Cerita Dewasa Blowjob Muncrat di Wajah | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Dewasa Blowjob Muncrat di Wajah

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update :Cerita Sex | Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – Muncrat di Wajah. Desaku ini adalah desa yang terpencil akses untuk menuju kesana harus melewati hutan dan semak belukar kurng lebih 40 km dari jalan besar, dan hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki, di desaku mempunyai tradisi yang kalau bahasa seks nya adalah threesome yaitu hubungan 3 orang, unik sekali desaku itu.

Cerita Dewasa Blowjob Muncrat di Wajah
Cerita Dewasa Blowjob Muncrat di Wajah

Awal cerita begini Ayahku adalah anak kedua dari tiga saudara yang semuanya laki-laki sedangkan aku anak tunggal dikeluargaku, meskipun aku tumbuh di desa tetapi sebagai anak tunggal aku tidak pernah kekurangan bahkan kalau hanya gizi keluargaku sangat berlebih.

Sehingga aku tumbuh sebagai anak yang cukup”bongsor”. Walau umurku baru empat belas tahun tinggi badanku sudah lebih tinggi dari ayahku dan di desaku anak-anak seumurku rata-rata baru disunat mungkin karena jauh dari Puskesmas dan tenaga kesehatan.

Uwak (Pak de Jawa) mempunyai anak dua orang semua cewek dan pamanku mempunyai anak satu orang juga cewek. Ketika itu aku baru tamat SD dan seperti tradisi di desa kami aku akan di sunat, saat itu umur ayahku kira-kira 40 tahunan tentunya pamanku lebih muda lagi.

Istri paman yang biasa aku panggil bulek’ Irah adalah wanita asal sedesa sebagaimana wanita desa yang kegiatannya sehari-hari kesawah bulek’ Irah ini mempunyai badan yang bagus singset dengan perut yang kencang dan badan yang benar-benar seksi meskipun kulitnya agak kecoklatan namun masih ayu di usianya yang masih 30 tahunan.

Sebagaimana biasa bila dalam satu keluarga ada yang mengadakan pesta maka semua kerabat kumpul membantu apalagi bila ada pesta. Waktu aku sunat maka keluarga Uwak dan paman semua kumpul dirumah kami dan setelah pesta usai baru satu persatu mereka pulang.

Menurut tradisi desa kami jika ada anak laki-laki sunat maka yang mengurus segala kebutuhan dan merawat harus istri pamannya, maka akupun harus diurus istri pamanku. Karena rumah kami cuma berjarak kurang lebih 50 meteran maka untuk memudahkan tugas bulek’ Irah aku diboyong ke rumah paman.

Akupun tidak merasa canggung ketika bulek’ memandikan atau memberikan obat sulfanilamid ke luka bekas sunatku. Sampai suatu ketika pada hari ke tujuh aku sunat lukaku benar-benar sembuh dan kontolku sudah nampak gagah dengan topi baja yang mengkilat.

Karena merasa sudah sehat aku bermaksud mandi sendiri dan kamar mandi kami cuma terbuat dari bambu yang dianyam namun untuk sumur dan bak mandi sudah di semen.

“Ndo, (aku biasa dipanggil LONDO alias Belanda karena aku tinggi dan rambuntuku kemerahan) kamu belum boleh mandi sendiri lho.”, tegur bulek’ ketika aku mengambil handuk dan peralatanku mandi pada sore hari ketujuh.

“Memang kenapa bulekk?”

“Ihh pemali belum selasai masa pengasuhan bulek’ nanti kita kena tulah”, jawab bulek’.

“Jadi… bulekk ”

“Ya kamu masih harus dimandiin bulek’”, kemudian bergegas bulek’ menghampiriku serta mengajakku masuk bilik mandi.

Sebagai wanita desa bulek’ biasa hanya mengenakan kemben dari kain, dan sore itu seperti biasa bulek’ mengenakan kemben yang menutupi dadanya hingga lutut, kalau selama saya masih belum sembuh saya dimandikan sambil duduk di kursi kayu sekarang saya berdiri dan seperti biasa akupun tanpa canggung ketika harus telanjang didepan bulek’ku.

Pelahan bulek’ mulai menyiramkan air ke tubuhku yang telanjang dan dengan sendirinya badannya yang masih terbungkus kainpun ikut basah, dan seperti biasa bulek’ mulai menyabuni badanku sambil sesekali posisinya merapat bila menyabun bagian belakang badanku tanpa sengaja dadanya yang suda basah kadang menempel di badanku, ada perasaan yang berdesir ketika payudaranya yang tidak terlalu besar menempel di dadaku terasa masih kenyal hangat dan lembut, tanpa terasa burungku perlahan mulai tegang. Begitu bulek’ membungkuk untuk menyabuni badanku yang bawah ia langsung teriak.

“Ahhh… Kamu sudah dewasa Ndo..”, serunya sampil dia memegang burungku dan di usapnya pelan-pelan, aku menjadi kaget karena serasa seluruh tubuhku bergetar dan aku hanya bisa mendesis karena tidak tahan merasakan nikmatnya burungku ditangan bulek’ku.

bulek’ lalu berjongkok dihadapanku denga posisi wajahnya pas di depan selangkanganku bahkan mulutnya persis didepan burungku. Tangan kirinya masih mengusap-usap dan dan tangan kanannya meremas-remas buah zakarku.

Sambil komat-kamit entah apa yang dilakukan kemudian dia meniup burungku, kemudian mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku.Lidahnya berputar-putar dikepala burungku. Aku mendesis merasakan nikmat dan kegelian yang membuat batang penisku semakin tegang.

“Ohh… Bullekkk…”, desahku tertahan secara reflek tanganku memegang kepala bulek’ku yang berambut panjang hingga ikatannya terlepas maka tergerailah rambut bulek’ku yang panjang sampai ke pinggul, posisi duduknya yang jongkok membuat kemben bulek’ kendor dan melorot sehingga tersembulah payudaranya yang kencang mengkilap terkena air sabun dan tiba-tiba bulek’ mulai memasukkan kontolku kemulutnya.

Mulutnya penuh sesak oleh kepala burungku yang membesar pada ujung topi bajanya. Burungku dikeluar masukan di mulut bulek’ sungguh nikmat yang baru pertama kali ini aku rasakan.

Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang dan tanpa dapat kutahan kepala burungku serasa mau meledak secara reflek kudorong kepala bulek’ku menjauh tapi justru bulek’ memasukkan semua burungku kedalam mulutnya dan… Crot…crot…crot… bulek’ sari semakin cepat mengocok dan mengulum burungku.

Dengan menjerit panjang, aku tumpahkan semua cairan dari burungku ke dalam mulut bulek’.
“Ohh…, ke..na..pa ku ini aku ini bulek…”, tanyaku pada bulek’. bulek’ tersenyum ke arahku dengan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa cairanku yang keluar. “Itu tandanya kamu sudah dewasa Ndo… yang kau keluarkan tadi namanya pejuh (sperma)”, jelas bulek’ku sambil berdiri disampingku sudah tanpa selembar kainpun.

“Kenapa bulek’ telan?”, tanyaku bengong.

“Itu syarat Ndo… Nanti malam bulek’ akan berikan yang lebih enak lagi”, tambahnya sambil memelukku demi dipeluk wanita telanjang dan dadanya yang kenyal hangat dan halus menempel dikulit dadaku burungku lansung bangkit lagi dan tepat menyentuh bawah perut bulek’ku.

“Waah anakku benar-benar sudah menjadi pria yang jantan”, kata bulek’ku sambil tangannya menggenggam burungku. Kemudian bulek’ menyelesaikan acara memandikan aku terus memandikan dirinya dan setelah itu aku disuruhnya memakai sarung sedang bulek’ keluar dari kamar mandi masih memakai kainnya yang basah. Didepan pintu kami ketemu paman, tapi paman hanya mengernyitkan alisnya.

“Sudah kok pak anak kita sudah menunjukan kedewasaannya”, kata bulek’ kepada paman.

“Oh ya… kalo begitu nanti malam bapak mulai keladang aja ya bun”, jawab paman.

“Tapi bapak harus ajari anak kita dulu baru berangkat.”

“Ya nanti bapak yang ajari ya Ndo”, kata paman padaku.

Aku sendiri cuma bengong tak tahu pembicaraan mereka tapi yang jelas burungku masih berdiri kencang dibawah kain sarungku.

Malam itu selepas jam 7malam habis makan kami berkumpul di balai-balai ruang tengah bulek’ hanya memakai kain sarung yang dililitkan di atas payudaranya sehingga separuh pahanya nampak putih dan bungkusan kain itu menambah tubuh bulek’ makin seksi dalam pandangan mataku.

Paman seperti biasa memakai kolor longgar tanpa pakai baju nampak otot-otot perutnya yang kekar dan memang pamanlah orang yang paling kekar di desaku, diusianya yang masih belum 40 tahun pamanku adalah laki-laki paling gagah, aku masih seperti habis mandi tadi masih bersarung karena belum berani pakai celana.

Dinda anak paman sudah tidak ada lagi rupanya sejak siang ia sudah berada di rumahku dan menginap disana.

“Bun… mari kita mulai saja biar bapak nanti tidak kemalaman”, ujar paman.

“Ayo pak… bunda juga sudah siap kok”, kemudian bulek’ melepaskan kainnya sehingga telanjang bulat dan berbaring di balai-balai berbantalkan bantal kapuk randu.

Melihat tubuh bulek’ku yang singset dengan perut yang rata, payudaranya yang indah mencuat ke atas serta selangkangan yang ditumbuhi bulu hitam lebat spontan burungku berontak naluriku mengatakan inilah kenikmatan yang akan aku dapatkan sebagaimana dijanjikan bulek’ siang tadi.
Cerita 17+ / Cerita 18+ / Cerita ABG / Cerita Dewasa / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa