saat kemudian, secara bersamaan aku dan Rony mencapai orgasme. Kurasakan kembali semprotan sperma Rony yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.

Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Rony mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang.

Malamnya sesuai janji via telepon, kembali Rony masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, karena khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Rony yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Rony di dalam vaginaku.

Selanjutnya, persetubuhanku dengan Rony yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku menginap di rumah orang tuaku.

Sesuai janji via telepon Rony datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir kepada Rony. Selesai acara TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur.

Kini di ruang tamu, tinggal aku dan Rony duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek Ibuku.

Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, aku kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Rony.

Tak lama kemudian Rony sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah tidur, Rony mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku.

Aku menggelinjang dan merintih, “Oh.. Ron.. enak sekali.. Ronn.. oh terus Ronn..” Aku tak mau kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya semakin keras.

Kemudian kusuruh Rony berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Rony lebih keras dan besar dari biasanya.

“Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ron lontongnya?” Rony berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan penuh nafsu.

Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Rony duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku.

“Wow.. aduh Ron.. gede banget dan enak Ronn, lontongnya.. aduh.. oohh..” aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan lontong Rony.

Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme karena tak tahan merasakan lontong Rony yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style.

Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Rony masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang ketiga kalinya.

Dengan masih mempertahankan lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Rony menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah kusiapkan.

Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya saat Rony menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Rony.

Mungkin lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Rony keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas.

Kurasakan juga kehangatan sperma Rony yang masih ada di dalam vaginaku. Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Rony adik papiku adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, papiku sudah kembali ke rumah.

Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Rony. Karena memang sudah diijinkannya, aku berterus terang mengaku.

Pada mulanya papiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu hubunganku dengan Rony praktis terputus. Namun, Rony masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi.

Hal itu ia lakukan beberapa kali via telepon saat papiku ke kantor. Walau sebenarnya aku sendiri masih menginginkannya, namun ajakan Rony tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika papiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi.

Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar.

Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, papiku selalu meminta aku untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu.

Ia kerap bertanya posisi apa saja yang aku dan Rony lakukan saat berhubungan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma Rony dlsb.

Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks papiku semakin meningkat dan ia meminta aku mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Rony.

erus terang, gairah seksku pun semakin meningkat saat harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara hubungan seksku dengan Rony.

Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya jika orang menerjemahkan arti kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan indah keluarga utuh’.
Cerita 17+ / Cerita 18+ / Cerita ABG / Cerita Dewasa / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa