Cerita Dewasa Bibi & Pembantu HOT | Berani Bugil
Agen Capsa
Bandar Q
Breaking News
agen bandarq online

Cerita Dewasa Bibi & Pembantu HOT

VIMAX Bandar Capsa

Situs yang menyediakan cerita dewasa dan foto hot secara gratis dan selalu update : Cerita Dewasa Hot | Cerita Ngentot | Cerita ABG | Cerita Syur Panas | Cerita Seks Dewasa – Bibi & Pembantu HOT. Perkenalkan namaku Eric aku setelah lulus dari SMU aku melanjutakan ke Surabaya disana aku punya saudara dari Ibuku, namanya Bibi Rini, aku disuruh tinggal disana oleh orangtuaku karena takut kalo ngekos kut dala pergaulan bebas. Cerita Sex Dewasa

Cerita Dewasa Bibi & Pembantu HOT
Cerita Dewasa Bibi & Pembantu HOT

Pamanku adalah seorang pengusaha kaya, dia sering keluar kota untuk mengurus bisnisnnya, rumah pamanku sungguh luas dimana didalamnya ada kolam renang dan lapangan tenisnya, Paman dan Bibiku sudah 4 tahun tbelum dikarunia anak, maka dari itu Bibiku senang bila aku tinggal dirumahnya.

Selain bibiku dan pamanku, di sana juga ada 3 orang pembantu 2 cewek dan 1 cowok. Bibiku umurnya 31 tahun tapi masih cantik dan bodinya seperti gitar spanyol, wajahnya mirip Meriam Belina. Dan ke-2 pembantu cewek tersebut yang satu janda dan yang 1 sudah bersuami, sedang yang cowok berumur 20 tahun.

Suatu hari ketika kuliahku sedang libur, paman dan bibiku sedang keluar kota, pintu kamarku diketuk oleh Ferlina si janda tsb, “Den Riko itu ada kiriman paket dari Jakarta”. Lalu aku keluar dan menerima paket tsb.

Karena tertarik kubuka isinya ternyata isinya alat-alat seks ada penis dari karet, ada oil pelumas dan juga ada 5 VCD. Waktu kubuka paket tersebut Ferlina ada di sebelahku dan wajahnya memerah begitu tahu isinya.

“Wah ternyata Jeng Rini hot juga ya Den”, celetuknya Rini adalah nama bibiku.

“Entahlah mungkin aja paman udah loyo…, tapi gimana kalau nanti malam kita setel VCD ini mumpung yang punya lagi pergi..”, kataku sambil mengamati wajahnya yang manis.

“Itu film apaan sih”.

“Entahlah tapi nanti kita nontonnya berdua aja biar nggak dilaporkan ke paman ok”

Malamnya jam 21.00 setelah semua tidur Ferlina ke ruang tengah, dia memakai pakaian tidur yang tipis sehingga kelihatan CD dan BH-nya.

“Eh, apa semua sudah tidur”, tanyaku.

“Sudah Den”, jawabnya.

Lalu aku mulai menyetel itu film dan ternyata itu film pribadi bibiku, waktu itu Bibi dan paman sedang bercumbu dengan alat-alat seks tersebut, penis karet yang panjang itu menancap di vagina Bibi dan penis paman diisap oleh Bibi tapi anehnya penis paman tetap kecil.

“Eh kok yang main film Jeng Rini dan Den Budi?”, gumannya setengah bertanya padaku.

“Wah kelihatanya paman itu impoten masa diisep begitu nggak berdiri”, sahutku sambil aku mengeluarkan penisku.

“Nih wong aku yang lihat aja langsing berdiri kok”.

“Ih, Aden jorok ah”, sahut Ferlina ketika penisku aku dekatkan ke wajahnya. Aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya dan dia hanya mau menciuminya mula-mula di sekitar batangnya lalu dia mulai menjilati kedua telurku, wah geli sekali dan dia mulai mengisap penisku pelan-pelan, ketika asyik-asyiknya tiba-tiba Hani pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah dan dia terkejut ketika melihat adegan kami.

Kami berdua jadi berhenti sebentar, “Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya awas kalau lapor”, ancamku.

“Iya Den”, jawabnya sambil matanya melirik penisku yang masih berdiri tegak.

“Kamu di sini aja lihat film itu”, sahutkku. Dia diam saja. Lalu tanganku melucuti semua baju Ferlina dan dia diam saja. Kemudian dia kurebahkan di sofa panjang dan aku mulai menjilati vaginanya, ternyata vaginanya sudah sangat basah.

“Den…, oh den nikmat..”, rintihnya, aku melirik Hani dia dadanya naik turun melihat adegan kami.

Setelah Ferlina puas, lalu aku berdiri dan kumasukkan penisku pelan-pelan. “Bles..”, amblas semua batangku dan Ferlina berteriak kenikmatan. Kupompa pelan-pelan vaginanya sambil menikmatinya, licin sekali rasanya.

“Sini daripada bengong aja mendingan kamu ikut…, ayo sini”, kataku pada Hani. Lalu dengan malu Hani menghampiri kami berdua.

Aku ganti posisi Ferlina kusuruh nungging dan kugarap dia dari belakang sehingga ke dua tanganku bergerilya di tubuh Hani. Ketika sampai di CD-nya ternyata CD-nya sudah basah semua. Aku ciumi mulutnya, lalu aku isap putingnya.

Dia kelihatan sudah sangat terangsang. Aku menyuruhnya melepaskan semua pakaian yang di kenakan. Saat itu aku merasakan penisku tersiram oleh cairan hangat. Oh, dia sudah orgasme pikirku dan gerakan Trisnipun melemah.

Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina Hani dan ternyata lebih nikmat punya Hani, lebih sempit lubangnya. Mungkin karena jarang bersetubuh dengan suaminya pikirku.
Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina Hani itu bisa menyedot dan mengisap, seperti diremas-remas rasanya penisku.

“Uh nikmat banget sih kamu apain itu memekmu heh”, kataku dan Hani cuma tersenyum, lalu kupompa dengan lebih semangat.

“Den ayo den lebih cepat nih”, dan kelihatan bahwa Ernipun mencapai klimaks.

“Ih…, ih…, ih…, hmm..” rintihnya. Lalu kudiamkan dulu penisku biar meraskan remasan vagina Hani, lalu kucabut dan Ferlina langsung mendekat dan dikocoknya penisku dengan tangannya sambil diisap ujungnya, dan ganti Hani yang melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depankku dan aku merasakan sudah mau keluar.

“Aku nggak tahan lagi nih…”, lalu Hani mengocok dengan cepat dan, “Crooot…, crooot…, crooot…, crooot”, keluar semua maniku empat kali semprotan dan kelihatannya dibagi rata oleh Hani dan Ferlina. Akupun terkulai lemas.

Selama sebulan lebih aku bergantian menyetubuhi mereka, kadang-kadang kami melakukannya bertiga. Dan pada hari itu paman memanggilku.

“Rik paman mau ke Singapore ada keperluan kurang lebih 2 minggu kamu di rumah saja nemanin Bibi kamu ya”, kata pamanku.

“Iya deh aku nggak akan dolan-dolan”, jawabku.

Bibi tersenyum padaku kelihatan senyumnya itu menyembunyikan sesuatu pikirku. Akupun sebenarnya ingin merasakan tubuh bibiku tapi karena tidak ada kesempatan selama ini aku tahan saja. Akhirnya aku punya kesempatan nih pikirku.

Malam harinya selesai makan malam dengan Bibi, aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah dan Bibi menghampiriku dia berkata, “Ric, waktu aku pergi sebulan yang lalu apa kamu nggak dapat paket?”.

“Eh anu, aku nggak dapat kok”, jawabku dengan gugup.

“Kamu bohong…, ini buktinya”, sambil dia menunjukkan penis karet tsb. Ternyata penis karet tersebut sudah jatuh ke tangan bibi, karena barang tersebut sebetulnya di minta oleh Ferlina.

“Anu kok Bi, waktu itu memang aku terima tapi”.

“Sudah kamu itu memang suka bohong ya lalu mana VCD-nya?”.

“Aku simpan kok Bi buat aku setel jika aku kepingin, habis Bibi hot banget sih di film itu”, jawabku.

“Dasar anak kurang ajar”, wajahnya langsung memerah.

“Kan Bibi saja belum lihat itu film, ayo kamu ke kamar ambil itu VCD” suruhnya, lalu aku ke kamar untuk mengambilnya.

“Ini Bi, tapi jika Riko pinjam lagi boleh kan Bi”, kataku.

“Kamu jika ingin lihat lagi langsung saja nggak usah pakai di film segala”.

“Ayo sini ke kamar Bibi nonton langsung saja” jawab bibi.

Akupun langsung masuk ke kamar Bibi dan di kamar itu, “Sebentar aku mau ganti baju dulu”, kata Bibi dan dengan enaknya Bibi telanjang di depanku. Aku yang sudah ereksi dari tadi langsung aku peluk Bibi dari belakang.

Dan kubelai-belai payudaranya, dia diam saja lalu kupelintir putingnya dan dia kelihatan sudah mulai terangsang. Aku tahu bahwa puting dan clitoris bibiku tempat paling suka dicumbui. Aku mengetahui hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku satunya gerilya di daerah vaginanya.
“Eh Rik nikmat juga belaian kamu”, katanya.

Lalu kubalik badan Bibi dan kamipun saling berciuman. Bibir bibi aku lumat dan.., wow, lidah bibiku menari-nari di mulutku. Lalu akupun disuruh telanjang oleh bibiku.

“Eh gedhe banget barang kamu Rik?”, mungkin bibiku jarang melihat penisku yang berdiri tegak, habis pamanku impoten sih.

Lalu dengan posisi 69 kami mulai bercumbu. Setelah puas langsung aku masukkan penisku ke dalam vaginanya “Bles”, masuk semua batangku dan bibikupun berteriak keenakkan, aku goyang pinggulku, kelihatan bahwa bibiku hampir mencapai klimaks.

Dia bertambah semangat ikut menggoyangnya, kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai di bawah ranjang dan kulihat dari kaca pinggul bibiku, aku jadi semakin terangsang dan kamipun keluar bersama-sama.

Bibi tersenyum puas, “Ric jangan kapok lho…, pokoknya seminggu minim 4 kali harus dengan aku, Ferlina dan Hani jangan kamu kasih lagi”.

“Iya bi…”, jawabku dengan malu-malu.

Sejak kejadian malam itu aku semakin lengket dengan bibiku. hampir tiap malam aku mengulangi lagi perbuatan itu, apalagi pamanku berada di Singapore selama dua minggu. Selama itu pula aku bermain dengan bibiku bak pengantin baru.
Cerita 17+ / Cerita 18+ / Cerita ABG / Cerita Dewasa / Cerita Dewasa Hot / Cerita Dewasa SMA / Cerita Ngentot / Kumpulan Cerita Dewasa